Home » PENDIDIKAN » Edukasi & Sekolah » GAYA HIDUP GURU PNS

GAYA HIDUP GURU PNS

Dua orang guru sedang asyik ngobrol di sebuah rumah makan selepas makan siang. Salah seorang guru berstatus PNS sedangkan yang lain Honda. Guru Honda bertanya,”siapa yang potensial mendapatkan kucuran kredit dari bank?”, sang PNS terdiam. Setelah lama tidak muncul jawaban, akhirnya ia hanya mengangkat bahu. Guru Honda memberi jawaban atas pertanyaannya sendiri, “Guru PNS,” katanya. Guru PNS manggut-manggut. Untuk kesejahteraan yang dinikmati Guru PNS sekarang, memang mereka menjadi nasabah potensial bagi bank-bank tertentu terutama dalam penyaluran kredit.

Lihat saja, begitu banyak penawaran, tidak hanya bank, malah kredit motor sampai mobil ditawarkan kepada para PNS ini. Hal itu tak lebih adalah karena pemberi kredit tahu bahwa para PNS ini adalah pasar potensial selain juga jaminan pembayaran yang bisa dipertanggungjawabkan alias barang tak akan ditarik atau hilang tanpa dibayar. Pemberi kredit tinggal bekerja sama dengan bendaharawan kemudian diputuskan bahwa cicilan diambil dari gaji bulanan.

Jadilah kredit sebagai gaya hidup para PNS tersebut. Tapi ada cerita lucu seputar fasilitas kredit ini yang dialami rekan saya. Ceritanya begini, pada saat hari ulang tahunnya, ia dibelikan mobil baru oleh suaminya. Jadilah ia kesana kemari naik mobil baru. Namun setelah beberapa bulan berlalu, akhirnya dia mulai mencium aroma tak sedap dari penyakit baru suaminya yaitu penyakit selingkuh. Hingga akhirnya terbukti positif dan mereka pun bercerai. Setelah tiga bulan bercerai, ternyata teman saya itu di datangi petugas dealer untuk mengambil mobil barunya itu. Ternyata, selama ini mobil itu hasil kreditan atas nama suaminya. Jadi karena mereka sudah bercerai, sang suami tidak merasa punya kewajiban lagi untuk membayar angsuran tiap bulan sebagaimana mestinya. Dengan rasa malu yang teramat sangat, akhirnya mobil itu pun dilepas.

Ada lagi cerita teman saya sesame PNS yang stress berat lantaran memikirkan angsuran mobil dan rumah yang jumlahnya melebihi kapasitas pendapatannya. Padahal dia sudah banting tulang kesana kemari cari obyekkan tetap saja tidak mampu memenuhi kewajibannya tersebut. Mau dikembalikan mobilnya malu. Mau diteruskan, berarti hidupnya makin kacau.

Memang semua kenikmatan dunia itu adalah jebakan. Apalagi kenikmatan dunia yang dapat kita peroleh dengan cara kredit. Kita tidak perlu bersusah payah mengumpulkan duit baru nanti menikmati hasilnya. Sepertinya pepatah yang mengatakan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian itu sudah tidak berlaku lagi. Jaman sekarang sudah berubah. Nikmati dulu baru penyakitnya datang belakangan. Jadi bukan Sengsara membawa nikmat, tapi nikmat justru membawa sengsara.

Sebenarnya initinya adalah bersyukur. Kalau memang mobil belum menjadi kebutuhan, lantas buat apa diambil kalau toh nantinya bakal merepotkan kita. Dahulukanlah mana yang lebih penting. Untuk ukuran daerah dimana saya tinggal di Kabupaten Karimun yang dikelilingi laut dengan luas kurang lebih seluas Jakarta Pusat, mau dibawa kemana sih mobil itu? Paling-paling mentoknya laut. Kecuali mobilnya James Bond, mungkin bisa saya pakai jalan-jalan ke Batam…

Telah dibaca 366 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.