Home » TEKNO » Informasi dan IPTEK » Informasi » Pemuda dan Olahraga » Anak Muda dan Era Reformasi

Anak Muda dan Era Reformasi

Benih-benih sikap apolitis dan anti-pluralis itu tertanam sebagai wacana bagi anak muda Orba. Kondisi demikian terjadi sampai masa Reformasi 1998, di mana anak muda menjadi salah satu motor penggeraknya. Saat itu, anak muda memperoleh kesempatan menjadi politis kembali. Sayangnya, gerakan ‘98 tidak menghasilkan gerakan yang permanen. Tidak ada kaderisasi yang memadai setelah para aktifis ‘98 lulus. Gerakan mahasiswa juga seolah kehilangan arah, tanpa tahu dengan jelas mau dibawa ke mana Reformasi, mengingat sistem negara sudah berkembang menjadi demokratis namun perubahan dan perbaikan di segala bidang berjalan kurang progresif. Hak-hak asasi manusia masih jauh dari terpenuhi, sementara pemulihan perekonomian berjalan lambat. Malah sisa-sisa kekuatan Orba dapat mengkonsolidasi diri dan menunggangi proses demokrasi untuk lolos dari perubahan. Ada semacam ketidakpuasan dari kaum muda menghadapi kondisi yang stagnan ini, namun tidak tahu harus berbuat apa dan tidak ada wadah yang mampu menjadi saluran aspirasi mereka.

Menarik untuk dicatat bahwa ada sejumlah gerakan yang konsisten melakukan penentangan ketika Orba masih berkuasa dan terus bergerak ketika Reformasi berjalan. Dua dari gerakan itu adalah gerakan Islam militan dan gerakan para aktifis LSM. Anak-anak muda yang tidak menemukan tempatnya pada gerakan mahasiswa yang tidak mengalami kaderisasi itu ternyata justru menemukan wadahnya dalam gerakan Islam radikal. Ini dapat terjadi karena gerakan mahasiswa tidak punya struktur yang memadai, sementara status menjadi mahasiswa sifatnya temporer. Tanpa regenerasi yang baik, gerakan mahasiswa hanya menjadi gerakan temporer sampai semua aktifis ‘98 lulus kuliah.

Kontras dengan gerakan mahasiswa, gerakan Islam radikal saat itu telah lebih siap secara struktur dan secara historis karena mereka membangun gerakan mereka sejak Orba masih berkuasa. Mereka mampu memberikan wadah yang lebih permanen bagi anak muda yang gelisah pada nasib bangsa ini. Kaderisasi mereka berjalan baik dengan sistem gerakan yang sudah terbakukan dan metodis. Ketika ada anggota baru yang masuk, mereka sudah siap dengan sejumlah doktrin dan metode gerakan layaknya Multi Level Marketing. Kelompok radikal ini bukan hanya memberi identitas jelas kepada anggotanya. Mereka memiliki jaringan bisnis retail seperti mini market atau toko buku dan memberikan keamanan ekonomi bagi anggotanya (Jaringan Kerja Budaya 2000: 161). Sehingga generasi muda yang ingin jadi aktifis dalam gerakan mereka tidak menghadapi dilema antara menjadi aktifis atau memenuhi kebutuhan ekonominya. Keduanya dapat dijalankan secara serempak.

Hal-hal di atas itulah yang tidak dimiliki oleh gerakan kedua, yaitu gerakan LSM. LSM pada awal reformasi mencurahkan perhatian mereka pada persoalan penegakan hak asasi manusia dan pelanggaran masa lalu. Mereka hampir melupakan kaderisasi anak muda untuk menjadi bagian dari kegiatan mereka. Ada sejumlah gerakan aktifisme yang memang melibatkan anak muda seperti Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), namun masih kurang kuat dalam hal regenerasi. Sementara hanya tersedia sedikit ruang bagi aktifis muda untuk masuk ke dalam aktifitas jaringan LSM pro-demokrasi yang, ketika itu, sudah diisi oleh para aktifis yang lebih dulu aktif dalam gerakan pro-demokrasi (prodem) sejak masa Orba. Tidak mengherankan jika terlihat tidak banyak anak muda menjadi bagian dari gerakan pluralisme saat ini.

Walaupun secara politis-historis anak muda dikondisikan untuk menjadi seragam dan apolitis, namun setidaknya ada dua celah yang mampu menumbuhkan wacana lain yang lebih terbuka bagi nilai-nilai pro-pluralis. Celah pertama justru muncul dari dualisme yang dibawa Orba. Di satu sisi, Orba mengutuk anak muda yang dianggap kebarat-baratan, namun, di sisi lain, Orba justru membiarkan dominasi Barat menguasai perekonomian dan budaya Indonesia, terutama budaya popnya. Ini karena budaya “pro-komunis” yang anti-kapitalisme sudah dibungkam. Orba otomatis menjadi lebih permisif terhadap budaya Barat (kapitalis), dan justru remaja (bukan anak muda) pada masa Orba direduksi minatnya hanya kepada hal-hal yang berbau budaya pop. Budaya pop, walaupun ia dianggap dangkal dan merupakan penyeragaman dalam bentuk lain, tetap saja mampu membawa ide-ide tentang kebebasan berbicara dan berekspresi, kesan kesetaraan, dan demokrasi. Wacana tersebut boleh dibilang telah menanamkan benih-benih pro-pluralis secara budaya ke dalam benak remaja Indonesia. Tentu saja, ide-ide tersebut sifatnya non-politis atau setidaknya jauh dari apa yang kita sebut sebagai gerakan sosial untuk perubahan.

Celah kedua adalah kenyataan bahwa masyarakat Indonesia sangatlah beragam, dan tentu banyak anak muda Indonesia yang mengalami persentuhan dengan budaya, agama atau orang dengan latarbelakang lainnya yang berbeda dengan dirinya. Kenyataan ini tentu menanamkan suatu kesadaran bahwa anak muda Indonesia punya banyak identitas dan biasa menerima mereka yang berasal dari identitas yang berbeda.

Kedua celah tersebut penulis anggap mampu meletakkan semacam dasar bagi perkembangan wacana pro-pluralis di tengah bangsa Indonesia, dalam hal ini anak muda. Mereka pro terhadap keberagaman karena melihat bahwa dunia yang ideal adalah yang seperti itu. Namun mereka masih tidak punya wadah untuk menyalurkan preferensi mereka itu menjadi sikap politis dan mungkin tidak pernah terpikir oleh mereka untuk menjadi politis.

Jadi gerakan pro-pluralisme masih punya kesempatan untuk mengolah kedua celah itu agar menjadi sikap politis anak muda. Apalagi di era “reformasi” sekarang ini, kebebasan berpikir, berpendapat, dan berserikat telah menjadi sesuatu yang wajar. Ide-ide soal kesetaraan, demokrasi, keterbukaan, dan emansipasi telah mudah ditemukan menjadi wacana (sebagian) publik.

Sumber : Aquino Hayunta

Facebook Comments

About Akhmad Mutaallimin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif