Home » Rubrik Khusus » Timba Sumur » Jangan Tertipu Penampilan

Jangan Tertipu Penampilan

Live in menjadi kegiatan tahunan bagi seluruh siswa kelas sebelas di sekolah kami. Mereka akan tinggal bersama penduduk setempat dan mengikuti kegiatan orang tua asuh. Memang ada kegiatan lain yang mereka lakukan yang memang sudah dipersiapkan. Seprti halnya mengajar, belajar kesenian tradisional, membuat acara bazaar atau pentas seni. Semua itu tergantung keberadaan masyarakat setempat.

Dalam kegiatan live in para siswa belajar secara langsung kehidupan nyata dalam masyarakat. Mereka akan jauh lebih memahami tentang toleransi, saling menghormati dan terutama mengerti apa yang dimaksud dengan empati. Kalau belajar di sekolah tentu hanya tahu secara teori. Namun, melalui kegiatan ini siswa mengerti langsung atau mengaplikasikan teori yang telah dipelajarinya ketika berada di sekolah.

Nilai-nilai kejujuran yang mereka pahami selama ini kadang dianggapnya sebagai teori belaka. Rasa kagum dan percaya terhadap kejujuran orang lain sangat mereka raskan ketika berada di lapangan. Mereka memahami arti kejujuran yang dimiliki masyarakat yang berada di pedesaan. Salah satu bukti kejujuran dan ketulusan masyarakat pedesaan sungguh mereka lihat dengan mata kepala sendiri. Salah satu bukti itu mereka temukan telah dilakukan oleh warga setempat. Ketika itu ada seorang warga menemukan uang Rp 100.000,00 milik salah satu peserta live in yang terjatuh. Si pemilik sedang berpikir kalau sebelumnya merasa telah menyimpan uang di dalam kantong celananya. Ia mendapati uang itu tidak lagi berada pada tempatnya. Akan tetapi ia masih berpikir mungkin uang itu sudah dipindahkan ke tempat lain.  Ternyata seorang warga yang menemukan segera menyerahkan uang itu kepada guru Pembina. Hem…luar biasa, sementara ketika warga setempat itu menemukan tak seorang pun melihatnya. Bisa saja ia langsung membelanjakan tak akan ada orang yang tahu. Bahkan pemilik uang itu sendiri belum sadar betul kalau uangnya jatuh.  Akan tetapi ia mengenali kalau uang yang ditemukan warga itu miliknya setelah seorang pendamping menunjukkannya.

Nilai kejujuran yang sungguh melekat pada masyarakat pedesaan. Mereka pantang makan dan mengambil yang bukan haknya. Walaupun kalau dia mau sebenarnya sah-sah saja untuk diambilnya karena ia hanya menemukan di jalan. Akan tetapi kembali bahwa kearifan lokal yang mengatakan, “Makan yang bukan haknya tidak menjadi berkat.” Kejujuran memang sangat lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

Kehidupan yang sederhana telah cukup mereka nikmati selama seminggu. Kini mereka harus kembali ke dalam kehidupan nyata. Sebagian besar  siswa memang menikmati dan sungguh-sungguh belajar tentang kehidupan. Walaupun demikian masih ada juga beberapa siswa yang merasa kehidupan live in dipandang sebagai mimpi buruk. Mereka merasa tidak bisa berkomunikasi dengan orag tua, tidak bisa menggunakan fasilitas yang sangat sederhana hingga makanan yang tidak sesuai selera.

Setelah seminggu tinggal di pedesaan, kini murid-muridku kembali masuk ke perkotaan. Suasana kota yang selama ini akrab dengan kehidupan mereka menjadi hal yang sangat mereka rindukan. Mall dan pusat-pusat jajanan atau makanan cepat saji yang menjadi gaya hidup mereka menjadi tujuan utama. Kebetulan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, mereka singgah dahulu di kota Yogyakarta. Setelah membeli berbagai oleh-oleh untuk teman maupun keluarga, mereka segera menyerbu salah satu mall yang berda di pusat kota Yogyakarta.

Suasana aman tenteram yang  mereka nikmati selama seminggu rupanya masih menjadi kebiasaan. Seorang siswa dengan santai memasuki mall dengan tas ransel menempel di punggung serta sebuah camera menggantung di lehernya. Ia tak merasa khawatir dan curiga dengan keamanan barang-barang miliknya. Tak berapa lama berada dalam mall ia merasa tertarik ingin membeli sesuatu. Ia segera memindahkan ransel ke depan untuk mengambil dompet. “Astaga!”  teriaknya, ternyata tas ransel sudah terbuka dan dompet yang berada di dalamnya telah raib.

Dalam kepanikan ia segera menghampiri security dan melaporkan kejadian yang menimpanya. Siswa ini pun meminta agar bisa  melihat rekaman CCTV yang kebetulan memang terpasang berbagai sudut mall. Keinginan ini pun dikabulkan oleh petugas, tentunya setelah ia mengisi beberapa data pribadi.

Singkat cerita mereka menyaksikan rekaman CCTV yang ada di ruang keamanan mall. Mereka melihat seorang pemuda membuka tas, kemudian berjalan meninggalkan korban yang belum menyadari. Rekaman masih berlangsung terus dan merekam juga ketika pencopet itu meninggalkan korban dan berjalan menuruni tangga. Rekaman terus berlanjut merekam pelaku hingga mereka memasuki parkiran. Sungguh mengejutkan, ternyata pelaku pencopetan itu mengendarai mobil sendiri.

Berdasarkan kasus ini, sungguh sangat kontradiktif kehidupan masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan. Penduduk desa yang kehidupannya sangat sederhana, ketika menemukan uang 100 ribu di jalanan tidak mau mengambilnya. Mereka sadar bahwa itu bukan miliknya, yang berarti tak elok untuk dinikmatinya. Mereka menyadari dan pantang untuk  makan barang yang bukan haknya.

Akan tetapi, di perkotaan kita bisa menemukan orang yang dengan sengaja mengambil milik orang lain. Walaupun  secara fisik atau  penampilan luar mereka tidak menunjukkan orang yang kekurangan. Jelas mereka mengendarai mobil pribadi dan datang ke mall. Akan tetapi kelakuan mereka justru sebaliknya.

Dari peristiwa ini kita bisa belajar, bahwa kita tidak boleh menilai seseorang dari penampilan luar. Masyarakat kita tak jarang memperlakukan seseorang yang berpenampilan sangat sederhana dengan kurang bersahabat. Bahkan ada yang dengan sengaja mencurigai mereka. Sebaliknya orang akan memperlakukan orang yang terlihat perlente dan mengendarai mobil pribadi dengan sangat baik. Akan tetapi dari dua kasus nyata di atas ternyata kita salah besar. Justru orang yang sederhana itu lah yang sebenarnya layak kita perlakukan denga baik karena mereka orang yang jujur dan tidak serakah. Semoga pengalaman ini bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita untuk menilai seseorang tidak berdasarkan penampilan. Marilah kita hargai sesama sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Salam-AST 02112014

Facebook Comments

About Anita Godjali

2 comments

  1. Betul mba Anita kejujuran itu sangat mahal harganya dan penampilan bisa menipu banyak orang tapi yach gitulah manusia yang dilihat pertama kali adalah penampilan walaupu sadar itu tidak bisa jadi jaminanhttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. Anita Godjali

    Akhirnya kejujuran menjadi barang langka di di negara kita, Mbak Ika. Selamat beraktivitas

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif