Home » PENDIDIKAN » Edukasi & Sekolah » GURU KOQ DIPUKUL MURID?

GURU KOQ DIPUKUL MURID?

Sebut saja namanya H. Kisahnya berawal dari pengakuan salah seorang murid perempuan di sekolahnya yang mengaku berpacaran dengan seorang pemuda, santri di Pesantren yang kebetulan berdekatan dengan sekolah tersebut. Sebagai seorang guru yang baik, naluri keguruannya mendorong pak H untuk memanggil sang “arjuna” untuk diberi teguran plus wejangan. Sampai disitu selesai. Si pemuda menyatakan penyesalannya dan berjanji tidak akan meneruskan hubungannya dengan gadis ABG tersebut.

Namun, sebulan kemudian. Saat itu pagi hari. Karena piket Pak H lebih dulu sampai di sekolah. Suasana sekolah masih sepi. Belum satupun guru yang datang. Sambil menunggu bel masuk, Pak H pun duduk di kantor membaca buku. Pada saat itulah si pemuda , sebut saja W, tiba-tiba masuk sambil menendang pintu kantor dan langsung mencaci-maki pak H dengan kata-kata yang tak pantas untuk di tuliskan disini. Karena terkejut dan tersinggung rekleks Pak H membentak dan menampar si pemuda. Tanpa diduga tamparan pak H langsung dibalas W dengan tinju yang telak menghantam pipi pak H. Seketika sekolah geger. Sebagian siswa yang kebetulan sudah berada di sekolah berlarian menuju kantor. Melihat gelagat yang semakin gawat., Pak H akhirnya memutuskan meninggalkan W dan pergi melapor ke pihak Yayasan. Beruntung yayasan bisa bertindak tegas dan bijak. Singkat cerita , W dipanggil dan saat itu juga langsung dipecat dan diusir dari pesantren.

Mendengar penuturan teman saya di atas, tak sadar mata saya terasa basah. Selain karena saya kenal betul wataknya, kejujuran serta dedikasinya, sebagai sesama guru saya juga bisa merasakan beban psikis yang di alaminya. Rasa sakit bekas tinjuan W boleh jadi seminggu sudah hilang , akan tetapi harga diri maupun rasa dipermalukan di depan murid-murid yang lain pasti sulit untuk dilupakan begitu saja. Saya jadi miris dan terus-terang merasa terganggu dengan peristiwa tersebut. Saya teringat tentang upaya gencar pemerintah dalam mensosialisasikan pentingnya pendidikan berkarakter diterapkan di sekolah-sekolah. Sebuah terobosan positif meskipun menurut saya agak terlambat. Betapa tidak, selama bertahun-tahun orientasi pendidikan kita hanya berkutat pada peningkatan ranah kognitif (ilmu pengetahuan) dan cenderung mengabaikan perilaku,akhlak, budi pekerti dan sopan santun siswa. Akibatnya kita harus menuai hasil yang menyesakkan dada. Murid tawuran, siswi hamil akibat pergaulan bebas, terlibat narkoba, memandang remeh guru, hilang tata karma, dan banyak perilaku negative lainnya yang kesemua itu jelas merupakan penyimpangan dari tujuan mulia pendidikan sebagaimana yang dicita-citakan bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Menurut saya kondisi yang tidak sehat ini harus diakhiri. Kita harus bersatu-padu menyatukan visi menegakkan kembali pilar-pilar etika dan moral yang sudah rubuh. Tidak cukup hanya guru dan pemerintah saja, keikut sertaan masyarakat, utamanya orang tua siswa, dalam mengawasi dan member contoh yang benar kepada anak harus didorong seoptimal mungkin. Budaya kekerasan yang kerapkali mereka saksikan, baik dari layar kaca maupun dalam kehidupan nyata, setidaknya ikut andil dalam membentuk watak mereka menjadi kasar dan ingin memang sendiri. Ini harus dilawan, minimal dengan memberi pencerahan berupa tontonan-tontonan yang mengandung nilai edukasi, sarat pesan moral dan menjunjung tinggi arti sebuah persahabatan. Disamping tentu saja mampu menjadi role model yang baik untuk mereka. Menjadi guru yang betul-betul sebagai sosok yang di gugu dan ditiru siswa. Menjadi orang tua yang bisa diidolakan anak-anaknya. Menjadi penguasa yang mampu mengayomi dan menjadi panutan rakyatnya. Kesemua ini merupakan kerja kolektif yang tidak bisa di tunda-tunda lagi. Kemendiknas sudah memulainya dan partisipasi kitalah yang nantinya akan menentukan berhasil tidaknya program tersebut.

Saya dan mungkin kita semua tentu berharap ke depan tidak lagi terdengar berita mengenai tawuran antar sekolah, geng motor yang meresahkan masyarakat, ataupun tindak penganiayaan murid kepada guru seperti yang dialami oleh teman saya di atas. S’moga.

 

 

Facebook Comments
Telah dibaca 152 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif