Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Ahok si Pitung dari Belitung

Ahok si Pitung dari Belitung

ahok

foto: twimg.com

Engkoh yang satu ini galak banget. Sampai kadang terkaget-kaget sendiri dengan gayanya. Ketika Ahok mendadak menyebutkan niat hendak keluar dari partai yang mengusung, timbul khawatir juga dengan segala sepak terjangnya. Beberapa teman yang masih ‘keturunan’ menyebut Ahok kalau bicara hendaknya perlahan sedikit. Kadang bicaranya tanpa direm. Teman yang keturunan ini masih menyebut dirinya dan Ahok sebagai ‘minoritas’ yang seharusnya lebih bisa membawa diri. Saya malah jadi heran dan sedih mendengar kata-katanya. Kata-kata ‘minoritas’ seolah sekumpulan penderita kudis dan gatal jamur, yang jangan sampai menulari lainnya. Bah! Yang saya khawatirkan bukan masalah minoritas tetapi kaitannya dengan segala konstitusi dan aspek hukum legalitas jika Ahok mundur dari partai. Siapa yang akan memimpin Jakarta? Proses panjang hingga Ahok tiba di DKI 2 dan akhirnya menuju DKI 1 tidaklah mudah! Banyak yang sangat berharap pada ‘tokoh bersih.’ Lalu kalau Ahok selalu bicara blak-blakan dan mempersulit masa depan kepemimpinan Jakarta yang bersih bagaimana?

Disisi lain saya mengerti sikap Ahok. Karena saya juga bukan tipe orang yang dapat bicara A dan dalam hati penuh kepalsuan mengumpat B atau berkeinginan C. Saya bukan jenis manusia bunglon. Demi suatu tujuan atau agenda terselubung, sanggup mencari muka pada semua pihak. Saya melihat juga, mungkin sudah saatnya orang berlaku to the point seperti cara Ahok., “Lu suka, lu bilang! Lu gak suka, lu bilang juga! Apa alasannya? Kalau salah diperbaiki. Kalau salah pengertian diberi kejelasan.” Bisa jadi selama ini ia juga menahan diri agar menurut pada keinginan partainya. Padahal dalam hati tak setuju. Ketika ketidaksetujuan itu mencapai puncaknya hal yang dapat ia lakukan adalah keluar dari kelompok. Memang butuh tekad yang kuat dan kesungguhan untuk menentang lalu pergi dari orang-orang yang selama ini kita kenal. Saya pernah mengalami juga. Tidak mudah! Tetapi ketika hati sudah tidak suka dan tidak sanggup lagi untuk bertahan? Daripada mati? Naluri untuk mempertahankan hidup bagi setiap orang berbeda. Ada yang bertahan demi sekeping perak. Ada yang bertahan demi sekeping kebaikan. Tinggal bagaimana pelaksanaannya sesuai nurani. Dan Ahok memilih mempertahankan sekeping kebaikan yang disebut kebenaran. Mereka pahlawan. Karena seperti kata Jokowi, “Kalau ingin cari uang, bekerjalah di perusahaan swasta! Bekerja untuk negara adalah amanah,…”

Demokrasi yang sejauh ini sudah sangat luar biasa hendak dikembalikan ke jaman purba ketika demokrasi disetir oleh segelintir orang. Segala proses pematangan demokrasi sudah terjadi di negeri ini. Dari lengsernya presiden yang pertama. Dari ‘mundur pandhita’nya presiden yang kedua. Dari persiapan pemilu yang lebih diharapkan rakyat oleh presiden yang ketiga. Presiden keempat pun mundur demi menghindari konflik. Presiden yang kelima pun kerap menerima hujatan. Presiden yang keenam dengan berbagai masalah dan celaan yang dilalui mampu bertahan hingga sepuluh tahun, cukup stabil. Lalu presiden ketujuh sudah terpilih. Rakyat Indonesia seharusnya sangat berbangga. Bangsa ini tidak bertikai apalagi mengorbankan sebagian besar rakyatnya. Dengan misterius Tuhan mengawal setiap perubahannya dan perdamaian selalu tercapai. Walaupun tidak lepas dari konflik dan pengorbanan yang tentu selalu ada saja. Karena para pemimpinnya mengerti, “Kapan rakyat butuh saya dan kapan saya harus mundur penuh wibawa sebagai pemimpin.” Memimpin yang disebut amanah tentu bukan kongkalikong dan capcipcup, “Sekarang giliran gue dapat jatah kue,…” Kemunduran dari proses pematangan ini yang membuat Ahok sangat marah. Ketika usia 69 tahun Indonesia seharusnya dijalani dengan kematangan, kini hendak dipermainkan oleh sekelompok orang yang ingin ‘Indonesia lebih baik lagi,’ menurut mereka. Mengangkat diri sendiri sebagai representasi seluruh bangsa. Berbahaya sekali ketika seseorang mengaku diri wakil rakyat lalu seolah sikapnya boleh beda-beda tipis dengan wakil Tuhan.

truth

foto: pinterest

Saya tidak suka melihat orang yang marah-marah dan berteriak-teriak. As I said, hematlah energi. Dibuang untuk doing sport atau being creative is okay. Untuk marah-marah? Cape sendiri kaliiiii…. Tetapi saya melihat seorang Ahok bukan sekedar masalah marah-marah. Tetapi ia lelaki yang tahu memasang patok/ tiang pancang wilayahnya dengan tegas dan berkata, “Ini rumah gue. Jangan lu acak-acak sembarangan! Kesabaran gue ada batasnya. Sabar bukan berarti lalu terus saja ada yang maju merangsek dan menginjak-injak harga diri. Dikira gue akan terus diam?? Enak aja!” Dan sikap ini ditunjukkan oleh seorang pria yang kulitnya putih, berkaca-mata, matanya sipit, yang katanya ‘minoritas’, dan barangkali tidak pernah bisa silat seperti Jacky Chen atau Jet Lee. Tetapi he did it! Dia menegaskan sikapnya. Dan untuk inilah ia harus diberi applaus. Untuk sikap yang pada akhirnya, “Terserah nasib! Tapi gue berpatok pada kebenaran, keadilan dan kejujuran. Lu mau apalagi? Mau cari cara apalagi untuk menzolimi rakyat dan memuaskan ambisi lu sendiri?” Proses kesabaran, kelegawaan dan pengawalan demokrasi yang sudah sekian panjang dilalui masih saja terus digoyang oleh segelintir orang. Anda tidak pernah mengganggu, tetapi Anda terus saja diganggu! Apakah suatu hari Anda tidak akan marah dan membela hak Anda? Rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas denganmu Indonesiaku, … kata Koh Ahok!

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Nah yang luar biasa, biar si engkoh Ahok suka marah2 herannya banyak yang suka….seperti kata Ci Jo karena marahnya bukan sembarang marah, justru yang aneh adalah perilaku para pegawai negeri yang sudah parah malah tidak ada pemimpin yang berani marah

    • hahahhaa…(ketawa guling-guling)…yang aneh justru orang yg malah TST — Tau Sama Tau, lempar senyum — gak pernah marah tapi ‘tau sama tau,… yukkkkkk…. wani piro…?’ http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif — capedeeee

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif