Home » PENDIDIKAN » Edukasi & Sekolah » KRISIS IDENTITAS REMAJA, SALAH SIAPA?

KRISIS IDENTITAS REMAJA, SALAH SIAPA?

Kriris Identitas kini menggejala di hampir semua negara. Pasien yang banyak dijangkitinya adalah kaum ABG alias Anak Baru Gede. Virus kriris identitas sangat cepat penyeberannya. Sementara obat telan yang sangat manjur sekali belum ada.

Kriris identitas memang hadir begitu saja dan kadang-kadang kita tak bisa menolak. Derasnya arus informasi ke otak manusia kadang membuat manusia menyerap aneka macam pesan yang lebih cocok disebut sponsor. Film-film Amerika dan yang sedang tren sekarang yaitu film Korea sangat efektif mensponsori pemirsa untuk bergaya hidup seperti mereka.

Jelekkah bila kita mengidentitaskan diri sebagai mereka? Disebut jelek bila seluruh identitas mereka kita sdengan budaya kita  dipupuk untuk lebih memperkaya khasanah pergaulan.

Kriris identitas yang akut adalah apabila kita melupakan jati diri kita sendiri. Kita lupa dengan keberadaan kita untuk mengcopy gaya hidup orang lain. Kita tak ubahnya beo. Tapi apabila identitas diri tetap terjaga maka pameo cerdas ini sangat berarti banyak. “Bertindak Lokal, Berpikir Global”.

Demam gaya hidup global paling nampak pada kehidupan ABG. Gaya hidup global merembet cepat dikalangan anak muda dunia. Salah satunya di Jepang. Di Jepang , para orang tua geregetan dengan polah tingkah remajanya sekarang yang mereka juluki Shinjincui yang artinya jenis manusia baru. Mereka lebih konsumtif, individualis dan sedikit hedonis. Mereka sibuk mengumpulkan simbol-simbol status Amerika dan menjadikan gaya hidup mereka sebagai ajang pengekspresian diri. Generasi ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai konfusianisme yang berlandaskan pada kesederhanaan dan kerja keras.

Derasnya informasi informasi global jelas mempunyai pengaruh besar bagi generasi mendatang. Mereka jadi punya “kiblat budaya” tertentu di negara lain. Memang tidak semuanya negatif, karena toh pada saat mereka dewasa mereka mulai menyaring nilai-nilai itu dan menggabungkannya dengan budaya sendiri. Tergantung, menjadi lebih baik atau malah menjadi makin buruk.

Identitas diri ini biasanya diekspresikan dalam gaya hidup “cara mengkomunikasikan siapa dirinya”. Biasanya gaya hidup ini sifatnya hanya sementara menuju gaya hidup selanjutnya yang lebih stabil. Itulah yang terjasi pada remaja. Inilah yang mesti diamati oleh para pendidik dalam memahami perilaku mereka.

Telah dibaca 152 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.