Home » PENDIDIKAN » Edukasi & Sekolah » Sangaji Anak Ajaib

Sangaji Anak Ajaib

Sangaji terkenal paling pintar dan paling menonjol diantara teman-temannya. Karena banyak membacca buku, mendengarkan orang berdiskusi dan memperhatikan orang tuanya memecahkan persoalan keluarga, maka pengetahuannya pun menjadi luas. Mula-mula ia menyelesaikan persoalan diantara teman sebayanya. Lalu Sangaji semakin terkenal bahkan orang yang lebih tua di desanya pu n tak jarang menceritakan permasalahan yang mereka hadapi dan selalu mendapatkan jalan keluar.

Sangaji akhirnya mendapat julukan si Anak Ajaib. Hingga suatu hari Sangaji diminta oleh Pak Kades untuk menyelesaikan sebuah kasus kejahatan. Di Balai Desa, Sangaji banyak bertanya mengenai perkara tersebut. Pokok persoalannya adalah, ada dua orang yang menghadap Pak Kades, yang satu bernama Ali dan yang satu bernama Bedu. Mereka berdua mengaku kehilangan seekor sapi. Kejadiannya seperti ini.

Pada suatu hari, disebuah padang rumput di luar desa, ada seseorang yang menemukan seekor sapi tanpa pengembalanya. Kemudian orang tersebut lantas mengantarkan sapi tersebut ke Balai Desa. Oleh Pak Kades akhirnya diumumkan ke seluruh desa apa ada warga yang merasa kehilangan sapi mereka. Lantas datanglah Ali dan Bedu ke Balai Desa. Keduanya mengaku sebagai si empunya sapi.

Setelah mendengarkan penjelasan Pak Kades, akhirnya Sangaji angkat bicara,”Perkara ini sangat mudah,” katanya. Dia minta kepada aparat desa untuk menyediakan sebuah cemeti yang kasar untuk memukul sapi itu dengan sekeras-kerasnya. Ditunjuklah seorang aparat desa yang kebetulan bertubuh besar dan berotot untuk mencambuk sapi tersebut. Si Algojo pun melaksanakan tugasnya dengan baik hingga sapi itu meronta-ronta kesakitan.

Diam-diam, Sangaji melihat dengan seksama wajah kedua orang yang saling menggugat tersebut. Ketika Ali melihat sapi itu dipukul, wajahnya kelihatan sedih sedangkan Bedu tidak menunjukkan emosi apa-apa.

Melihat itu semua, Sangaji lantas bisa menebak siapa gerangan pemilik sapi yang sesungguhnya. Tetapi masih ada satu lagi yang harus dilakukannya untuk memastikan siapa pemilik sapi yang sebenarnya. Sangaji meminta kedua orang yang berseteru tersebut membawa kawanan sapi yang mereka miliki sampai di depan alun-alun Balai Desa. Setelah keduanya membawa kawanan sapi mereka, Sangaji lantas meminta sapi yang baru dicambuk untuk dilepas. Begitu terlepas, sapi itu langsung melenguh gembira dan lari kekawanan sapi milik Ali. Sangaji lantas berdiri dan berkata,” Sekarang perkaranya sudah jelas, sapi itu milik Pak Ali.”

Raut wajah Bedu merah padam. Karena ia tak punya alasan lagi membenarkan kebohongannya. Ia tidak berani lagi membuat keributan tanpa alasan. Ia pergi dengan murung membawa kawanan sapinya.

Pak KAdes memuji Sangaji, karena dalam waktu singkat mampu memecahkan masalah dengan baik. Bagaimana Sangaji mampu memecahkan masalah tersebut?Pertama, pemilik sapi pasti mempunyai ikatan batin dengan sapinya. Tatkala Ali melihat sapinya dicambuk, ia merasa sedih. Kedua, ketika melihat kawanannya, sapi pasti akan menyatukan diri dengan mereka. Hal ini sudah cukup membuktikan siapa sebenarnya pemilik sapi tersebut.

 

Apa hikmah dibalik cerita diatas?

 

Keahlian memecahkan masalah tidak datang tiba-tiba. Diperlukan waktu, pengalaman, dan pengetahuan untuk terus meningkatkannya.

 

Pemecahan masalah adalah salah satu keahlian paling esensial dalam hidup. Siapa pun Anda, apa pun yang Anda lakukan, Anda akan menghadapi beragam rintangan. Cara Anda menanganinya biasanya faktor penentu kesuksesan Anda dalam hidup. Masalah bisa hadir dalam beragam bentuk dan ukuran, tapi tetap pasti ada solusinya.

 

MARI SEBARKAN KEPADA SESAMA MUSLIM SEBAGAI SEDEKAH RUHANIYAH KITA DAN SEMOGA MENAMBAH AMAL  JARIYAH KITA SEMUA

Facebook Comments
Telah dibaca 32 x , hari ini 1 x

About andigtl

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif