Home » Memilih Indukan Aren yang Baik

Memilih Indukan Aren yang Baik

Bibit Aren Siap Tanam

Beberapa teman menanyakan : bolehkah menanam aren dengan bibit yang berasal dari anakan yang dicongkel ? Saya jawab : bisa dilakukan, tetapi saya tidak menganjurkan.

Betapa pun, indukan semua jenis tanaman yang akan kita tanam haruslah dipilih dengan baik. Jangan asal comot saja. Untuk aren, ada beberapa ciri pohon aren yang baik untuk dijadikan indukan.

1.Akarnya membentuk tunggul minimal setinggi 40 cm.

2.Serabut akarnya halus-halus dan kokoh.

3.Diameter batang bawah minimal 50 cm.

4.Ijuknya tebal dan subur.

5.Pelepahnya besar-besar.

6.Daunnya lebar-lebar dan panjang.

7.Sebagian besar daun masih hidup saat buah sudah memerah.

  1. Calon indukan bukanlah pohon yang tumbuh tunggal di suatu tempat. Pohon aren yang tumbuh bersama-sama lebih potensial untuk dijadikan indukan.

9.Sejarah penyadapannya baik, artinya produksi airnya bagus dan tandan yg disadap tidak cepat mati/kering.

10.Niranya tidak bersagu.

11.Pohon tidak mati setengah jalan.

12.Jumlah tandan betina tidak lebih dari lima tandan.

Aren adalah tanaman berumah dua sejati. Artinya, setiap unit pohonnya adalah berkelamin ganda. Mula-mula aren mengeluarkan tandan betina, yg kemudian akan menjadi buah aren. Buah inilah yang biasa dibuat menjadi kolang-kaling. Tandan buah betina ini umumnya tidak disadap. Tandan buah betina ini jumlahnya antara 3-7 tandan. Semakin banyak jumlah tandan betina semakin kurang baik, karena ini berarti jumlah tandan jantan yang akan disadap menjadi lebih sedikit.

Apa yang menyebabkan jumlah tandan betina itu banyak atau sedikit?

Yang menentukan jumlah tandan betina itu banyak atau sedikit adalah cukup tidaknya penyerbukan yang terkadi saat ia masih berupa biji muda di tandan induknya dulu. Jika penyerbukan berlangsung sempurna, maka akan terjadi transfer peta genetika dari polen (tepung sari). Biji yang terbentuk akan membawa sifat hermaprodite yang seimbang. Kelak pohon aren akan menghasilkan tandan buah betina yang tidak terlalu banyak. Jika penyerbukan tidak terjadi dengan sempurna,atau malah tidak terjadi sama sekali, maka sifat gen female (betina) akan menjadi dominan pada biji yang terbentuk. Biji kemudian akan melahirkan pohon yang menghasilkan tandan betina adalam jumlah yang banyak. Patut dicatat, bahwa biji aren dapat tumbuh meski pun secara a seksual, artinya tanpa terjadi penyerbukan (apomixis). Embrio dalam bakal biji aren sudah memiliki struktur dan komponen yang cukup untuk tumbuh, meski tidak ada pasokan informasi genetika dari polen.

Berdasarkan fakta itulah para ahli botani menganjurkan untuk mengambil biji aren yang hidup tidak sendiri, karena aren memiliki sifat tidak bisa menyerbuki bakal buahnya sendiri, sebab tenggang masa antara keluarnya tandan buah betina dengan tandan bunga jantan itu cukup jauh. Selain itu juga dianjurkan untuk mengambil buah tua yang hanya terdapat di julai bagian luar, karena yang bagian dalam dicurigai tidak mengalami penyerbukan sempurna akibat terhalang kawannya yang ada di luar.

Para peneliti juga menemukan bahwa biji yang diserbuki kelak akan menumbuhkan individu yang lebih sehat ketimbang biji yang aseksual. Biji-biji yang dihasilkan secara apomixis diketahui bervolume lebih kecil, massa keringnya lebih rendah, sukar berkecambah, dan menghasilkan individu yang cenderung kerdil.

Menurut pengamatan penulis, sebagian pohon aren yang tumbuh tunggal akan menghasilkan biji yang sukar berkecambah. Biji dengan sifat begini sebaiknya tidak dipakai sebagai benih, karena pengalaman menunjukkan bahwa biji yang sukar berkecambah akan menumbuhkan tanaman yang pertumbuhannya lambat.

Sortasi bibit aren.

Sebagaimana tanaman lainnya,pada bibit aren juga harus dilakukan sortasi. Tujuan sortasi adalah untuk memilih bibit yang baik. Sortasi bibit aren dilakukan secara kasat mata. Bibit yang disingkirkan adalah bibit yang :

1.Kerdil.

2.Daunnya kusam.

3.Pelepah daunnya terlalu kecil.

4.Lebar daunnya sempit.

4.Warna daun kekuningan.

5.Terserang penyakit hawar daun dan/atau bercak daun.

6.Pupusnya mati.

7.Pupusnya bergulung-gulung.

8.Terserang penyakit bulai.

9.Batangnya bengkok.

Bibit aren yang ditanam ke lapangan minimal sudah berumur 7 bulan. Daunnya sudah sempurna tua dua helai dan tingginya minimal 25 cm. Yang terbaik adalah yang sudah berumur setahun. Tingginya satu meter dan daun sudah mulai pecah.

Pada prakteknya, bibit umur setahun ini jarang digunakan, karena :

1.Jika dibeli, umumnya harganya sudah di atas Rp.10.000,- perbatang.

2.Polibagnya besar, hingga berat dan sulit di bawa kelapangan.

3.Pengangkutan butuh biaya ekstra, karena akan membutuhkan truk yang lebih besar.

4.Upah tanam juga akan lebih mahal.

5.Persentase kematian di lapangan lebih tinggi. Penyebabnya adalah penanganan bibit yang tidak cukup baik. Bibit yang sudah berumur setahun, akarnya sudah banyak yang menembus polibag. Waktu diangkat dari nursery (penangkaran), akar ini akan putus. Putusnya akar ini biasanya akan menyebabkan stress pada bibit. Jika stress ini tidak ditangani dengan baik, akibatnya bibit akan banyak yang mati beberapa waktu setelah ditanam.

Facebook Comments
Telah dibaca 77 x , hari ini 1 x

About bang pilot

One comment

  1. Reading your website is big pleasure for me, it deserves to go viral,
    you need some initial traffic only. If you want to know how to
    get it search for: blackhatworren’s strategies

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif