Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Gelitik Politik

Gelitik Politik

Sejak kecil/remaja saya bukan tipe penggerak organisatoris. Saya ini individualis, hanya hidup sendiri dalam dunia saya sendiri. Otomatis saya tidak tertarik sama sekali dengan dunia politik, pemberitaan dan segala lelakonnya. Hal yang serba ramai-ramai berjamaah. Dalam politik banyak hal yang tidak saya mengerti, tidak dipahami dan bukan bidang yang menarik untuk ditekuni. Tetapi manusia diubah oleh pengalaman hidup. Barangkali itu, yang membuat saya kini berpikir lebih luas daripada sekedar mempertahankan pandangan sempit yang sebelumnya saya miliki. Saya yang dulunya tidak mau tahu dan hanya gemar berkomentar dengan mengatakan politik itu kotor, kini entah mengapa jadi tergelitik. Dan tertarik juga untuk melihat gaya para aktor dan aktris yang berlaga di panggung politik.

Satu hal yang saya ambil kesimpulan sendiri dari hati kecil. Bahwa ketika hidup terasa begitu aman dan nyaman. Dengung politik saya rasakan hanya bagai dengung ngengat yang menggangu. Kini berita politik menjadi salah satu cahaya matahari yang memanaskan jiwa. Berhadapan dengan tahun demi tahun, yang saya lalui sejak masa lulus sekolah, berkeluarga dan bekerja. Saya melihat konektivitas antara politik, stabilitas negara dan kemakmuran rakyatnya secara keseluruhan, lalu per individu. Politik yang sehat akan menstabilkan negara dan memakmurkan rakyatnya. Sebagai individu, saya juga akan puas dan gembira. Hubungan ini dulu sama sekali tak nampak atau tak berpengaruh dalam kehidupan saya. “Who cares?” Kata saya ketika itu. Siapapun presidennya yang penting ‘saya’ sebagai individu sudah bahagia dan sangat tercukupi. Maklum ketika menjadi ‘anak mami’ — saya tidak memikirkan hal-hal diluar menjadi pelajar, mahasiswa dan pekerja. I’m doing my best, I should be okay, I will achieve something in life!…  Saya ingat ketika kerusuhan Mei dan kantor saya libur selama dua minggu. Saya asyik berlibur pulang kampung hingga di marahi oleh senior di kantor, “Winda this is a serious situation in the country, this is reformation dan kamu justru pergi berlibur pulang kampung??” Pemikiran saya saat itu sangat lugu dan tidak mau tahu. Kalau reformasi, lalu saya harus berbuat apa memangnya? Kalau negara dalam keadaan genting? Saya bukan tentara. Saya bukan PNS. Saya bukan dokter/perawat. Saya bahkan tidak bekerja di sektor migas. Apalagi? Kenapa saya harus ikut heboh urusan negara, sih?

Ternyata, di kemudian hari saya ‘menemukan’ bahwa hidup ini tidaklah adil! Lagian siapa yang mengatakan bahwa hidup di dunia ini akan adil? Hehe,... Naif sekali. Hidup di dunia ini, siapa cepat dia dapat! Cari-cari kesempatan dalam kesempitan! Dan pat-pat gulipat sebisanya harta disulap jadi berlipat! Caranya? Halalkan semuanya! Kagetlah saya. Tidak ada persepektif keadilan yang dapat saya terima, saya lalu terus mencari-cari keadilan. Kamu ada dimana, wahai keadilan? Masakan menunggu saya mati masuk surga? Baru merasakan keadilan? Itu juga kalau masuk surga? Kalau engga? Saya yang merasa “Saya sudah melakukan bagian saya dengan melakukan yang terbaik — saya kok hanya kebagian sampah yang tersisa? — Mana reward-nya? Mana Apresasi-nya? Mana Acknowledge-nya?” Ketika menyadari bahwa dunia tidak adil, saya mulai mengerti tentang tidak semua yang terlihat baik ternyata beneran baik atau yang terlihat jahat sungguhan jahat. Agak sulit main tebak-tebakan dalam lakon kehidupan, tetapi ini memang bagian dari permainannya! Korelasi yang harus selalu diingat adalah BAHWA hal-hal baik akan menghasilkan kebaikan. Dan hal-hal buruk akan menjadikan mudharat. Itu dalil yang mutlak!

Saya lalu melihat dalam kacamata yang lebih besar. Bahwa, tidak dapat berteriak sendiri ketika kita ini hanyalah sebuah titik di jagad raya. Kita harus bersama-sama dengan orang lain yang sepaham untuk berteriak serempak menyuarakan aspirasi. Jadi saya berpikir pemerintahan yang baik, serempak, rapi dan adil akan memberikan turunan yang sama. Ini artinya ke arah berbagai regulasi dalam negara. Lalu turun kepada masyarakat, aneka organisasi, institusi dan perusahaan. Seperti INTI sebuah ATOM, pemerintahan yang baik akan menjadi INTI suatu bangsa yang besar. Ada pertimbangan matang tentang reward, punishment, apresiasi dan acknowledge. Yang baik dikatakan baik dan yang buruk dikatakan buruk. Jangan TST, tahu sama tahu. Yang penting ada sesajen ‘wanipiro’ – lalu regulasi-regulasi bergulir dipelintir hanya untuk kepentingan segelintir orang. Ini mengerikan sekali. Ketika saya yang tadinya hanya menetap disebuah sudut, asyik menikmati kenyamanan yang lama-lama memabukkan, jiwa saya lalu memberontak. Kita ini manusia diberi akal budi, waktu kita terbatas. Besok dijemput maut, ya mati! Apa iya, akan kita habiskan waktu dengan acuh, bersantai, EGP dan ‘who cares?’ Apalagi setelah mempelajari dan membaca-baca berita politik yang perilakunya,”Astagaaaaa,…. kayak gini ngaku manusia? Beragama pula?” Saya mulai asyik memperhatikan dan mengikuti tingkah-tingkah para pelaku politik. Ada yang unik, ada yang menggelitik. Tidak kalah dengan opera sabun, ‘Devious Maids’ yang kadang saya tonton. Kadang-kadang saya membathin, ‘Udah jelek-idup-jahat pula! Kok bisa,….??’ He-he-he,... Paling tidak kalau nonton opera sabun beneran, para aktor dan aktrisnya pasti pilihan. Keren, dan enak dipandang mata.

Quotes_KellerSaya perhatikan lagi. Ada beberapa kawan, yang jika saya memposting berita politik seolah kurang suka. Sama sekali tidak tertarik dan tidak perduli. Persis dengan apa yang saya lakukan dulu. Kemudian saya amati. Oh, ternyata kehidupannya sedang berada di puncak dunia! Sedang manis-manisnya mereguk bulan madu dengan kehidupan. Muda, sukses, populer, berhasil dan kantong tebal. Wajar, ia sama sekali tidak perduli. Mau harga BBM naik, bukan urusannya. Mau apartemen murah perumahan rakyat disediakan atau tidak, bukan urusannya. Mau jaminan kesehatan JPS diselenggarakan atau tidak, bukan urusannya juga. Bahkan tak jarang ia mengomentari saya, “Kamu ngapain sih Win, ngurusin politik? Kurang kerjaan! Aku baru nonton dua detik di televisi melihat orang ribut-ribut berteriak di sidang parlemen, langsung muak dan kuganti ke channel film.” Saya cuma tersenyum simpul saja, tidak ingin membangunkannya dari mimpi indah yang begitu membius. Kasihan, mumpung sedang nikmat bermimpi! Politik itu jahat ketika tujuannya adalah memanipulasi sebuah generasi dalam suatu tatanan sosial kemasyarakatan. Tetapi politik itu juga menjadi satu-satunya jalan untuk membangun sebuah generasi dalam suatu tatanan sosial kemasyarakatan, yang diharapkan terus tumbuh menanjak keatas dan berkesinambungan hingga anak cucu berikutnya. Jika bukan kita siapa lagi? Jika bukan sekarang kapan lagi? Presiden terpilih adalah dia yang selalu berdiri diantara kita. Dan bukan dia yang berdiri atas kita, menginjak-injak dan menganggap kita, rakyat adalah para budak dan sapi perahnya.

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Kok sama ya kita ya Ci Jo? Dulu juga saya gak suka politik tapi demi tambah wawasan mau gak mau harus suka juga..bahkan ikut menulis, kalau sekarang cukup baca2 aja tapi gak ditulis lagi

    • Ya kesadaran ttg politik saya sih terlambat sekali…. Tapi tokh memang cukup sebagai ‘ibu-ibu pengamat disebuah sudut kota.’ — gak minat juga terlibat kekisruhannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif