Home » IMTAK » Religi & Iman » RENUNGAN RAMADHAN : Pak Sekdes Menghukum Anak Durhaka

RENUNGAN RAMADHAN : Pak Sekdes Menghukum Anak Durhaka

Suati hari di sebuah desa, Seorang Kades sedang di Balai Desa untuk menyelesaikan sebuah perkara. Penggugat adalah seorang wanita tua dan yang digugat adalah anak laki-lakinya. Wanita tua itu mengadukan anak lelakinya yang tidak mau memeliharanya bahkan menelantarkan hidupnya. Setelah mendengarkan penjelasan kedua belah pihak, Pak Kades memerintahkan si pemuda untuk setiap bulan menafkahi ibunya sebesar Rp 100.000. Namun si anak menolak karena menurutnya yang bertanggung jawab membesarkan anak adalah seorang ibu sedangkan si anak tidak berkewajiban sama sekali. Pak Kades marah besar, beliau memerintahkan aparat desa untuk mengusir pemuda tersebut dari desa.

Pak Sekdes yang ikut menyaksikan jalannya sidang tersebut begitu mendengar keputusan Pak Kades langsung angkat bicara karena mengganggap keputusan tersebut kurang tepat dan tidak bijaksana. Menurut Pak Sekdes, jika pemuda tersebut diusir dari desa tersebut, wanita tua itu akan tambah merana lagi. Karena itu dia berkata kepada Pak Kades,” Pak Kades, Bisakah hukumannya diganti?”

Pak Kades balik bertanya,” mengapa?”

Pak Sekdes menjawab,”Karena ada hukuman yang lebih tepat dan lebih bijaksana!”

Semua yang hadir dipersidangan itu menjadi penasaran. Apa sebenarnya hukuman yang terbaik bagi pemuda durhaka tersebut, yang hendak diusulkan oleh Pak Sekdes.

Pak Kades yang tidak kalah pensarannya bertanya kepada Pak Sekdes,” Menurut Bapak, kira-kira apa hukuman yang tepat dan bijaksana tersebut?”

Pak Sekdes kemudian berpaling pada wanita tua itu dan bertanya,” Ketika lahir berapa berat anak ibu itu?”

Wanita tua itu menjawab,” 3,5 Kg.”

Pak Sekdes berkata,” Anak adalah darah daging ibunya. Selama Sembilan bulan lebih berada dalam kandungan ibu. Kalau pemuda itu tidak mau merawat dan memelihara ibunya, maka dagingnya harus dipotong sebanyak tiga setengah kilogram.Potongan tiga setengah kilogram tersebut harus merupakan kumpulan potongan dari semua anggota tubuh pemuda tersebut.”

Mendengar pernyataan tersebut, segera dia berteriak ketakutan,” Ampun… ampuni saya Pak Kades.. Saya mengaku salah!”

Pak Kades bertanya padanya,” Kamu masih berani tidak untuk menelantarkan ibumu?”

Pemuda itu berkata,” Tidak berani lagi, Pak. Saya jamin ibu saya akan makan enak, memakai baju yang layak dan menikmati hari tuanya dengan baik.”

Pak Kades berkata dengan tegas,” Baiklah. Karena kamu berjanji untuk berubah, saya akan melepaskanmu. Tapi kalau sampai saya mendengar lagi kamu tidak memelihara dan merawat ibumu, saya akan segera memotong-motong dagingmu!”

 

Apa pelajaran yang dapat kita petik dari peristiwa diatas?

 

Keputusan Pak Kades memang baik, tapi efek dari keputusan tersebut jelas dapat menyengsarakan si wanita tua. Kalau pemuda tersebut diusir dari desa tersebut, otomatis ibunya akan sengsara. Pak Sekdes memberi jalan keluar dengan memotong-motong daging pemuda tersebut. Himbauan ini jelas membuat takut si pemuda hingga kemudian dia mengakui kesalahannya.

Setiap manusia di dunia ini dilahirkan oleh seorang ibu. Sudah sepatutnya menghormati, memelihara serta merawat orangtua terutama saat mereka memerlukannya.

 

Kewajiban anak terhadap orang -tua, yaitu berbuat baik, taat dan menghormat. Ini sesuai dengan panggilan fitrah yang harus dipenuhi dengan sebaik-baiknya.

Dan yang lebih hebat lagi ialah hak ibu, sebab dialah yang paling berat menanggung penderitaan waktu mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh.

Firman Allah Ta’ala:

“Dan kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapanya, ibunya telah mengandung dia dengan susah-payah dan melahirkannya dengan susah-payah pula; mengandung dan menyusuinya selama 30 bulan.” (al-Ahqaf: 16)

Diriwayatkan:

“Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi dan bertanya: Siapakah manusia yang lebih berhak saya kawani dengan baik? Ia menjawab: Ibumu! Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Ia menjawab: Ibumu! Dia bertanya lagi: Kemudian siapa lagi? Ia menjawab: Ibumu! Dia bertanya lagi: Kemudian siapa lagi? Ia menjawab: Ayahmu!” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Nabi anggap durhaka kepada dua orang tua itu sebagai dosa besar, sesudah syirik. Begitulah sebagaimana ungkapan al-Quran.

Oleh karena itu dalam hadisnya, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:

“Maukah kamu saya terangkan sebesar-besar dosa besar –tiga kali. Mereka menjawab: Mau, ya Rasulullah! Maka bersabdalah Nabi, yaitu: menyekutukan Allah, durhaka kepada dua orang tua –waktu itu dia berdiri sambil bersandar, kemudian duduk, dan berkata: Ingatlah! Omongan dusta dan saksi dusta.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

“Ada tiga orang yang tidak akan masuk sorga: 1) orang yang durhaka kepada dua orang tua; 2) laki-laki yang tidak ada perasaan cemburu terhadap keluarganya; 3) perempuan yang menyerupai laki-laki.” (Riwayat Nasa’i, Bazzar dan Hakim)

“Semua dosa akan ditangguhkan Allah sampai nanti hari kiamat apa saja yang Dia kehendaki, kecuali durhaka kepada dua orang tua, maka sesungguhnya Allah akan menyegerakan kepada pelakunya dalam hidupnya (di dunia) sebelum meninggal.” (Riwayat Hakim dan ia sahkan sanadnya)

Allah memperkuat pesannya untuk berbuat baik kepada dua orang tua ini, ketika kedua orang tua tersebut telah mencapai umur lanjut, kekuatannya sudah mulai menurun, mereka sudah mulai sangat membutuhkan pertolongan dan dijaganya perasaannya yang mudah tersinggung itu. Dalam hal ini Allah berfirman sebagai berikut:

“Tuhanmu telah memerintahkan hendaklah kamu tidak berbakti kecuali kepadaNya dan berbuat baik kepada dua orang tua, jika salah satu di antara mereka atau keduanya sudah sampai umur tua dan berada dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu katakan kepada mereka itu kata-kata ‘uff’ (kalimat yang tidak menyenangkan hati), dan jangan kamu bentak mereka, tetapi katakanlah kepada mereka berdua kata-kata yang mulia. Dan rendahkanlah terhadap mereka berdua sayap kerendahan karena kasih, dan doakanlah kepada Tuhanmu: Ya Tuhanku! Berilah rahmat mereka itu, sebagaimana mereka telah memeliharaku di waktu aku masih kecil.” (al-Isra’: 23-24)

Beberapa atsar (omongan para sahabat) menyebutkan dalam mengiringi ayat-ayat ini dengan mengatakan: andaikata ada kalimat yang oleh Allah dipandang lebih rendah daripada uff, niscaya Ia haramkan juga.

 

MARI SEBARKAN KEPADA SESAMA MUSLIM SEBAGAI SEDEKAH RUHANIYAH KITA DAN SEMOGA MENAMBAH AMAL  JARIYAH KITA SEMUA

Telah dibaca 26 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.