Home » PENDIDIKAN » Edukasi & Sekolah » BANTUAN SISWA MISKIN DAN KEMANDIRIAN SISWA

BANTUAN SISWA MISKIN DAN KEMANDIRIAN SISWA

andif

Sebagai sebuah bantuan, BSM diberikan kepada siswa yang berlatar belakang ekonomi lemah, yang apabila tidak dibantu, dikhawatirkan proses pendidikannya akan terhenti alias DO. Ketidakmampuan ekonomi menjadi persyaratan utama bagi penerima BSM ini. Pendekatannya sangat berbeda dengan Beasiswa Supersemar dan sebagainya yang mempersyaratkan prestasi bagi siswa penerimanya. Tanpa p Tanpa memiliki prestasi, jangan harap siswa tersebut dapat menerima beasiswa uenis tersebut. BSM benar-benar “sedekah” dunia untuk menolong nasib anak-anak miskin Indonesia.

Tetapi karena tidak terikat dengan persyaratan prestasi tersebut kemudian banyak orang yang mengkhawatirkan masa depan anak-anak penerima beasiswa BSM ini. Ada kecemderungan di masyarakat untuk bersikap “tergantung” pada bantuan-bantuan seperti itu. Kekhawatiran ini muncul saat penetapan calon penerima beasiswa tahap selanjutnya. Ada skala prioritas bagi penerimanya. Sehingga tidak tertutup kemudian bahwa siswa yang mendapatkannya tahun lalu, tahun yang akan datang tidak mendapatkannya lagi. Mereka menjadi korban kebijakan baru yang digulrkan. Kemudian terjadilah protes mengapa mereka tidak menerima lagi. Coba bayangkan, bagaimana ketergantungan wali murid terhadap beasiswa jenis ini.

Sikap ketergantungan inilah yang sangat mengelisahkan. Sikap ini jelas bertentangan dengan hakikat pedidikan itu sendiri. Padahal kan pendidikan itu diupayakan untuk membentuk siswa mandiri. Seperti yang tertuang dalam Undang Undang no 2 tahun 1989 yang berbunyi, “ mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan” Sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa program BSM menumbuhkan ketidakmandirian dan ketergantungan yang sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Apa jadinya bangsa ini bila kemudian nantinya para generasi penerus menjadi generasi yang tidak mandiri.

Kemudian pemberian BSM ini sendiri dapat pula dikatan sebagai pengukuhan terhadap status kemiskinan mereka. Seakan akan ada penanaman pada diri anak dan orang tuanya bahwa mereka dari golongan miskin yang pantas mendapatkan donor dari pihak lain. Dengan kata lain, secara terstruktur mereka dapat digolongkan menjadi kaum fakir dan miskin.

Menyadarkan mereka akan kemiskinannya memang tidak salah. Membantu mereka mengatasi kesulitan hidupnya pun tidak keliru.  Tetapi ada upaya yang lebih mulia daripada itu. Yaitu dengan menanamkan pemahaman agar mereka tidak menganggap bahwa mereka memang ditakdirkan jadi orang miskin sehingga mereka tidak bakalan mampu keluar dari payung kemiskinan tersebut.

Sebenarnya usaha mengantisipasi sikap ketergantungan tersebut belumlah terlambat. Bagaimana kalau model rekrutmen calon penerimanya direvisi dengan menambahkan unsure penghargaan terhadap prestasi yang dimiliki oleh siswa tersebut. Prinsip dasarnya tetap, BSM membantu siswa miskin. Tapi pada saat penyerahannya kalau bisa “dibungkus” dengan label prestasi siswa walaupun mungkin sangat kecil prestasi yang pernah diraihnya  misalnya, pernah juara lomba makan krupuk pada saat agustusan. Jadi bantuan tersebut diberikan bukan karena miskinnya tapi karena prestasinya walaupun kecil. Setidaknya  ini menambah kebanggannya terhadap dua hal. Pertama, mereka bangga akan prestasinya dan kemudian dihargai dalam bentuk beasiswa. Sehingga mudah-mudahan ini dapat memacunya untuk lebih berprestasi lagi. Kedua, mereka tidak akan menjadi rendah diri karena dicap sebagai orang miskin. Apalagi kalau ditinjau dari segi Ilmu Pendidikan, pengkategorian siswa pada kelompok negative adalah sangat tidak mendidik. Dunia pendidikan seakan membuat monument kemiskinan dan mengabadikannya dalam bentuk bantuan.

Lantas, bagaimana dengan siswa yang memang tidak memiliki prestasi apapun termasuk yang kecil sekalipun. Mungkin bisa lewat Program Siswa Berkarya. Penerima beasiswa diminta untuk berkarya sekecil apapun bentuk pekerjaan yang dilakoninya. Lantas pekerjan apa yang pantas mereka kerjakan? Bisa saja misalnya membantu Kepala perpustakaan dalam menyusun buku, membantu Penjaga Sekolah dalam menata taman dan menjaga kebersihan sekolah, membersihkan dan merapikan ruang guru dan sebagainya. Program ini hendaknya dilakukan setelah jam pelajaran berakhir atau pada saat pulang sekolah. Para penerima bantuan ini tinggal disekolah setidaknya setengah jam setiap hari. Dampak yang diharapkan adalah mereka bangga menerima beasiswa bukan sebagai bantuan yang berarti pemberian. Bangga menerima bantuan bukan karena miskin, tapi bangga menerima beasiswa karena telah dapat memberikan sesuatu yang bernilai bagi sekolahnya. Rasa bangga inilah yang nantinya akan memupus rasa rendah dirinya.

Dengan begitu kita tidak mendukung siswa untuk bergantung pada bantuan atau mengarahkan siswa untuk bersikap rendah diri pada kemiskinannya. Kita menjadikan siswa untuk bangga akan prestasi yang dibuatnya. Kita menanamkan rasa bangga kepada mereka yang telah meberikan sumbangsih yang bernilai bagi sekolah.

Facebook Comments
Telah dibaca 50 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif