Home » PENDIDIKAN » Edukasi & Sekolah » GAMBARAN TRAGIS DUNIA PENDIDIKAN

GAMBARAN TRAGIS DUNIA PENDIDIKAN

Sewaktu saya mengajar di kota Batam, pernah kedapatan seorang siswa yang berani menantang gurunya karena tak senang di tegur guru tersebut. Padahal kalau melihat perawakannya yang berbadan kecil dan berwajah memelas(sama sekali tak punya tampang murid jagoan)tak mungkin rasanya dia berani menantang guru tersebut yang kebetulan berperawakan tinggi besar kalau tidak dilandasi motif bahwa dia merasa, dialah yang membayar guru yang mengajar disana.

Inilah gambaran tragis dunia pendidikan yang ada di Indonesia pada umumnya. Ketika sekolah telah menjadi ajang bisnis, para siswa pun mulai berpikir ala kapitalis. Bahkan rasa hormat terhadap guru pun telah di ukur oleh materi. Maka, sekolah-sekolah terutama yang swasta, telah menjadi semacam industri. Untuk masuk sekolah ini modal utamanya bukan otak tapi duit

Lantas, siswa yang bermodal duit inilah yang nantinya membuat kedudukan guru menjadi remeh. Jangan kan guru, sekolah pun mereka anggap remeh.Kenapa? Karena merasa membayar sejumlah uang setiap bulannya. Sehingga sekolah tidak mempunyai nilai tawar yang baik di hadapan murid-muridnya. Lantas siswa di sekolah ini merasa tidak sebagai murid, tapi sebagai penyewa. Ia merasa sebagai penyewa fasilitas sekolah termasuk menyewa jasa gurunya dengan prinsip”Pembeli adalah Raja”.

Malangnya, banyak guru di zaman sekarang ini gagal menjadi pendidik. Tapi jatuh wibawanya hanya sebagai pekerja biasa saja. Definisi mengajar menjadi sempit. Hanya di dalam kelas saja. Di luar itu, bukan urusan mereka lagi, karena bayaran mereka hanya cukup sampai disitu saja. Kalau pun mau lebih, di luar sekolah misalnya, hitungannya les private.

Jadi, disekolah, guru cuma berniat untuk bekerja. Bukan mengabdi. Pengabdian adalah tuntutan yang tidak masuk akal lagi. Sekolah dengan watak bisnis juga akan menghasilkan guru-guru yang bermental buruh. Maka kredibilitas guru disekolah seperti ini akan sangat rendah di hadapan murid-muridnya.

Banyak kasus murid menantang guru bukan karena  makin banyaknya murid yang kurang ajar, tapi makin banyak guru yang kurang berwibawa. Sumber terbesar dari kemerosotan wibawa ini adalah karena banyak guru yang posisinya masih tergantung kepada pihak sekolah. Jadi kapanpun dia bikin “ulah” menurut persepsi sekolah, maka posisinya di sekolah tersebut otomatis akan terancam.

Sudah sewajarnya apabila pihak dinas pendidikan mulai mewadahi guru-guru dengan posisi seperti ini.

Mungkin PGRI bisa dijadikkan sebagai wadah pelindung pada saat terjadi perseteruan antara pihak sekolah dan guru sehingga wibawa guru di sekolah tidak menjadi seperti kerupuk yang masuk angin alias “melempam”

 

SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2015

Telah dibaca 131 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.