Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Asbun, Pengangguran dan Kampungan

Asbun, Pengangguran dan Kampungan

Kadang saya berjalan kaki dekat rumah dan beberapa orang bersuit memanggil atau cetak-cetok. Dan ini tidak dialami oleh saya saja tetapi juga oleh putri saya. Bahkan ia dikagetkan oleh segerombolan orang ketika sedang berjalan pulang membeli makan malam. Sialnya malam itu ketika saya juga sedang berjalan dengan putri saya, rombongan manusia pengangguran ini kembali berpapasan dengan kami. Mereka duduk-duduk santai sambil merokok dan mulutnya usil mengomentari wanita yang liwat. Sejujurnya selama ini didaerah tempat tinggal kami tidak ada orang-orang ‘aneh’ seperti ini. Kalaupun ada paling kuli bangunan yang tak lama kemudian lenyap setelah masa dinasnya nguli selesai.

66-Live-With-Your-Bad-Habits

foto: inspirationboost

Sulit untuk tidak mengidentikkan kurangnya pendidikan dan mental pengangguran pada orang-orang seperti ini. Tetapi jika ditarik garis lurus memang rasanya sebabnya hanya dua itu. Pertama bodoh dan kedua mental pengangguran. Miskin bukanlah dosa, tetapi kemiskinan menjadi kian mubazir dan dosa besar, ketika diisi bukannya dengan perjuangan, melainkan dengan sikap-sikap yang tak terpuji. Ketika lagi-lagi orang-orang tersebut sudah bersiap membuka mulut dan mengganggu ketertiban umum, saya menghentikan langkah. Apalagi kami memang penghuni wilayah disitu sudah sekian belas tahun. Lalu keempat orang-orang itu saya pandangi dengan tajam. Saya menunggu mulut mereka berkomentar lagi dan ingin saya tanya siapakah sebenarnya mereka itu? Berasal dari mana? Menetap dimana dan apa pekerjaannya? Dan bahwa mereka harus tahu, berkomentar pada wanita atau remaja yang liwat dengan kata-kata tak pantas itu termasuk tindakan mengganggu ketertiban umum. Saya berniat melaporkan pada keamanan dan ketua RT. Ibu saya dulu sering berkomentar pedas, “Dasar kampungan.”

Orang yang tidak bisa menjaga perilakunya dimulai dari orang kecil dengan mulut kecil maka dipastikan sekalipun ia menjadi orang besar akan bermulut besar. Hal ini nampak dengan banyaknya ‘orang besar’ yang asbun alias asal bunyi, asal ngomong njeplak. Logika tidak ada atau bahkan berusaha mempermainkan logika terhadap orang lain yang notabene tidak mudah dibodohi. Orang-orang ini adalah orang ‘yang tidak bekerja’ alias pengangguran yang suka bermalasan. Orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Orang yang kemudian entah dengan cara culas atau licik mampu menjadi ‘orang besar’ dan duduk ditempat yang tinggi, ‘terpaksa’ dihormati oleh banyak orang. Apakah kejadian semacam ini akan diteruskan hingga beberapa masa ke depan? Sebaiknya tidak. Sehingga tidak lagi ada perdebatan yang membuang waktu antara omong kosong dan omong fakta. Tidak lagi ada perdebatan antara fakta yang dikaburkan dan kebohongan yang dijejalkan. Ini jika bicara dunia perpolitikan yang akhir-akhir ini kian pelik. Jangan sampai rakyat berpikir, “Kami yang tinggal di kampung, tetapi kalian yang diatas kok lebih kampungan?”

Kembali pada masalah pengganggu ketertiban umum. Masih kesal sebenarnya dengan orang-orang yang duduk bersantai membuang waktu lalu mengganggu wanita liwat. Tetapi tidak bisa juga setiap kali bertemu kelompok manusia semacam itu saya harus bersikap garang, mencatat dan melaporkan segala perilaku begajulan. Tetapi setidaknya saya membuat perubahan kecil dengan melotot dan berniat menegur para pengangguran yang asbun itu, asal bunyi. Terbukti jika saya berhenti, menyapa dan menanyakan siapa mereka lalu apa maksudnya berkomentar usil, semuanya jadi diam sendiri. Enggan. Revolusi mental. Kurangnya perbaikan mutu pendidikan dan pelajaran budi pekerti yang tidak digalakkan. Inilah akibatnya! Muncul segerombolan besar pengangguran yang menganggap berkomentar asbun pada wanita adalah bagian dari hobby murah meriah. Sambil merokok, sambil ongkang-ongkang kaki di ujung gang. Apa yang harus dilakukan? Bagi saya hanyalah mendukung pemerintahan yang bersih, bebas korupsi, berakhlak baik dan perduli pada nasib rakyat. Perduli untuk merubah mentalitas, bahwa tidak akan ada orang yang demen menganggur begajulan di negeri ini. Yang ada hanyalah orang yang beristirahat sejenak, melepas penat dari kesibukannya bekerja, tidak pula hobby asbun. Saya berasal dari kampung tetapi sejak kecil ibu mengajarkan sikap-sikap aristokrat, mengajarkan sikap-sikap priyayi. Karena bukan kampung yang membuat seseorang kampungan tetapi perilaku yang tidak terasah baik dan budi pekerti yang kosong melompong. Itulah yang membuat seseorang tampak kampungan. Saya bangga berasal dari kampung dan mudah-mudahan tidak pernah bersikap kampungan.

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Di lain sisi apa yang dilakukan para pengangguran itu mengesalkan bagi Ci Jo cs tapi menyenangkan mereka. Apalagi cara kita menanggapi dengan kampungan pula, maka mereka akan semakin menjadi. Memang perlu elegan menyikapi, dengan melotot pun sudang memberikan warning.

    Ci Jo sebenarnya bukan hanya wanita saja yang diganggu, dulu saya juga pernah mengalami, ketika saya bekerja di pabrik yang dibangun di kampung, setiap kali saya lewati segerombolan anak muda meldek dan teriak2. Sekali tiga kali saya diam kan, pada akhirnya saya turun dari motor dan saya hampiri, apa maunya mereka?

    Saya bilang saya sudah bersikap sopan dan permisi kalau lewat, kenapa sikap mereka kurang ajar? Sampai ada di antara mereka yang ngancam saya dengan santet. Tapi sejak itu sikap mereka berubah jadi sopan kalau saya lewat…hehhe

    • yang penting kita nggak emosi, tanya aja “maunya apa? mau kenalan? mau minta tanda tangan? mau bentuk fans club atas nama saya?…. What do you want? kalau bisa dibantu ….ya saya bantu..” — wajar yaaaa Ritchie Ricardo… kemana-mana banyak fans…http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif