Home » PENDIDIKAN » Edukasi & Sekolah » DUNIA ANAK INDONESIA

DUNIA ANAK INDONESIA

andif

Menurut Roland Barthes dalam salah satu esai pendeknya yang berjudul Toys, mainan anak-anak adalah cerminan dunia orang dewasa. Anak-anak diperlakukan bak layaknya seorang dewasa Cuma ukurannya yang diperkecil. Wajar apabila setiap permainan anak-anak diperuntukkan bagi mengkondisikan anak-anak untuk menerima masa depannya yaitu dunia orang dewasa yang telah disiapkan buatnya. Lihatlah benda-benda mainan seperti miniature kereta api, mobil, tentara, senjata, boneka, pokoknya semuanya mewakili impian-impian dunia orang dewasa.

Anak-anak akhirnya hanya mampu mengiddentifikasi dirinya sebagai pemakai bukan pencipta. Mereka tidak pernah sempat menemukan dunianya sendiri. Lebih-lebih lagi mainan anak-anak umumnya terbuat dari bahan imitasi bukan dari bahan alamiah. Mainan tersebut tak lagi punya ketakjuban, mengandung nilai petualangan dan mengasyikkan. Anak-anak akan menjadi “anak rumahan”.

Coba bandingkan dengan mainan ‘anak kampong”. Di pinggir kali mereka punya pasir dan tanah liat untuk membuat patung sesuak hati mereka. Pesawat televisi mungkin belum banyak di desa. Tapi tak mengapa. Anak kampong biasanya paling kreatif dengan membuat tokohnya dari kertas. Kemudian dengan meminjam kain putih sebagai layar, sang sutradara memainkan tokoh-tokohnya. Mereka juga suka main perang-perang. Cuma bedanya, mereka menggunakan senapan-senapan dari ranting kering atau pelepah pisang. Sebagai seragam tentara cukup daun pisang karena bentuknya seragam.

Daftar ini bisa sangat panjang. Tapi buka itu intinya. Ketika membuat patung atau tokoh dari kertas, mereka barangkali sekedar melakukan peniruan. Tapi mereka mempunyai kebebasan untuk melakukannya. Bukan saja figure yang mereka bentuk. Tapi juga watak dan lakon.

Membaca Toys dan melihat dunia anak kampong tersebut membuat kita dapat membandingkan. Ternyata banyak hal yang sangat menakjubkan yang dapat dibuat anak-anak tersebut. Bagaimana mereka menciptakan karakter tokoh-tokoh. Bagaimana merreka berkarya dengan patung tanah liat. Tapi sayangnya kreatifitas seperti itu sekarang sudah lama hilang.

Telah dibaca 44 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.