Home » IMTAK » Religi & Iman » RENUNGAN RAMADHAN : Pak Kades Memutus Perkara

RENUNGAN RAMADHAN : Pak Kades Memutus Perkara

Ada seorang pedagang sapi yang kebetulan membeli sapi ke desa kami dan terpaksa bermalam di Wisma Desa. Karena takut kehilangan sisa uang pembelian sapi ini, ia membungkusnya dengan kain dan menitipkannya pada pemilik wisma. Ia memberitahu pemilik wisma bahwa itu hanya batu-bata dan besok ia akan mengambilnya kembali.

Keesokan harinya ketika akan berangkat, ia meminta bungkusan itu dari pemilik wisma. Ketika dibukanya, betapa terkejutnya ia karena isinya benar-benar batu-bata. Dia segera menanyakan kepada si pemilik wisma,” Mana uang saya? Mengapa sekarang berubah menjadi batu bata?”

Pemilik wisma berkata,” Ketika anda menyerahkan bungkusan ini kepada saya, anda sendiri yang mengatakan bahwa bungkusan ini hanya batu-bata.”

Kedua orang tersebut pun akhirnya bertengkar. Pedagang sapi tidak memilik bukti atau saksi bahwa dia betul-betul meletakkan uang di dalam bungkusan itu. Satu-satunya cara adalah dengan membawa perkara ini ke Kepala Desa.

Pedagang sapi lalu bercerita,” karena takut orang mengambil uang saya, maka saya menitipkannya ke pemilik wisma dan tak lupa saya akatakan bahwa itu hanya batu bata untuk mengelabui agar pemilik wisma tak penasaran. Tapi sakarang saya yakin dia sudah menukarnya dengan batu bata sungguhan.”

Lalu Pak Kades bertanya kepada pemilik wisma,” sekarang coba sampaikan pendapatmu!”

Pemilik wisma segera menjawab,” Saya tidak tahu kalau isinya uang. Sewaktu menitipkan pada saya, ia mengatakan bahwa isinya batu-bata. Jadi kalau sekarang pada saat dibuka ternayat isinya batu bata beneran, berarti memang isinya batu bata Pak Kades. Dia itu Cuma mau cari gara-gara saja supaya tidak bayar uang penginapan.”

Pak Kades mendengarkan masalah itu dengan seksama sambil melihat raut muka keduanya dan merasa mereka mempunyai alasan yang kuat. Setelah menimbang-nimbang, Pak Kades akhirnya mengambil Spidol dan menuliskan “Uang” ditangan si pemilik wisma. Lalu menyuruh si pedagang sapi keluar lewat pintu belakang dan menunggu di luar sampai dipanggil masuk.

Pak KAdes lantas menyuruh pemilik wisma,

“ Berdirilah di bawah sinar matahari sampai saya memanggilmu kembali. Kalau tulisan itu hilang, berarti benar kamu telah menghilangkan uang si pedagang sapi itu. Kalau tulisan itu masih ada, bararti kamu jujur. Sekarang silahkan keluar dan tunggu perintah selanjutnya!”

Mendengar arahan tersebut, si pemilik wisma dengan penuh kepastian melangkah ke luar ruangan dan berdiri dibawah sinar matahari.

Diam-diam Pak Kades telah mengutus soerang Hansip untuk menjemput istri dari pemilik wisma ke Balai Desa dan berkata,” Suamimu telah mengaku bahwa ia yang telah mengambil uang si pedagang sapi itu. Sekarang cepat kembalikan uang itu!”

Tetapi istri si pemilik wisma tak percaya begitu saja pengakuan Pak Kades bahwa suaminya telah mengakui perbuatannya itu. Jadi dia tidak berkata sepatah katapun.

“Wah.. Ternyata kamu istri yang Solehah ya.. Mampu menjaga amanah yang telah dittitipkan kepadamu,” kata Pak Kades.

Sesaat kemudian Pak Kades berteriak kepada pemilik wisma yang masih berdiri diluar,”Apa uangnya masih ada?”

Si pemilik wisma mengira uang yang dimaksud Pak Kades adalah tulisan ‘uang’ yang ada di telapak tangannya. Jadi ia menjawab dengan lantang,” Masih ada Pak Kades!”

“ Tuh.. benarkan! Uangnya masih ada. Pasti ada sama kamu. Iyakan!” kata Pak Kades.

Karena mengira suaminya benar-benar telah mengaku, akhirnya istri pemilik wisma buka suara juga.

“ Ya.. Saya mengaku bersalah! Kamilah yang mengambil uamh si pedagang sapi tersebut dan menukarkannya dengan batu bata. Saya berjanji akan mengembalikan uang itu Pak Kades.”

Istri pemilik wisma segera berlari pulang. Sementara itu, Pak KAdes mempersilakan si pemilik wisma untuk masuk kembali. Ia sama sekali tidak tahu bahwa beberapa saat yang lalu istrinya baru saja dari ruangan itu.

Pak Kades berkata kepada si pemilik wisma,” Sekarang masalahnya sudah jelas. Beberapa saat lagi kita akan tahu yang sebenarnya!”

Pemilik wisma menjadi cemas. Sesudah itu dipanggil juga si pedagang sapi masuk dan Pak Kades pun berkata,” Masalahnya sudah hamper selesai, sekarang silakan anda duduksaja dahulu.”

Si pedagang pun duduk sambil kebingungan

Tidak lama setelah itu, melalui pintu depan, istri si pemilik wisma membawa sejumlah uang. Pak Kades pun mengumumkan bahwa masalah sudah selesai. Si pedagang sapi pun memperoleh kembali uangnya.

 

RENUNGAN KITA HARI INI:

Di antara yang menjadi isu peradaban ialah keadilan, al-‘adâlah, al-‘adl. Dalam al-Qur-an disebut juga istilah al-qishth atau al-mizan (keseimbangan). Dalam surah Arrahman ayat 7, kata-kata mizan dikaitkan dengan keadilan.

 

Ajaran Islam jika didalami secara teliti, kita dapati bahwa inti dari semua ajarannya bertumpu pada satu kata “keadilan”. Mengapa demikian? Karena keadilan adalah sentra kehidupan, di mana kehidupan akan mengalami kehancurannya tanpa tegaknya keadilan. Dengan kata lain, sesungguhnya tiada kehidupan tanpa keadilan itu sendiri.

 

Kenyataan di atas didukung oleh ayat dalam al Qur’an (S. Ar Rahman:7-9). ” Dan Allah Telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”

 

Allah menggambarkan bahwa alam semesta ini ditegakkan dengan sebuah “keseimbangan” (mizan). Tanpa keseimbangan ini, alam semesta termasuk langit dengan segala perangkat celestial (kelompok planet) akan ambruk. Penggambaran ini dikembalikan kepada manusia agar tidak menghilangkan “keseimbangan” (keadilan)nya dalam hidup ini. Sebab jika itu terjadi, ambruklah kehidupannya. Manusia yang tidak adil alias zalim dalam kehidupannya akan mengalami kejatuhan, baik pada tataran individunya maupun pada skala sosialnya (moralitas). Akan ambruk pada aspek kehidupan ekonomi, politik, budaya maupun hankamnya.

 

Ada ungkapan menarik dari Fahmi Huwaydi (ulama terkemuka Mesir) dalam kitab Al-Qur’an wa Al-Sulthan: “Jika kita mencari padanan kata yang praktis, ringkas dan konprehensif dalam satu kata dari segala yang dikandung syariah, kita tidak akan menemukan padanan selain “keadilan”. Jika tauhid merupakan penyangga aqidah maka keadilan adalah penyangga syariah. Praktek keislaman yang benar tidak akan tuntas jika dua sisi tersebut tidak saling menguatkan. Selain itu, jika kita hanya membatasi pada salah satunya dan mengabaikan yang lain, maka hanya akan menghasilkan proses yang menyimpang dan bagaimanapun tidak akan mampu menegakkan praktek keislaman.”

 

Universalisme keadilan Islam terpatri dalam cakupannya, yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Manusia, dituntut adil tidak saja dalam berinteraksi dengan sesama manusia, tapi yang lebih penting adalah adil dalam berinteraksi dengan Khaliknya dan dirinya sendiri. Kegagalan berlaku adil kepada salah satu sisi kehidupannya, hanya membuka jalan luas bagi kesewenang-wenangan kepada aspek kehidupannya yang lain. Ketidak adilan dalam berinteraksi dengan Sang Khalik misalnya justeru menjadi sumber segala bencana kehidupan. Allah menjelaskan dalam firman-Nya pada surah Ar-Ruum: 41 ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

 

Kerusakan-kerusakan di atas, baik di darat maupun di laut dan bahkan diangkasa luar saat ini, karena ulah manusia itu sendiri. Mengapa manusia berbuat demikian? Allah menjelaskan pada ayat selanjutnya: ” Katakanlah: “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS.Ar-Ruum; 42).

 

Mengabdi kepada Allah secara tidak proporsional, di luar ukuran timbangan (mizan), juga dapat mengakibatkan kezaliman pada sisi yang lain. Mungkin kepada keluarga, orang lain, atau mungkin kepada diri sendiri. Kecenderungan “rahbanist” atau menihilkan kehidupan duniawi dengan alasan ibadah adalah suatu bentuk kezaliman di sisi lain. Shalat malam secara terus menerus, puasa sunnah tanpa berhenti, sengaja tidak mencari keutamaan Allah (fadhlullah) dalam dunia kekinian (materi), bahkan sebagian menilai menikahi wanita adalah bentuk “ketidak taatan”, adalah bentuk-bentuk kezaliman yang lain.

 

Keadilan dalam Islam juga tidak mengenal pembatas “kekeluargaan”, “pertemanan” dan bahkan “permusuhan” sekalipun. Keadilan harus ditegakkan, walau itu menyentuh kepentingan diri, keluarga, teman kita sendiri. Bahkan menurut al Qur’an, tegakkan keadilan itu walau demi memberikan hak kepada siapa yang kita anggap sebagai musuh. Dengan kata lain, “like and dislike” tidak boleh menjadi ukuran dalam penegakan keadilan dalam Islam.

 

” Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al Maidah: 8.

 

Ketika menafsirkan kalimat adil lebih dekat kepada takwa pada ayat di atas, Qurais Shihab mengingatkan bahwa keadilan dapat merupakan kata yang menunjukkan substansi ajaran Islam. Jika ada agama yang menjadikan kasih sebagai tuntunan tertinggi, Islam tidak demikian. Ini, karena kasih dan kehidupan pribadi apalagi masyarakat, dapat berdampak buruk. Misalnya kasihan pada penjahat Anda tidak menghukumnya? Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bila perlu kasih maka dengan adil bisa mencurahkan. Jika seseorang melakukan pelanggaran maka wajar mendapat sangsi yang berat, maka kasih tidak boleh berperanan karena dapat menghambat jatuhnya ketetapan hukum atasnya. Ketika itu yang dituntut adalah adil, yakni menjatuhkan hukuman setimpal atasnya. (M. Quraish Sihab, 2006:41-42)

 

MARI SEBARKAN KEPADA SESAMA MUSLIM SEBAGAI SEDEKAH RUHANIYAH KITA DAN SEMOGA MENAMBAH AMAL  JARIYAH KITA SEMUA

Facebook Comments
Telah dibaca 23 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif