Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Marah Dan Kabur

Marah Dan Kabur

Kalau dikit-dikit marah, cape dong yang ngadepin? Tapi kalau sesekali marah, why not? Kemarin saya kesal untuk sesuatu hal yang menurut saya bukanlah kesalahan saya. Tetapi yang bersangkutan juga tak mau kalah, membuat sebuah situasi seolah itu sepenuhnya salah saya. Padahal jika mau di telusuri rasanya fifty-fifty. Saya ada salah, tetapi dia juga ada salah. Karena saya bertanya via texting dan digantung, tidak dijawab sama sekali. Miskomunikasi. Ketika saya datang kerumahnya, kemudian saya ditolak. Maka dari itu saya tidak suka korespondensi yang tidak usai secara penuh. Menurut saya tidak menghargai orang yang mengajak bicara atau bertanya. Tetapi saya paling tidak suka caranya yang 100% seolah mempersalahkan saya. Padahal saya biasanya tidak pernah rewel. Oya, saya sangat pendiam untuk komunitas yang saya hanya kenal so-so alias ala kadarnya. Dimana-mana saya diam dan baca buku di pojokan. Karena menurut saya itu lebih menarik daripada buang waktu dan omong kosong. Masalah hanya kecil, tetapi jengkelnya berhari-hari. Seperti bisul.

madnessSejak beberapa tahun silam saya punya kebiasaan save energy, malas marah. Menurut saya marah menghabiskan energi yang tidak enak. Pasalnya kadang kita tidak mencari gara-gara tetapi orang lain melakukannya. Saya pernah bersabar hingga belasan tahun, tetapi ternyata tidak berhasil juga. Saya tidak bisa lagi bersabar sampai mati, he-he... Biasanya kalau marah dan tidak suka, saya memilih kabur meninggalkan TKP. Karena saya pikir tokh tidak akan ada hasil apa-apa. Situasi tersebut hanya menyakitkan hati saja, maka hak saya untuk kabur dan menjauh. Tetapi ada hal-hal yang kita tidak bisa sembarangan kabur dan menjauh. Karena hal-hal itu kita butuhkan. Hal-hal itu adalah keharusan. Hal-hal itu adalah pakem kehidupan. Kadang memang harus marah karena marah memang emosi yang diciptakan oleh Tuhan.

Kalau marah tidak berguna, mengapa pula Tuhan menciptakan rasa marah? Pasti ada gunanya. Tetapi marah juga harus diseleksi. Penting atau tidak? Marah pada siapa? Efek dari kemarahan ini apa? Alasan terkuat apa? Marah yang harus dipertahankan adalah marah atas nama prinsip membela kebenaran, membela hak. Tapi lihat-lihat juga kasusnya. Permen coklat sepotong, kesenggol orang lain lalu jatuh ke lantai. Marahnya nangis sampe mata mendelik mau keluar. Pasti anak kecil, ya kan? Orang dewasa akan memilih alasan bijak untuk marah. Bahkan menurut saya kalau tidak ada keuntungan apa-apa. Ya sudah tinggalkan saja. Buat apa sih marah-marah? Hanya akan menjadi tontonan dan mempermalukan diri sendiri. Kebenaran akan selalu dicari. Kalau kita benar, orang lain akan mencari kita. Untuk minta maaf! Yup, untuk minta maaf,… Itu kalau orangnya masih punya nurani. Kalau tidak? Orang itu bukan jodoh Anda. Apapun dia bagi Anda sebelumnya. Pasangan, keluarga, sahabat, atasan, bawahan, tetangga,… apapun. Dia bukan jodoh Anda.

Nah, dari situ belajarlah mengatur amarah kita. Kadang bisa juga dilampiaskan dengan hal lain. Seperti melukis, jogging, menyanyi, atau paling asyik curhat atau curcol dengan sahabat. Atau dituliskan saja seperti yang saya lakukan. Tokh saya tidak menjelekkan siapa-siapa. Hanya berbagi cerita dalam sebuah frame perumpamaan yang orang tidak akan pernah tahu apa atau siapa. Ada banyak artikel tentang marah, tentang efek bahayanya pada tubuh. Saya tidak ingat satu persatu. Yang pasti saya ingat, wajah akan terlihat cepat tua! Saya pribadi tidak buang-buang waktu lagi untuk marah pada orang yang tidak lagi saya anggap penting, masa lalu yang tidak lagi saya anggap berharga dan aktivitas yang tidak lagi saya anggap berguna. Tetapi yang sulit adalah menjaga agar tidak marah pada orang-orang yang masih ada di lingkaran dalam kita. Orang-orang yang masih kita butuhkan dan kita anggap penting. Disini dibutuhkan unsur lain untuk menahan amarah, tidak hanya psikologis tetapi spiritual juga penting. Mosok sih mau lempar piring pada suami atau lempar sendal pada mertua?? Sejengkel-jengkelnya,… Gila kali, Ndroooo….?

Pernah melihat perkelahian yang ramai? Dua orang gebug-gebugan dan banting-bantingan. Riuh menabrak berbagai benda. Biasanya dalam adegan film Rambo atau Rocky. Gubrag kesana dan kesini. Seru sih nontonnya, nggak abis-abis pertarungannya. Itu adalah ibarat amarah yang merajalela kemana-mana. Ribut, berantem mulut. Saling bertukar perbendaharaan kata-kata keras, kasar, bahkan hingga sanak-saudara di kebun binatang di absen semua. He-he,... Aduuuuh pusiiiiing deh akh! Nah, kalau pernah menonton actionnya Jet Lee pasti tahu adegan totok urat nadi yang membuat orang lain diam. Atau adegan memiting kepala yang sekali putar langsung mati. Hegh! Bukan,…bukan lalu kita bertindak kriminal! Tetapi katakan saja to the point masalahnya. Dan mengapa Anda marah. Jika yang bersangkutan mengeles, membela diri, ngomong rentetan seribu kata, apalagi mengajak ke kebun binatang. Ya sudah, tinggalkan. Tidak usah diladeni. Yang penting Anda sudah menyampaikan maksud. Save energy! Kalau saya bahkan kadang tidak ngomong apa-apa. Lha, … saya tidak melihat manfaatnya juga untuk memberi-tahu yang bersangkutan. Hi-hi,… Yep, sing waras ngalaaahhhh…….

Quote: kemarahan yang terbaik tidak akan pernah terjadi tanpa kecerdasan yang tepat

Facebook Comments

About Josephine Winda

6 comments

  1. katedrarajawen

    Seperti kemarin yang saya tulis di ‘maaf’ memang paling susah menghadapi orang yang maunya menyalahkan tapi tidak mau disalahkan, tetapi banyak situasi ini terjadi sebenarnya bersumber pada kesalahpahaman, nah disinilah dibutuhkan pengertian untuk mendengarkan masalah yang sebenarnya, tapi itu ada sebagian orang yang tidak mau tahu, pokoknya semua salah kamu, titik :maho

  2. ha,,ha,,,ha,,,saya saat ini juga lagi belajar untuk mengendalikan diri dan emosi tapi kadang ga tahan juga karna anak muda ha,,ha,,ha tapi dari dulu saya lebih suka diam saat marah knpa gak buang waktu dan energi juga yang pasti ga bikin dosa ha,,ha,,ha

  3. Anita Godjali

    Mengendalikan emosi bagi sebagian orang sama sulitnya dengan mengendalikan kuda liar hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif