Home » Pasrah

Pasrah

Siang itu matahari tak ada kompromi, terik seolah membakar kulit yang hanya terbalut selembar baju tipis agar tidak terlalu panas. Memang tujuan saya siang itu ke dokter gigi berdasarkan janji yang sudah kubuat. Kuayunkah langkahku keluar untuk menyusuri sebuah gang setelah beberapa kali gagal memangggil taksi melalui telepon. Operator dari beberapa taksi mengatakan akan menginformasikan kalau ada taksi yang dekat dengan areaku. Padahal jarak tempatku berada hanya beberapa kilometer dari pusat kota Yogyakarta, tetapi anehnya tak satu pun taksi yang beroperasi di daerah ini.

Akhirnya, kuterjang panasnya si raja siang sambil berdoa Tuhan mengirimkan transportasi untukku.
Belum habis kata-kataku keluar dari mulut, dari arah berlawanan kulihat sebuah becak yang dikayuh dengan santainya oleh seorang pria separuh baya. Seketika itu juga kuberteriak memanggil becak yang berada di seberang jalan walau masih agak jauh. Refleks teriakan itu muncul, karena rasa gembira sekaligus kekhawatiran keduluan orang lain menggunakan becak tersebut.
Dengan senyum mengembang di bibir abang becak itu, segera mengayuh becaknya menyeberang jalan dan menghampiriku. Buru-buru kutanyakan tarif untuk jarak terdekat, agar bisa menemukan taksi. Dengan riang ia menjawab bahwa hanya beberapa meter ke depan akan sampai di jalan utama dan di sana akan ada banyak taksi. Kutanyakan ulang tarif untuk sampai ke tempat tersebut.

Monggo Mbak, kersanipun badhe maringi pinten?”, katanya dalam bahasa Jawa. “Silakan Mbak, mau kasih berapa?”
“Lho, aku gak tahu Pak, kan aku juga gak tahu seberapa jauhnya.”, kataku.
Kemudian kembali ia berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia.
“Mbak, bagi saya berapa pun yang Mbak berikan ke saya adalah rezeki.”
“Saya dinasihati pemimpin agama saya, kalau tidak boleh menyebutkan jumlah. Berapa pun yang diberikan oleh tamu atau penumpang saya adalah rezeki.”
“Masa sih kita mengatur Tuhan, biar saja kita harus terima orang mau kasih berapa pun.”
“Itu berarti Tuhan mau kasih rezekinya segitu. Kalau kita minta dan sebut jumlahnya, padahal Tuhan mau kasih lebih, ya bisa gak jadi kan?” Katanya, setelah ia nyerocos panjang lebar.

Tak seberapa lama, kami pun sampai di jalan raya dan bisa menemukan taksi yang akan mengantarkan saya ke tempat tujuan.
Tentu jawaban kepasrahan tadi juga mempengaruhi saya. Saya menjadi sedikit bingung berapa bayaran yang pantas untuk kebaikan hati, ketulusan, dan kejujuran tukang becak tadi, memang benar jarak tidak terlalu jauh. Akan tetapi, kebaikan hati tukang becak pun belum berhenti sampai di sini. Setelah melihat taksi, dengan tangan kirinya ia lambaikan untuk memberikan isyarat memberhentikan taksi. Dengan tegopoh-gopoh ia pinggirkan becak dan lari menghampiri taksi menanyakan apakah mau mengantarkan ke tempat tujuan saya.

Singkat cerita, aku pun segera turun sambil menyodorkan tiga lembaran rupiah berwarna ungu dan bergegas masuk ke dalam taksi karena terik matahari yang taktertahankan. Tentu berharap untuk segera merasakan dinginnya penyejuk ruangan di dalam taksi. Sekilas masih sempat kulirik, bahwa tukang becak tadi tak menghitung berapa jumlah uang yang kusodorkan. Ia langsung memasukkan uang itu ke dalam saku celananya.

Dari peristiwa di atas, saya kembali belajar tentang makna kepasrahan. Ternyata, di zaman yang semakin materialistis ini masih ada orang yang memiliki hati yang bersahaja. Tidak semua orang mengukur segala sesuatu dengan materi. Tentu hal ini juga semakin menyadarkan saya. Tak jarang saya menjadi bersungut-sungut saat mungkin tidak memiliki uang yang cukup saat menginginkan sesuatu. Kadang kita menjadi serakah, ingin memiliki segala sesuatu yang di luar jangkauan kita. Bukankah dikatakan, ‘Burung pipit yang tidak pernah menabur pun dipelihara oleh Tuhan?’

Rupanya, kepasrahan tukang becak tadi karena ia begitu memahami dan memaknai kata-kata di atas. Ia begitu yakin, ketika masih mau berusaha dan berjuang Tuhan pasti akan memberikan imbalan yang layak bahkan lebih. Tukang becak ini tidak bermental kuli yang selalu mengharapkan upah. Ia begitu yakin kalau Tuhan selalu melihat kepasrahan hati kita. Tentunya, ketika kita berusaha Tuhan akan memenuhi kewajibannya memberikan rezeki sesuai dengan yang kita butuhkan.
Sikap pasrah, percaya, dan selalu pengandalkan Tuhan kiranya itulah pesan yang layak kita petik dari peristiwa tersebut. Keserakahan, kesombongan, bahkan kelicikan pada dasarnya hanya akan menjadi bumerang yang siap berbalik menikam kita. Mari kita serahkan dan percayakan setiap pergumulan hidup kita kepada Tuhan, niscaya semua akan berhasil sesuai dengan janji-Nya. Bagaimanapun, Tuhan telah merancang dan menyiapkan kehidupan kita sesuai dengan kehendak-Nya. Salam Ketikers-AST 24112015

Facebook Comments
Telah dibaca 40 x , hari ini 1 x

About Anita Godjali

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif