Arsyad

arsyad

Belum habis heboh soal Bu Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, tak mau kalah muncul kasus tukang sate, Arsyad yang ditangkap polisi Kamis, 23 Oktober 2013 karena memajang gambar porno (editan) Presiden Jokowi dan Bu Mega, Ketua Umum PDIP beberapa bulan yang lalu di halaman media sosial, Facebook

Seperti biasa pro dan kontra langsung merebak dan Presiden Jokowi yang tidak tahu-menahu kena getahnya. Dianggap otoriter dan tidak pro rakyat. Ramai-ramai minta beliau membebaskan. Macam-macam komentar negatif bermunculan di media sosial. Mungkin tukang sate juga ada. Termasuk para pengamat yang pintar-pintar pun ikut bicara ikut membela Arsyad. Tindakan polisi dibilang reaktif dan lebay.

Apa yang dilakukan Arsyad dianggap cuma iseng dan rakyat kecil, sehingga tidak layak dihukum. Pak Presiden dianggap keterlaluan, beraninya sama rakyat kecil. Padahal  dalam kasus ada Bu Mega yang ikut jadi korban?

Yang pro penangkapan Arsyad juga tak mau kalah berkomentar untuk membela tindakan polisi. Alasannya hukum harus ditegakkan. Tidak pandang bulu. Tdak mau tahu kalau yang ditangkap tukang sate dan orang susah.

Yang standar ganda juga banyak. Waktu ada rencana  kontes Kecantikan Sejagat yang akan diselenggarakan di Jakarta, ramai-ramai protes dan demo. Acara tersebut dianggap menyebarkan pornoaksi dan tidak sesuai dengan budaya bangsa.

Eh, giliran ada yang sebar-sebar gambar porno dan yang jadi korban presidennya sendiri yang dibenci, malah si penyebar dibela setengah mati. Apa yang dilakukan bukan lagi sebagai pornoaksi, tapi sekadar iseng.

Nah, yang bikin serba salah bagai makan buah simalakama adalah sang presiden. Kalau segera memaafkan, maka akan diruduh pencitraan. Kalau kasusnya ditindaklanjuti sampai Arsyad masuk bui, maka Pak Presiden akan dianggap kejam.

Sebaliknya kalau kasus ini dibiarkan _karena sudah heboh_ kelak bisa menjadi contoh negatif dan bisa membuat yang lain, tukang ojek, tukang bakso, atau tukang-tukang lainnya ikut iseng memajang gambar porno pemimpinnya di media sosial. Toh kalau nanti ditangkap pasti banyak yang bela dan akan dimaafkan. Beres, kan? Sudah itu jadi terkenal. Siapa tahu lantas diajak ikut main sinetron ‘Tukang Sate Masuk Bui”.

Namun, bila meminjam kasus ini ada keberanian untuk menindak tegas pelakunya, maka bisa menjadi contoh dan menimbulkan efek jera untuk melakukan hal-hal yang melawan hukum. Ketika ada yang hendak iseng atau coba-coba meniru apa yang dilakukan Arsyad akan berpikir seribu kali.

Menyikapi kasus ini memang tidak hanya cukup dengan pakai otak. Tetapi perlu juga bijak. Apalagi cuma pakai dengkul.

Pelajaran lainnya seringkali atas nama ketidaksukaan kita kepada seseorang bisa membuat kita melakukan hal yang kelak justru akan merugikan kita sendiri. Jangan pernah kita berpikir bahwa keisengan itu tidak apa-apa. Sebab bisa saja justru menyebabkan malapetaka.

Belum habis heboh soal Bu Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, tak mau kalah muncul kasus tukang sate, Arsyad yang ditangkap polisi Kamis, 23 Oktober 2013 karena memajang gambar porno (editan) Presiden Jokowi dan Bu Mega, Ketua Umum PDIP beberapa bulan yang lalu di halaman media sosial, Facebook

Seperti biasa pro dan kontra langsung merebak dan Presiden Jokowi yang tidak tahu-menahu kena getahnya. Dianggap otoriter dan tidak pro rakyat. Ramai-ramai minta beliau membebaskan. Macam-macam komentar negatif bermunculan di media sosial. Mungkin tukang sate juga ada. Termasuk para pengamat yang pintar-pintar pun ikut bicara ikut membela Arsyad. Tindakan polisi dibilang reaktif dan lebay.

Apa yang dilakukan Arsyad dianggap cuma iseng dan rakyat kecil, sehingga tidak layak dihukum. Pak Presiden dianggap keterlaluan, beraninya sama rakyat kecil. Padahal  dalam kasus ada Bu Mega yang ikut jadi korban?

Yang pro penangkapan Arsyad juga tak mau kalah berkomentar untuk membela tindakan polisi. Alasannya hukum harus ditegakkan. Tidak pandang bulu. Tdak mau tahu kalau yang ditangkap tukang sate dan orang susah.

Yang standar ganda juga banyak. Waktu ada rencana  kontes Kecantikan Sejagat yang akan diselenggarakan di Jakarta, ramai-ramai protes dan demo. Acara tersebut dianggap menyebarkan pornoaksi dan tidak sesuai dengan budaya bangsa.

Eh, giliran ada yang sebar-sebar gambar porno dan yang jadi korban presidennya sendiri yang dibenci, malah si penyebar dibela setengah mati. Apa yang dilakukan bukan lagi sebagai pornoaksi, tapi sekadar iseng.

Nah, yang bikin serba salah bagai makan buah simalakama adalah sang presiden. Kalau segera memaafkan, maka akan diruduh pencitraan. Kalau kasusnya ditindaklanjuti sampai Arsyad masuk bui, maka Pak Presiden akan dianggap kejam.

Sebaliknya kalau kasus ini dibiarkan _karena sudah heboh_ kelak bisa menjadi contoh negatif dan bisa membuat yang lain, tukang ojek, tukang bakso, atau tukang-tukang lainnya ikut iseng memajang gambar porno pemimpinnya di media sosial. Toh kalau nanti ditangkap pasti banyak yang bela dan akan dimaafkan. Beres, kan? Sudah itu jadi terkenal. Siapa tahu lantas diajak ikut main sinetron ‘Tukang Sate Masuk Bui”.

Namun, bila meminjam kasus ini ada keberanian untuk menindak tegas pelakunya, maka bisa menjadi contoh dan menimbulkan efek jera untuk melakukan hal-hal yang melawan hukum. Ketika ada yang hendak iseng atau coba-coba meniru apa yang dilakukan Arsyad akan berpikir seribu kali.

Menyikapi kasus ini memang tidak hanya cukup dengan pakai otak. Tetapi perlu juga bijak. Apalagi cuma pakai dengkul.

Pelajaran lainnya seringkali atas nama ketidaksukaan kita kepada seseorang bisa membuat kita melakukan hal yang kelak justru akan merugikan kita sendiri. Jangan pernah kita berpikir bahwa keisengan itu tidak apa-apa. Sebab bisa saja justru menyebabkan malapetaka.

Facebook Comments

About katedrarajawen

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif