Home » TEKNO » Informasi dan IPTEK » Informasi » Figur Teladan » Relawan Donor Darah 100 Kali

Relawan Donor Darah 100 Kali

SRAGEN – Namanya Alib. Lelaki asal dukuh Ngrombo RT. 15 Desa Ngrombo, Kec. Plupuh Sragen ini boleh dibilang manusia langka. Betapa tidak. Selama tiga puluh tahun, tiap tiga bulan sekali ia selalu mendonorkan darahnya secara sukarela di markas Palang Merah Indonesia (PMI) Sragen, meski harus mengayuh sepeda onthel sejauh 20 kilometer dari rumahnya. Hingga sekarang, Alib yang sehar-harinya bekerja sebagai petani ini sudah mendonorkan darahnya 100 kali.

Karena dianggap berjasa bagi kemanusiaan dan semangat pengabdiannya patut diteladani, Alib menerima penghargaan khusus dari pengurus PMI Cabang Sragen, berupa sebuah sepeda onthel merk Phoenik. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Ketua PMI Cabang Sragen, dr. M.Farid Anshari, MM saat berlangsung upacara HUT ke-69 PMI, Minggu pagi (21/9).

Ratusan peserta upacara yang memadati halaman markas PMI Sragen berdecak kagum dan haru menyaksikan penyerahan penghargaan terhadap sosok relawan kemanusiaan yang di jaman sekarang mungkin dianggap “aneh” itu.

Direktur Unit Donor Darah (UDD) PMI Sragen, dr. Titie Isnarti, bahkan punya kesan tersendiri terhadap Alib. “Bagi teman-teman di UDD PMI Sragen, Pak Alib itu seperti saudara. Ketika Pak Alib datang untuk donor darah, teman-teman langsung menyiapkan minuman untuknya. Kasihan, beliau mengayuh sepeda onthel cukup jauh, keringatnya sampai berleleran”, cerita Titie tentang Alib.
Menurut Titie, Pak Alib orangnya amat sederhana dan jujur. Contohnya, ketika PMI Sragen memutuskan akan memberikan hadiah, Pengurus tidak langsung membelikannya tetapi mengajak Alib ke toko sepeda. Alib dipersilahkan memilih sepeda yang diinginkannya dengan perkiraan harga sekitar Rp. 3 juta. “Namun di luar dugaan, Pak Alib justru memilih sepeda merk Phoenik model pit kebo yang harganya Rp. 1,2 Juta saja”, kata Titie.

ALIB MANUSIA LANGKA
Sementara itu Alib bercerita, pertama kali menjadi donor darah sukarela ketika tetangganya membutuhkan darah saat menjalani operasi di sebuah rumah sakit. Saat itu dirinya diminta menjadi donor darah untuk membantu tetangganya. Sewaktu petugas medis menyatakan golongan darahnya cocok dan memenuhi syarat, ia pun siap.

Setelah donor darah pertama kali itu, ternyata ia merasakan tubuhnya makin sehat. Sesudah itu ia rutin mendonorkan darahnya melalui PMI Sragen. Jarak yang cukup jauh dan kendala transportasi tidak menghalangi niat Alib mendatangi markas PMI. Tiap tiga bulan, ia kayuh sepeda onthel menempuh jarak 20 kilometer. Padahal tahun 1980-an dulu kondisi jalan tidak semulus sekarang.

“Seingat saya, dari seratus kali donor darah di PMI Sragen, hanya dua kali saya naik Bus. Selebihnya saya selalu ngonthel pit jengki merk Phoenik dari rumah”, ujar Alib polos.

Itulah sosok Alib. Ketika banyak orang meminta fasilitas pelayanan untuk memberikan sumbangan, Alib menunjukkan teladan nyata. Ia tak menunggu dijemput petugas PMI untuk mendonorkan darahnya bagi kemanusiaan. Dengan penuh semangat ia berangkat sendiri dengan mengayuh sepeda onthel dari pelosok desa yang tandus di utara Bengawan Solo ke Kota Sragen.

Alib pernah menerima piagam penghargaan dari Gubernur Jateng atas pengabdiannya sebagai donor darah sukarela 50 dan 75 kali. Dan kini, ia diusulkan oleh pengurus PMI Sragen kepada Presiden RI untuk menerima penghargaan sebagai donor darah sukarela 100 kali.

Pria yang selalu tampil sederhana dan polos ini lahir tanggal 2 April 1964 dari pasangan Painem dan Bisri. Namun bungsu dari enam bersaudara ini hingga kini belum berkeluarga, alias masih membujang.

Sumber : sragenkab.go.id

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif