Home » SOSIAL BUDAYA » Catatan Harian » BBM Naik-Turun

BBM Naik-Turun

bbm baik turun

mansarpost.com

Ketika baru ada isu kenaikan BBM saja para pedagang sudah siap-siap menaikkan harga dagangannya. Begitu juga angkutan, ketika kenaikan sudah terjadi sudah tak tertahan untuk menaikkan tarif. Kalau harga BBM naik, semua pihak tak mau kalah dan punya alasan untuk menaikkan harga. Kalau tidak, pasti akan ramai-ramai demo.

Cuma anehnya, ketika harga BBM diturunkan, semua diam membisu seribu bahasa seakan tak ada yang perlu dibahas.  Tidak ada yang teriak-teriak untuk menurunkan harga dagangannya. Kenapa?

Melalui sedikit pengamatan dan pengalaman, para pedagang selalu punya alasan dan namanya pedagang memang selalu maunya untung.Waktu untung diam tapi kalau rugi teriak ke mana-mana.

Saat BBM naik, buru-buru menaikkan harga pula tapi saat harga BBM turun tidak serta-merta menurunkan harga. Alasannya tidak menurunkan harga karena stok barangnya masih membeli dengan harga ketika naik. Apabila diturunkan tentu akan rugi.

Kenapa kalau BBM naik lantas barangnya ikut naik padahal stok lama yang tentu membelinya dengan harga lama? Alasannya kalau dijual dengan harga lama, tentu akan rugi kalau hendak membeli stok baru yang harganya sudah naik. Memang pintar mencari untung. Sebagai pembeli kadang memang menjadi dongkol menghadapi keadaan ini.

Namun kemudian saya berpikir, andai saja saya yang menjadi pedagang, kemungkinan besar akan melakukan hal yang sama demi untuk mencari keuntungan. Menjual stok barang yang membelinya masih dengan harga murah kemudian menjualnya dengan keadaan harga sedang naik. Tentu akan mendapat keuntungan berlipat. Bukankah sebagai pedagang maunya demikian?

Lagi pula hukum ekonomi adalah dengan modal sekecil-kecilnya tapi berkehendak bisa meraup untung yang sebesar-besarnya. Walau kadang harus melanggar unsur keadilan. Yang penting prinsipnya bisa untung banyak.

Bukankah secara prinsip kita menjalani kehidupan seperti berdagang ini? Hubungan kita dengan Tuhan adakalanya pun seperti sedang berdagang. Kita mau beribadah sambil memikirkan keuntungannya.

Kita mau berbuat baik sambil memikirkan keuntungan yang akan didapat. Beramal sedikit berharap Tuhan akan melipat gandakan kekayaan bagi kita. Seperti halnya pedagang, kita tidak mau rugi dengan amal atau kebaikan yang kita berikan.

Tentu tidak semua orang demikian. Masih banyak yang ikhlas tulus dalam berkebajikan. Tetapi prinsip bisnis dalam segala bidang kini mencemari keikhlasan dan ketulusan kita. Apakah kita ada merasakan atau sudah tercemari?

katedrarajawen@pembelajarandarisebuahperistiwa

Telah dibaca 46 x , hari ini 1 x

About katedrarajawen

2 comments

  1. jadi kesimpulannya? manusia = kadal? Kalau bisa ngadalin kenapa enggak gitu? hihi… Hukum Alam Manusia “mau enaknya saja” — Kalo nggak enak tereak-tereak, kalo enak dinikmati dengan nyaman…http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

  2. katedrarajawen

    Iya enaknya simpul sendiri dan jadi dapat bahan baru buat menulis selanjutnya , Ci Jo hehehttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.