Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Introspeksi » “SAAT ‘LINGKARAN SOSIAL’ TERLALU MENUNTUT… “

“SAAT ‘LINGKARAN SOSIAL’ TERLALU MENUNTUT… “

“I hate social life. I hate having it.” (Saya membenci kehidupan sosial. Saya benci memilikinya.)

Kaget? Percayalah, itu juga reaksi awal saya saat mendengar pengakuan seorang rekan. Apa pasal? Apakah dia tidak suka punya teman dan lebih memilih sendirian? Apakah dia dikelilingi orang-orang yang kurang menyenangkan, hingga lingkaran sosial jadi tampak menakutkan di matanya?

Apakah dia hanya sosok yang egois? Sepertinya memang lebih mudah menilainya demikian. Seperti biasa, manusia memang palig gesit kalau perkara menghakimi – bahkan tanpa sudi mendengarkan pihak yang mereka hakimi.

Berapa banyak dari kita yang bisa memahami hal ini? Jangan-jangan kita cenderung lalai dan bahkan abai.

Akhirnya rekan saya bercerita:

Dulu dia punya cukup banyak lingkaran pertemanan. Sesekali dia juga berkumpul dengan mereka, meski sisanya lebih banyak chatting lewat BB, Whatsapp, FB, Twitter, dan lain sebagainya.

Yang lalu jadi masalah? Saat mereka (yang mengaku teman sejati dan pengertian) mulai banyak menuntut. Sebisa mungkin harus selalu ketemu (sesibuk apa pun.)

Oke, ada satu masa dimana rekan saya sibuk sekali. Setiap kali diajak ketemuan, dia lebih sering tidak bisa. Rupanya ada yang tidak terima dan reaksi mereka pun beragam. Ada yang mengeluh terang-terangan: “Gak asik lo, sibuk melulu!” Ada yang jadi ngambek dan malas mengajak-ajak lagi. Mungkin masih ada yang bisa memaklumi, namun sepertinya kalah jumlah.

Lalu? Saat rekan saya akhirnya berhasil mengusahakan waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya, bukan sambutan menyenangkan yang dia dapat. Meski mungkin ada yang menyambutnya dengan suka cita, tak ayal cukup banyak juga yang malah mencelanya:

“Nah, akhirnya dateng juga lo. Diajak ketemuan susah amat, sih? Sombong amat. Sibuk terus, ya?”

            Ada juga yang bikin kesal rekan saya: saat dia sudah berusaha meluangkan waktunya yang kebetulan tidak banyak untuk ketemuan, yang memaksa datang ketemuan malah dengan seenaknya datang telat… atau mendadak membatalkan acar secara sepihak! Ada juga yang begitu datang, bukannya minta maaf karena telat, langsung ke topik pembicaraan yang – menurut rekan saya – enggak banget: nggak jauh-jauh dari gosipin orang lain!

“Bayangin,” kata rekan saya waktu itu, “lo udah sengaja meluangkan waktu lo yang gak sedikit, pas dateng malah dikritik. Dikatain sombong, seolah-olah lo sengaja menghindar atau nggak mau ketemuan sama sekali. Seakan lo yang salah karena punya kesibukan, sementara mereka yang nggak mau ngertiin. Tapi sepertinya gue yang selalu harus ngertiin mereka yang emang kebetulan selalu punya waktu buat kumpul bareng.”

Aduh. Belum kelar rasa kaget saya, rekan saya melanjutkan – dengan nada sedikit berapi-api:

“Terus, belum lagi yang suka dateng telat. Kita semua tahu Jakarta macetnya kayak apa. Setidaknya minta maaf, kek. Ini enggak. Udah gitu, pas mereka masih mau berlama-lama sementara waktu gue nggak banyak dan mau pamit duluan, mereka marah dan nggak mau ngertiin. Kata mereka: ‘Sini dulu, ngapain buru-buru? ‘Kan kita udah lama gak ketemu. Lo sibuk terus, sih. Sombong amat.’

Sombong. Aih, lagi-lagi kata itu begitu mudah terucap – sama seperti suka, cinta, hingga benci.

“Trus, pas ketemuan, kirain mau saling tukar kabar atau apa gitu.” Rekan saya masih keki luar biasa. “Eh, taunya malah pada ngomongin orang lain. Si A begini-lah, si B begitu-lah. Si C udah cerai dan baru kawin lagi-lah… pokoknya males banget, deh. Daripada nanti ikutan nambah dosa, mending gue nggak usah ketemuan lagi aja sekalian. Bukannya gue mau sok paling bener dan mutusin tali silaturahmi sih, tapi apa gunanya gue ketemuan lagi kalo yang ada gue selalu dituduh sombong karena sibuk dan dikatain nggak asyik? Mending mereka mau ganti bayar gaji gue kalo gue emang lagi kena lemburan. Mending mereka sendiri seneng kalo diomongin orang lain!”

Oke, sebelum pada keburu menuduh rekan saya kaku, lebay, dan kelewat sensi – mari sama-sama menilik:

Kita semua sudah tahu, persahabatan pasti akan berubah seiring waktu. Tak ada yang abadi. Ada beda pertemanan waktu kecil, remaja, usia 20-an, hingga 30-an ke atas. Bisa saja waktu sekelas atau satu sekolah dulu, kita masih bisa kemana-mana bersama. Lalu mulai pisah saat beda jadwal, beda kegiatan, dan sebagainya. Belum lagi saat pindah sekolah, pindah kota, atau pindah ke luar negeri. Memang untung ada internet – apalagi lewat smartphones. Cuma, rasanya tetap beda, sih. Kita tidak selalu bisa menerjemahkan emosi lawan bicara hanya dari SMS atau pesan di Whatsapp. Karena itulah sering terjadi miskomunikasi yang dapat berujung konflik, meski sebenarnya tidak perlu.

Mungkin pas masih sekampus / sekantor, makan siang selalu bareng. Begitu salah satu pindah, frekuensi ketemuan jadi bisa seminggu / sebulan / beberapa bulan sekali. Belum lagi dengan pacar, teman-teman baru lainnya, dan beragam kesibukan. Apalagi bila sudah ada yang menikah dan punya anak, sementara yang lain mungkin masih lajang. Beda kesibukan, visi, misi, dan prioritas itu pasti. Tidak bisa dihindari.

Masa Anda mau ngambek seperti anak kecil, saat sahabat mendadak membatalkan acara ketemuan karena harus mengantar anaknya yang sakit ke dokter? Anda pasti juga kesal dong, saat teman terus-terusan memaksa Anda ketemuan, padahal saat itu Anda juga lagi sibuk-sibuknya?

Lalu, kalau teman Anda yang semula ‘super sibuk’ itu akhirnya bisa meluangkan waktu untuk ketemuan, berbahagialah. Tak perlu mengungkit-ungkit yang lalu, apalagi sampai menuduhnya macam-macam. Seperti biasa, bercanda bukan lagi bercanda bila ada hati yang sampai terluka. Sudah pada dewasa, ‘kan?

Jadilah teman yang selalu dirindukan dan dinantikan. Caranya? Cukup belajar berlapang hati menerima realita yang ada. Jangan terlalu risau saat teman tidak bisa selalu bertemu dengan Anda. Tidak semua hal melulu tentang Anda.

Embedded image permalink

 

R.

            (Jakarta, 27 April 2015 – 11:00 am)

Telah dibaca 53 x , hari ini 1 x

About rubyastari

Leave a Reply

Your email address will not be published.