Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Introspeksi » “INDONESIA, BERHENTILAH MENODONG!”

“INDONESIA, BERHENTILAH MENODONG!”

Maaf, bukan bermaksud menuduh bahwa bangsa ini semuanya sama. Saya sendiri juga orang Indonesia dan sebisa mungkin berusaha untuk tidak melakukannya, meski dengan resiko dikatai “sok alim”, “nggak asik”, “terlalu baik”, hingga “merugi”.

            Mungkin banyak yang akan menjadikan budaya sebagai alasan, tapi apa gunanya dipertahankan bila berpotensi merusak hubungan pertemanan dan keluarga? Belum lagi dengan kemungkinan besar bahwa kita akan kembali mewariskan kebiasaan merugikan ini ke generasi berikutnya, yaitu meminta-minta. Ah, bosan. Kapan majunya kita?

Saatnya berhenti menodong saudara / teman untuk saat-saat seperti ini:

1.Saat mereka berulang tahun.

Sampai pernah ada yang berkomentar: “Kalau di luar negeri, yang ultah malah ditraktir, dibanjiri hadiah, pokoknya dimanjain banget dalam sehari. Di sini? Yang ada malah dirampok ampe gak kira-kira! Boro-boro mereka kasih hadiah. Nodong traktiran pake maksa dan ngancem musuhan segala!” Nah, lho. Lain cerita kalau yang berulang tahun ikhlas mentraktir Anda, bahkan menawarkan duluan. Namun, tetap jangan jadikan itu kebiasaan. Bukan apa-apa, belum tentu teman selalu punya uang cukup untuk mentraktir Anda. Jangan sampai lama-lama teman akan menghindari Anda saat hari ulang tahun mereka, apalagi bila Anda terkenal memaksa dan menuduh mereka pelit dan nggak setia kawan karena permintaan Anda tidak dituruti. Lebih parah lagi bila Anda makin tak tahu diri dengan mendesak mereka agar mentraktir Anda di tempat yang mahal punya, sementara ultah mereka sialnya jatuh pas tanggal tua, dimana keuangan belum tentu memadai. Kasihan, ‘kan? Teman apa teman, sih? Hiiih…

2.Saat mereka punya pacar baru.

“Heeii, yang baru jadian! PJ-nya mana?” (PJ = Pajak Jadian!) Sering diminta begini saat ketahuan punya pacar baru? (Apalagi yang pakai pengumuman segala lewat FB dengan status ‘in a relationship’.) Bagaimana perasaan Anda?

Seperti biasa, bila teman baru punya pacar, cukuplah ikut berbahagia dengan memberi mereka ucapan selamat. Sama seperti kasus di atas, kalau mereka mau merayakannya dengan memberi PJ alias traktiran – itu terserah mereka. Kalau tidak? Ya, lagi-lagi jangan memaksa – meskipun Anda sahabat terdekat sekali pun atau Anda ikut berjasa dalam menjodohkan teman dengan pacar barunya. Kalau sampai mengungkit-ungkit, bisa dipastikan teman akan berpikir dua kali meminta bantuan Anda – karena Anda ternyata memegang teguh prinsip ‘utang budi’ alias pamrih!

3.Saat mereka mendapatkan gaji pertama.

Baik sebagai first jobber atau karena pindah kerja, ada baiknya Anda berpikir ratusan kali untuk menodong teman dalam kasus ini. Tolong hargai teman yang sedang berusaha mendapatkan penghasilan untuk meningkatkan taraf hidup mereka, apalagi bila sebelumnya mereka sudah pernah berada dalam kesulitan finansial (misalnya: terlalu lama menganggur hingga harus bergantung sama orang lain, kehilangan pekerjaan karena di-PHK atau perusahaan sebelumnya gulung tikar, harus mengurus anggota keluarga yang sakit keras hingga membutuhkan banyak biaya, dan lain-lain.) Lagipula, bisa saja teman punya prioritas hidup lain yang jauh lebih penting dan mendesak, daripada sekedar mentraktir Anda hanya agar Anda tidak mempertanyakan kualitas pertemanan kalian. Jangan sampai nantinya mereka akan berhenti berbagi cerita dengan Anda, karena khawatir Anda hanya akan ‘menempeli’ mereka gara-gara sifat Anda yang ternyata aji mumpung dan mata duitan!

4.Saat mereka ke luar kota atau negeri.

Ini mungkin sudah banyak dibahas, dimana saat seseorang ketahuan mau ke luar kota atau negeri, semua orang – baik yang dekat maupun yang tidak – mendadak jadi ekstra ramah karena mau menitip: “Oleh-oleh!” Okelah, mungkin Anda memang sedang tidak sempat atau tidak selalu bisa bepergian. Tapi lihat-lihat juga situasi dan kondisi teman. Apakah mereka sibuk dan belum tentu sempat mencari oleh-oleh / titipan untuk Anda? Apakah Anda menyediakan uangnya, sepakat mengganti uangnya saat barang sudah diterima, atau hanya sekedar menodong dan menuntut agar dibelikan? Memangnya Anda mau tanggung-jawab saat teman terkena excess baggage (kelebihan muatan) di bandara dan harus membayar denda karenanya? Belum lagi kalau ternyata barang yang sudah didapat tidak sesuai bayangan Anda / tidak Anda sukai. Nah, lho! Pernah berpikir sampai ke situ, nggak?

Untuk keempat contoh kasus di atas (atau mungkin ada beberapa contoh lainnya), kuncinya terletak pada keikhlasan, kemauan, dan kemampuan mereka untuk melakukan permintaan Anda – bahkan sebelum Anda todong. Jangan sampai mereka akan bertanya-tanya apakah Anda akan selalu ada bahkan saat mereka tak selalu punya uang!

 

R.

            (Jakarta, 17 Mei 2015 – 16:00)

Telah dibaca 20 x , hari ini 1 x

About rubyastari

Leave a Reply

Your email address will not be published.