Melotot

melototTanda sadar karena tuntutan kehidupan kita terjebak dalam perilaku membenarkan kesalahan, sehingga kesalahan-kesalahan yang kita lakukan tanpa perlu merasa bersalah karena orang lain juga melakukannya.

‘Apa lu melotot? Udah salah masih berani melotot lagi!’ begitu kira-kira yang ingin saya katakan kepada seorang bapak-bapak berseragam salah satu instansi pemerintah yang jalannya terhalang oleh kendaraan motor saya.

Kenapa sudah salah melotot? Karena ketika saya memacu sepeda motor saya lampu hijau sudah menyala. Dalam hal ini dalam pikiran saya tentu bapak tersebut yang salah. Artinya ia yang menerobos saat lampu merah sudah menyalah.

Memang bukan hal aneh lagi kalau dalam keseharian ketika berkendaraan di jalanan seringkali menemui keadaan seperti ini.

Selain seperti kejadian di atas, ada juga yang sudah salah melawan arus, malah melototi kita yang jalannya sudah benar. Sebab menghalang laju kendaraannya. Seakan kita yang sudah benar harus mengalah kepadanya yang salah.

Ada juga yang berhenti sembarang, sehingga membuat jalanan macet. Ketika ditegur malah tampangnya lebih galak dan hendak menelan mentah-mentah yang mengurnya.

Ada lagi yang maunya menyerobot tidak sabar antri. Mana kala dilihat sebagai teguran, bukannya merasa bersalah, justru memberikan tatapan yang menantang.

Ketika sudah lampu merah dan kita berhenti di belakang malah ada yang main klakson sekeras-kerasnya, karena menghalanginya untuk menerobos lampu merah.

Ada istilah kalau di jalan itu siapa yang lebih berani dan galak yang jadi pemenang. Terlepas dari salah atau benar.

Bagi kita yang sehari-hari keluyuran di jalanan yang seringkali mengalami kejadian ini tentu menjadi hal yang sangat menyebalkan dan menguji kesabaran. Bagi kita yang ingin belajar kehidupan, tentu sangat baik menjadi pembelajaran untuk melatih diri menjadi lebih sabar dan memaklumi.

Sebab dalam keadaan masing-masing orang yang sedang mengejar waktu atau setoran, melawan arus, menerobos lampu merah atau menyalip adalah merupakan pilihan.

Namun bagi kita sebagai pelaku adanya waktunya untuk menyadari untuk tidak selalu membenarkan perilaku yang salah dengan berbagai pembenaran. Sebab bila persepsi kita demikian, sulitlah kita untuk mengubah kebiasaan kita yang salah.

Membenarkan perilaku yang salah sungguh membahayakan hidup kita. Lebih berbahaya lagi kalau itu sudah menjadi karakter kita.

Kadang demi waktu yang cuma beberapa menit karena tak sabar menunggu menyalanya lampu hijau, tulang harus patah atau bahkan nyawa pun melayang. Sungguh miris, bukan? Mirisnya lagi kita tanpa sadar kadang-kadang suka mengikuti menjadi pelakunya.

[email protected]

Facebook Comments

About katedrarajawen

3 comments

  1. saya mau komentar aneh –> ‘melotot’ — kata dasarnya apa ya?? apakah ‘lotot’? http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

  2. jangan sampai keliru antara melotot dan melorot ya bang kate wkwkwkwk pisss bercanda kabuur aaah wkwkhttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  3. melotot ; tidak baik jika dilakukan berjam-jam :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif