Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Sejarah » Dijajah, Tapi Tidak Merasa Menderita?

Dijajah, Tapi Tidak Merasa Menderita?

andikailmu
Siang tadi ketika berkunjung ke Perpustakaan Desa Mojorejo, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen ada temuan yang menarik terkait dengan sejarah masa penjajahan Belanda. Kehadiran Tim Penilai Lomba Impact Perpustakaan Desa disambut oleh Mbah Carik/Sekretaris Desa Mojorejo, Muhammad Rosidi.

Setelah perbincangan tentang perpustakaan selesai, saya mencoba bertanya tentang kondisi pertanian di desa ini. Menurut Mbah Carik yang lahir Tahun 1946 ini, luas areal sawah di desa ini adalah 350 ha. Pada masa penjajahan Belanda, sekitar Tahun 1924, Pemerintah Kolonial membagi-bagikan tanah sawah kepada 350 orang yang sanggup memenuhi syarat. Syarat itu adalah siap memberikan tenaga untuk proyek pembangunan Hindia Belanda setiap hari kecuali pada Hari Jumat.

Menurut Kakek dan Ayah Mbah Rosidi, saat itu yang berani menerima tawaran ini hanya 350 orang itu. Bagi yang melanggar perjanjian, maka Kompeni akan menarik kembali hak kepemilikan atas tanahnya. Jika tiga hari membolos tidak masuk kerja, maka sanksi ini akan diterapkan.
Iseng-iseng aku bertanya, “Apakah dulu rakyat merasa menderita ketika dijajah Belanda?” Jawabannya sungguh diluar dugaanku.

“Rakyat tidak merasa menderita, “ kata Mbah Rosidi. Menderita itu waktu dijajah Jepang. Saya terkejut, karena kalau berdasarkan buku pelajaran sejarah rakyat sangat menderita. Mungkin karena Belanda terlalu lama menjajah rakyat merasa biasa saja. Atau mungkin bangsa kita yang terlalu biasa menjadi obyek penderita. Lagi pula penjajah juga pernah mengajari kebaikan, misalnya tentang tata cara menanam tebu yang benar. Juga tentang membangun bendungan dan jembatan yang benar.

Apa yang disampaikan Mbah Rosidi mungkin tidak seratus persen benar. Tetapi sebagai salah satu sumber sejarah lisan juga tidak mungkin dipersalahkan seratus persen. Bagaimana pendapat Anda ?

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif