Home » PENDIDIKAN » Edukasi » “Diary Anak Kampung”: Blog Anak Kampung yang Kampungan

“Diary Anak Kampung”: Blog Anak Kampung yang Kampungan

Tak ada masalah sama sekali punya blog yang berisi tentang pengalaman pribadi. Tapi hal ini bisa bermasalah bila pemiliknya menjadi populer lantaran sebagai anak Presiden Jokowi.

Namanya Kaesang Pangarep. Dia adalah anak bungsu Jokowi yang baru saja lulus sekolah di Singapura. Dia juga punya blog pribadi sendiri yang dia beri nama “Diary Blog Anak Kampung

Dari judul blog, sepertinya Kaesang telah menyadari bahwa dirinya dulu berasal dari kampung alias “cah ndeso” (anak kampung). Memang kenyataannya demikian, dia terlahir di kota Solo, ketika bapaknya masih jadi pengusaha furnitur di Solo. Bapaknya saja mengaku wong ndeso, tentu saja anaknya juga sama, ngaku sebagai anak ndeso.

Popularitas Kaesang juga ikut meroket, seiring dengan karir politik bapaknya yang melejit sampai ke puncaknya yaitu sebagai Presiden RI ke 7. Dengan adanya kondisi seperti ini, maka apapun yang dilakukan oleh anak-anak presiden termasuk Kaesang, tentu saja menjadi sorotan media.

Seperti yang baru saja dirilis oleh media terkait dengan blog pribadinya itu. Kaesang menulis pengalaman hidupnya tatkala pertama kali menginjakkan kaki di negeri Singapura. Secara keseluruhan isi artikel di blog pribadinya itu sesungguhnya Kaesang hanya sekedar iseng saja. Tapi dia mungkin lupa bahwa dirinya sekarang bukanlah seperti yang dulu.

Sebagai anak presiden, Kaesang tentu harus lebih hati-hati dalam berbuat atau melakukan tindakan atau aktifitas apapun. Sebab bila tidak berhati-hati, maka perilaku Kaesang akan dapat merusak kredibilitas bapaknya sendiri.

Kembali pada salah satu artikelnya yang berjudul “Suka Duka Pertama Kalinya Sekolah di Singapore“, Kaesang menulis beberapa kalimat yang sekarang malah dijadikan berita yang seolah dibesar-besarkan. Padahal artikel itu ditulis pada Maret 2013, sudah cukup lama, artinya jauh sebelum bapaknya dilantik sebagai Presiden RI.

Tapi lagi-lagi karena dia sekarang sebagai anak Presiden, meski tulisan yang sudah lamapun bisa didaur ulang dan dijadikan isu tersendiri. Berikut ini adalah cuplikan tulisan Kaesang yang kembali diangkat oleh media:

“Gue ngeliat ada daging gede bentuknya kotak. Itu daging keliatan enak banget dari luar. Langsung dah gue pesen 1 porsi. Waktu gue coba, ternyata itu daging enak banget. Ini daging yang paling enak yang pernah gue coba. Dagingnya itu super lembut, empuk dan maknyus. Setelah gue makan, rencananya gue pengen bawa pulang 1 porsi lagi untuk di asrama nanti. Waktu itu gue baru kepikiran daging yang gue makan itu tadi daging apa ya. Gue tanya sama abangnya yang jual dan abangnya ngomong itu daging babi. Asu dah, pertama kali di Singapore gini udah bikin dosa. Udah dosa gue banyak banget lagi di Indonesia, ini malah ditambah lagi gara-gara makan daging babi. Tapi enak banget sih sebenernya dagingnya, bikin ngangenin.

Karena ngerasa dosa, gue langsung cari masjid yang paling deket. Ini maksudnya gue mau tobat gara-gara makan daging babi tadi. Waktu gue sholat, gue gak bisa khusuk gara-gara gue keinget sama enaknya daging babi tadi. Gue ngerasa sekarang dosa gue jadi berlipat ganda gini. Supaya gak inget sama daging babi itu, gue cari makanan lagi biar gue lupa ama itu daging. Setelah muter sana sini, gue akhirnya nemuin daging kambing. Dari luarnya sih keliatan enak banget tapi tau deh rasanya. Setelah gue coba, ternyata rasanya tu gak enak banget, kaya makan arang yang dikasih kuah jengkol busuk. Rugi dah gue”

Dari cuplikan tulisan Kaesang diatas, jelas sekali bahwa Kaesang hanya sekadar menulis secara jujur atas sebuah peristiwa yang dialaminya. Namun dia tampaknya lupa bahwa apa yang ditulisnya itu, meski hanya berupa pengalaman pribadi, tanpa ada tendensi apapun terhadap ajaran agama, tapi rasanya tak perlu seheboh itu dalam mendiskripsikannya kedalam tulisan di blog.

Sebagaimana semua orang tahu, bahwa daging babi itu haram bagi umat Islam. Terlepas dari rasanya, yang katanya super enak, seharusnya Kaesang tak perlu mendramatisir seperti yang dia tuangkan dalam tulisannya. Sebab, apa yang ditulisnya itu akan menimbulkan persepsi yang bermacam-macam bagi para pembacanya. Terbukti sekarang, telah ditangkap wartawandan dipublikasikan melalui media ternama pula.

Entah apa maksud dari jurnalis yang bersangkutan sehingga mengangkatnya lagi itu sebagai berita. Padahal tulisan itu sudah lama dan penulisnya waktu itu belum jadi anak Presiden.

Blog Anak Kampung yang ‘Kampungan’

Terlepas dari semuanya itu, saya ingin sedikit menggarisbawahi perihal blog yang dikelola secara pribadi oleh Kaesang. Sebagai anak kampung dari Solo, Kaesang seakan lupa pada jati dirinya sendiri. Mengaku anak kampung, tapi tutur bahasanya tidak mencerminkan itu.
Seperti penggunaan kata ‘gue’ dan istilah-istilah lainnya yang populer di kalangan anak muda Jakarta, membuat Kaesang ingin tampil tak seperti apa adanya. Juga dia seringkali menggunakan kata-kata yang kurang santun, seperti “anjing, boker, asu dll.

Bila saja dia menyembunyikan jati dirinya, saya pastilah menilai bahwa penulis artikel itu adalah anak kampung yang kampungan dan tidak mencerminkan bahwa dia punya pendidikan yang tinggi dan dari keluarga terpandang. Cara penyampaiannya yang terlalu vulgar dan kadang tidak menganut etika dan tatakrama.

Mungkin, bagi warga Solo yang membaca, tentu saja malu dan dianggap bahwa Kaesang bukan seperti anak priyayi, yang mengedepankan tata krama dan sopan santun.

Memang kenyataannya, Kaesang bukanlah keturunan dari bangsawan kraton Solo, tapi meski demikian, meski dia anak kampung, mustinya jangan kampungan. Apalagi sekarang sudah menjadi anak Presiden, yang sudah semestinya dapat bersikap yang lebih santun di dalam menulis, meski itu didalam blog pribadinya sendiri.

Dia musti selalu ingat dan menyadari, bahwa sebagai anak Presiden, apa yang ditulisnya akan dibaca banyak orang. Dia harus bisa menempatkan dirinya, setidaknya selama Bapaknya masih menjabat menjadi Presiden. Setelah itu terserah sajalah…

Lagi pula, bila memang mengakui bahwa dirinya adalah anak kampung, sudah selayaknya perilakunya juga tak perlu dibuat-buat seolah olah dia terlahir dan dibesarkan di lingkungan ibukota.

Sama sama ingin menyampaikan sesuatu, tidakkah lebih baik bila ditulis dengan menggunakan kata dan kalimat yang santun, terlebih lagi sekarang ini, Kaesang adalah anak Presiden.

Tak masalah dengan anak kampung, tapi jangan kampungan dong…

Salam.

foto : kompas.com

Facebook Comments

About Juru Martani

4 comments

  1. kenapa harus di permasalahkan mengenai blog tersebut toh itu juga blog yang sudah lama….. :nohope

  2. Anita Godjali

    Blog pribadi, kenapa tetangga mesti repot? Namanya juga pribadi apa saja boleh ia tuliskan apalagi itu pengalaman pribadi….

  3. Ya.. maklumlah.. namanya anak2.. ada saatnya bandel ada saatnya bener.

  4. katedrarajawen

    Berasa sedang membaca tausiyah dari ustad nih hahaha..wah komentarnya kampungan gak ya?http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif