Home » FIKSI » Kartika Bulan Oktober

Kartika Bulan Oktober

303

-Kepada C.M. di Krapyak

 

(1)

Persis langit subuh. Sisa malam cemerlang oleh bintang kejora.

Hadirmu saat kegelapan melingkupi hidupku.

Dulu kunamai engkau pada puisi-puisi kehidupan:

“Kartika,” nama bintang timur kata orang-orang timur.

 

Kartika, engkaulah permata murni dari palung samudra,

tempat segala keindahan tercipta dan bersemayam.

Sudah lama aku pergi dari gemebyar malam, pergi ke kota-kota,

tempat dunia gemerlap tanpa kunang-kunang kesunyian.

 

Kini, kebisingan mengaduk-aduk batin dan pikiran.

Ingin aku kembali menemui yang indah dengan rekah bunga-

Bunga ladang dan hutan.

Lalu hadirlah engkau tanpa surat kejadian,

tanpa bahasa pertemuan bahkan tanpa sepatah kata.

 

Aku takjub dibuatnya saat kudengar suara langit menyebutmu,

denting bumi memuji segala pancaran sinarmu

sambil menyanyikan lagu-lagu perayaan musim panen raya.

Ruhku bangkit dari peti kegelapan, terbang menuju cahaya.

 

(2)

Persis seperti lukisan senja yang gagal menjadi sempurna.

Aku memberinya judul ‘kenangan’ dan hadirmu menjelma cahaya.

Cahaya yang menyempurnakan lukisanku.

Lukisan yang kulupakan di tempat yang entah,

aku juga tak ingat warna dan lekukan garis-garisnya.

Barangkali sudah lenyap bersama gelapku.

 

Kepadamu kukembalikan sisa masa lalu yang mengabu di udara

Aku yakin jika hadirmu yang cemerlang tak lain adalah kehidupan

Kini dan esok yang sebenarnya nyata.

Kehidupan yang memberi makna pada kefanaan hidupku.

 

Kartika, hadirmu yang murni dan agung telah aku tulis sempurna

Menjadi ayat-ayat jiwa wanusia, sebagaimana kisah-kisah penuh hikmah

Dalam kitab-kitab kejadian dan wahyu-wahyu Tuhan.

Sebab engkau sang pemberi kekuatan dan kesuburan bagi semestaku.

Aku menyaksikannya dari pancaran sepasang logam mulia

Di kedua kelopakmu. Sungguh santun dan bijaksana.

 

“Aku ingin melihatmu dekat dan lekat. Tapi jangan menatapku!”

Hatiku berkata. Kata yang tak akan bisa kau dengar.

Kemudian ada getar lain di lingkupku setelah kudengar bisikmu

Lewat isyarat dan tanda dari jari-jari mungilmu

Dan di setiap kau menggerakkan sendi-sendi di tubuhmu.

 

“Aku ingin melihatmu dekat dan lekat. Tapi jangan menatapku!”

Kalimat serupa di bibirmu yang ranum oleh nafiri kalam-Nya

Menjatuhkan beban berat di otak dan hatiku.

Aku bisu dan kebu di tempatku.

Engkaupun membatu di hadapanku.

Kitapun sama-sama tersiksa

sebab tak bisa meninggalkan satu sama lain

 

Kartika, aku menikamti peristiwa besar ini

dan aku sangat tahu jika engakau menyembunyikan kebahagaiaan.

 

Yogyakarta, Oktober 2012-Oktober 2013

 

 

 

Telah dibaca 43 x , hari ini 1 x

About SEL-IMAN

Leave a Reply

Your email address will not be published.