Batu

Sebongkah batu yang awalnya kotor dan tak berbentuk rapi lalu diasah dan digosok dengan telaten dengan alat dan bahan khusus, pada akhirnya menghasilkan batu dengan bentuk yang indah dan mengkilap serta bernilai. Melihat proses ini, bukankah hatiku yang kotor saat ini dapat pula diasah dan digosok dengan pembinaan diri, sehingga menjadi indah dan cemerlang serta bernilai?

Belakangan ini di tempat tinggal dan sekitar selalu menemukan tempat atau lapak menjual batu akik atau batu permata. Baik yang sudah jadi maupun masih dalam bentuk batu asli atau masih alami. Di tempat kerja pun ada sebagian karyawan yang memanfaatkan waktu senggang untuk mengosok sendiri dari bahan sampai menjadi batu yang siap dipasang di cincin.

Karena lagi demam batu permata, tak heran di tempat yang jualan HP pun ada memajang batu-batu akik. Tak mau kalah, di tempat pangkas rambut langganan di depannya pun menyediakan lemari kaca yang diisi dengan batu-batu beraneka warna.

Banyak sekali jenis batu yang ada. Dari yang murah sampai yang jutaan. Tetapi yang sedang jadi primadona memang batu bacan yang asal Maluku. Ada juga lumut Aceh. Kalau nama seperti Biduri Bulan, Zamrud, Safir  atau Kalimaya tentu sudah nama yang umum. Selain Ruby, Mata Kucing atau Merah Delima dan tentu saja intan atau berlian.

Yang jadi pemandangan menarik adalah saat ini di lapak-lapak penjualan batu permata tersebut menyediakan alat untuk memotong, mengasah dan menggosok dari bahan batu sampai berbentuk batu dengan model tertentu dan siap  diikat dengan cincin.

Saya pernah mengalami sendiri mengasah batu alam sampai jadi batu cincin dengan alat-alat yang sederhana. Dari batu asahan, amlpas, daun pisang kering dan bambu. Perlu ketekunan, ketelitian untuk membentuk sampai jadi berbentuk sesuai keinginan dan mengkilap atau bening.

Andaikan saja keahlian memroses batu alam yang masih kasar sampai berbentuk batu yang bening itu dilakukan dengan hati kita. Hati yang pada awalnya bening cemerlang dan kini sudah terselimuti kotoran, karat, atau debu kita bersihkan bagaikan mengosok batu permata.

Pada akhirnya pasti hati kita akan bening kembali seperti semula setelah segala kekotoran yang ada dapat dibersihkan. Berkilauan bagaikan berlian yang menyilaukan mata.

Apa kekotoran yang telah menyelimuti hati kita? Kebencian, cemburu, iri-dengki yang membuat hati kita tak berfungsi dengan baik, sehingga kita jauh dari kebaikan dan kebenaran.

Keserakahan yang menjadikan diri kita tak pernah puas. Mau lebih dan lebih, sehingga membutakan hati kita akan kebaikan dan kebenaran.

Begitu dengan api amarah yang seringkali menutupi mata hati kita. Amarah membuat kita tak bisa lagi membedakan mana baik dan mana yang salah. Amarah lebih memilih pemuasan keegoan, sehingga mengabaikan suara hati yang sayup-sayup masih terdengar.

Bila tak ada upaya membersihkan, menggosok, dan mengasahnya, sungguh sayang dan malang, hati kita yang bagaikan permata tak ternilai selamanya akan menjadi tak berharga. Sebab segala kekotoran batin yang ada telah menutupi kilauan permata hati kita.

Mengosok dan mengasah batu dapat dengan suka rela melakukannya. Begitu juga dengan membersihkan tubuh kita bila sudah berdaki. Bukankah semestinya juga dengan dengan suka cita kita membersihkan hati kita?

 

[email protected]

Facebook Comments

About katedrarajawen

4 comments

  1. Hati yang bersih itu adalah hati yang tak berpenyakit.
    Di antara penyakit hati itu adalah : iri, dengki, dendam, hasad, tamak, loba, kikir, riya, sum’ah, ujub dan ?

    Ah.., andaikan itu adalah hatiku …..

  2. katedrarajawen

    Ya Bang Pilot andaikan hatiku yang bersih bening seperti batu mulia itu http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  3. dah sana gosok hatimu biar kinclong Ko-Kat..

  4. katedrarajawen

    Ci Jo, gak mau nemani nih?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif