Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Menyenangkan Orang-Tua

Menyenangkan Orang-Tua

Seorang teman memasang status berduka karena ibu mertuanya tiada. Dan kelihatannya sungguh-sungguh berduka. Saya sendiri tidak pernah punya mertua, karena sejak menikah kedua mertua telah tiada. Tetapi saya punya sahabat-sahabat wanita yang sering sekali berbagi kisah betapa mereka sering menderita dan tertekan oleh perilaku ibu mertua. Maka ketika teman saya memasang status itu saya bertanya padanya, “Bagaimana bisa Anda sangat mencintai ibu mertua Anda? Sedangkan saya sendiri dengan ibu kandung pun sering kali tidak sependapat. Apa resepnya?” Teman saya kemudian mengatakan bahwa hidupnya pun tak beda dengan wanita-wanita lain yang pada awalnya tertekan oleh ‘dominasi’ ibu mertua. Tetapi dengan kesungguhan ia bertekad agar mampu mencintai ibu mertuanya itu setulus hati. Dengan bijak ia mengatakan, “Ingat, orang-orang tua adalah tamu di dunia ini. Setiap saat mereka dapat ‘pamit pulang.'” Sampai hari ini saya masih terkesan dengan nasihatnya.

Nasihat ini sempat saya lupakan hingga akhirnya ibu saya tiada dan kian mengerti maksud kata-katanya. Sekarang saya belajar ‘menyenangkan orang-tua’ sekalipun ibu saya telah tiada. Jadi saya mencoba bersikap sabar dan mengerti tentang sikap orang-orang tua. Memang ketika muda kita sangat tergesa dan tidak sabaran. Kadang melihat sikap orang tua kok banyak larangan dan tidak bolehnya. Banyak sok tahu dan sok mengaturnya. Tetapi sedikit banyak, memang karena mereka sudah mengalami hal-hal yang baru akan kita alami atau sedang dialami oleh kita. Sehingga yang mereka lakukan sebenarnya tidak lebih dari upaya menjadi ‘alarm’ atau ‘bendungan’ agar keputusan yang kita ambil nantinya tidak memerosokkan kita dalam lubang yang dalam. Menurut saya tetap tidak baik ‘menghujat orang-tua’ dan termasuk diantaranya orang-orang tua yang telah tiada dan bahkan pernah menjadi tokoh bangsa. Sekalipun ia pernah berbuat kesalahan dan tidak sempurna.

Suatu ketika saya membuat naskah tulisan yang panjang untuk kegiatan sosial. Dimuat di media yang juga sifatnya sosial keagamaan alias tidak berhonor. Ketika itu kebetulan ada ide tulisan, ada pengalaman dan sumber data mudah dicari. Maka saya selesaikan membuat tulisan dan diserahkan pada pimpinan media. Tidak disangka tulisan itu cukup menarik minat banyak orang dan bahkan salah seorang ‘sesepuh’ menghubungi saya. Ibu sepuh ini adalah salah satu tokoh dan aktivis di media komunitas tempat saya bernaung. Sehingga cukup lama saya mengenal beliau. Single pada usia tujuh puluh tahun. Hidupnya sangat sukses dan mapan. Sifatnya tegas dan gigih, kalau sudah ada tekad tidak mau mundur. Khususnya dalam bidang pekerjaan. Tidak punya suami dan anak. Paling banter yang menemani hanya keponakan-keponakan. Agak heran karena telah lama beliau tidak menghubungi saya. Mendadak sms dan bertanya ini serta itu. Ujung-ujungnya rupanya ia memiliki satu bahan dan makalah yang ia ingin saya menuliskannya. Padahal saya tidak begitu berminat dan tidak memiliki pengalaman yang cocok untuk menuliskan makalah tersebut. Alias tidak paham. Namun saya ingat kata-kata, “Menyenangkan orang-tua banyak pahalanya.” Akhirnya saya terima makalahnya, maka bertambahlah PR saya untuk ‘menulis.’ Hedeh,….. Minta honor? Ya, engga lah! Ha-ha,…

respect

foto: jokideo.com

Tadi di acara pertemuan keagamaan ada seorang eyang yang usianya sudah menjelang delapan puluh tahun. Lagi-lagi termasuk sesepuh. Acara diadakan dirumah eyang. Beliau suka sekali mengadakan pertemuan, bertemu orang-orang dan memberikan ceramah. Maklum di usia muda profesinya adalah guru SD ternama. Murid-muridnya mungkin sekarang bahkan ada yang sudah jadi mentri serta aneka direktur. Selain itu beliau juga mengajar pelajaran agama. Ketika acara renungan, waktu diberikan pada eyang sebagai tuan rumah. Apa yang terjadi? Astaga, eyang bicara panjaaaaaang sekali! Sepertinya separuh dari kitab suci diceritakan sendiri. Seorang anak tertidur pulas dipangkuan ibunya ketika eyang pidato. Rekan-rekan yang lain garuk-garuk kepala. Yang lainnya nyletuk menjawab keras-keras tiap eyang bertanya. Tujuannya agar eyang tidak ‘asyik sendiri’ ceramah. Namun tak satupun yang memperingatkan eyang tentang tenggat waktu bicaranya. Tidak tega! Yang terjadi sesi diskusi yang seharusnya dilakukan terpaksa ditiadakan. Alias dilompati. Setelah eyang ceramah langsung acara penutup dan tak lama kemudian bubar. Maklum ini Jakarta, ada yang masih punya seribu satu kegiatan. Harus segera pulang dan beristirahat. Waktu sedemikian kejamnya pada usia. Ketika muda semua orang tergesa diburu waktu. Ketika tua, waktupun tak bersisa bahkan hanya untuk sekedar bicara pada yang muda. Miris, sekali lagi janganlah lupa orang-orang tua adalah tamu. Setiap saat dapat dipanggil pulang. Apa yang akan Anda lakukan pada orang-tua yang ada disekitar Anda sekarang?

Facebook Comments

About Josephine Winda

6 comments

  1. benar. karena ridho orang tua adalah ridho Allah :)

  2. sampai sekarangpun belum bisa membahagiakan orang tua yanga ada bikin kesal mereka {ampun Tuhanhttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif}

    • heheheh… saatnya mencoba dan berusaha dari skarang…kadang org tua juga ‘susah dilayani’…banyak ngatur dan banyak maunya…. seringnya demikian …http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

  3. katedrarajawen

    Semoga menjadi pengingat kita yang masih muda, untuk dapat menyenangkan baik orangtua sendiri maupun orang2 tua yang ada di sekitar…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif