Home » FIKSI » Katanya Wakil Rakyat

Katanya Wakil Rakyat

wakil

Setiap lantun kata yang banyak terumbar dari bibir tebal penuh bau asap rokok, kadang sama sekali tak punya makna,

Hanya sekedar simbol kalau mereka sudah rapat yang katanya untuk membela rakyat, tapi rakyat yang mana

Saat caci muka keluar dari mulut yang katanya dewan terhormat dengan berkacak pinggang , mereka seperti berkaca pada prilaku hewan, sungguh ironis

Mereka hanya membuka gerbang untuk keselamatan dirinya dan kelompoknya tapi nuraninya sudah tertutup kerak yang sulit untuk dibersihkan lagi

Hanya itu yang mereka miliki, kepura-puraan

 

 

Tapi mereka menikmati setiap detik langkah mereka karena pundi-pundi kantong mereka semakin penuh

Entah uang darimana yang mereka raup yang penting pundi-pundi mereka penuh bahkan meluap

Igauan yang menodai hati nurani semua sudah tertutup dengan kepura-puraan yang akhirnya tak membuat mereka malu

Hanya berkaca jiwa pada meriahnya hingar bingar setelah menjadi orang kaya baru di bumi tempat dia berpijak

Hanya itu yang mereka miliki, kepura-puraan

 

 

Bernyanyilah duhai wakil rakyat, walau nyanyianmu begitu fals di telinga rakyat tapi nyanyianmu seakan tak mau berhenti

Terus mendendangkan lagu sendu yang menusuk hati nurani rakyat, pesta pora di gedung senayan bak selebretis yang baru ngetop

Kini rakyat masih menunggu sampai kapan pesta pora ini akan berakhir, sampai semua uang rakyat berkumpul di pundi-pundimu

Atau sampai kelak rakyat yang akan murka dan tak mau lagi berdamai dengan kepura-puraan dewan terhormat.

Lihat tinggal tunggu waktunya, rakyat akan bicara

 

 

Cirebon, 21 januari 2015

Untuk wakil rakyat yang katanya terhormat

 

Sumber gambar :http://liiurfm.com/site/main.php?page=1&id=0&bid=828

Facebook Comments
Telah dibaca 76 x , hari ini 1 x

About Hastira

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif