Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Janitor Dalam Persepektif Kantor

Janitor Dalam Persepektif Kantor

real jobPernahkah Anda masuk ke WC umum di pusat perbelanjaan. Pasti pernah bukan? Pasti Anda akan melihat orang-orang yang bekerja sebagai janitor alias penjaga dan pembersih kakus. Apakah ada yang terpikir, bagaimana seseorang bisa berakhir pada pekerjaan membersihkan kakus? Sekalipun itu dibayar!

Mungkin bagi Anda yang merasa tidak pantas, tidak sudi atau gengsi, akan merasa ogah! Dibayar berapapun tidak akan berminat menerima pekerjaan sebagai pembersih kakus. Membersihkan tempat dimana orang-orang membuang kotoran. Ugh! Membayangkannya saja sudah ingin muntah. ‘Kejutan’ apa yang akan kita dapatkan sebagai janitor? Tidak mungkin akan mendapat hadiah kado, balon dan kue ulang tahun di tempat kerjanya. Pasti ‘kejutan’ lain yang akan mereka dapatkan di tiap-tiap kamar kakus yang harus dibersihkan!

Para penjaga kakus/janitor, mereka akan menjadi mahluk bayangan. Mahluk yang ada dibelakang layar. Apalagi penjaga kakus wanita. Bayangkan saja, seribu satu wanita mampir disitu, membuang aneka hajat. Lalu berkaca didepan cermin semuanya berlomba berdandan cantik, mematut diri dan ceria. Sementara para janitor duduk di belakang dan memperhatikan dengan seksama gerak-gerik para tamu pengunjung kakusnya. Kira-kira apa yang ada di benak mereka?

Jika saya yang menjadi janitor maka saya akan mengatakan, “Kok enak ning kowe, sepo ning aku,…” Yang artinya “Mengapa kenyamanan ada padamu dan kepahitanlah yang menimpaku??” Bagaimana tidak pahit, semua orang masuk WC buang hajat, lalu merasa lega. Lalu mulai dandan dan menebalkan riasan. Kemudian keluar ruangan guna melanjutkan acara gembira mereka dalam kehidupan. Entah shopping till you drop, entah berpesta till the morning dew. Sementara sang janitor? Diam-diam bangkit dari tempat duduknya lalu melakukan tugasnya. Membersihkan kotoran yang tertinggal!

Gajinya? Ada yang pernah tahu atau memperhatikan, berapa sih gaji penjaga kakus? Setinggi-tingginya? Coba katakan! How do you feel, jika suatu hari Anda akan ditempatkan sebagai penjaga kakus dalam hidup Anda? Apalagi jika terpaksa menekuni profesi ini hingga cukup lama, demi sesuap nasi, demi dapur ngebul. Bagaimana perasaan Anda kira-kira? Orang sering menganggap remeh dan tidak mengacuhkan orang kecil, pegawai kecil atau mereka yang bekerja di belakang layar. Anggapan mereka, apapun pekerjaanmu, tokh kamu dibayar. Benar! Tapi ada orang yang bekerja ringan dan dibayar mahal dan ada orang yang bekerja berat dibayar murah. Tergantung nasib! Siapa yang bilang adil?

Jangan terlalu sombong dan takabur, jika saat ini Anda bekerja di lantai enam belas sebuah gedung pencakar langit. Jika Anda mengenakan dasi dan jas hitam. Jika Anda mengenakan rok mini dan stocking hitam. Ada masanya Anda merasa berada di puncak dunia. Benar! Karena gedung tempat Anda bekerja adalah gedung pencakar langit, tentu saja Anda merasa sedang berada di puncak dunia! Tapi patokannya kan bukan itu! Apakah penampilan dan bungkus luar yang serba hebat mampu membungkus bagian dalam yang kotor dan bau? Pembersih kakus akan terpaksa melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Mau bagaimana lagi? Jika tidak dibersihkan pasti kotor dan bau. Sementara tempat itu memanglah tempat membuang kotoran. Akan mudah ketahuan jika seorang janitor malas atau tidak melakukan tugasnya.

Bagaimana dengan Anda? Dengan segala selubung diri dan aksi kemewahan yang ada di gedung pencakar langit yakinkah Anda tidak berprofesi sebagai janitor? Ha-ha! Bukan janitor yang sesungguhnya, tetapi janitor dalam perspektif kantor. Ini terjadi jika tugas Anda adalah ‘membereskan’ hal-hal yang dilakukan oleh orang lain! Anda harus membereskan booking tiket yang tak dapat dilakukan oleh rekan kerja Anda, Anda harus menyiapkan makalah seminar yang akan dibawakan oleh Boss Anda, bahkan kadang-kadang Anda harus membuatkan kopi untuk customer yang sudah tiba di kantor. Lalu yang menerima komplimen? Seringkali bukan Anda! Well, yup… maaf mungkin Anda juga janitor. Hanya belum menyadarinya,…

Pesan moral, tidak usah terlalu angkuh atas pencapaian diri apalagi jika pencapaian itu sesungguhnya hanyalah semu. Hanya kesan yang ingin disampaikan atau ditonjolkan kepada publik atau orang banyak. Lebih mulia jika kita menghargai orang kecil, profesi kecil dan sederhana setidaknya mereka tidak mengenakan selubung diri, menonjolkan sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Saya berlatih untuk selalu mengucapkan terima kasih kepada para janitor. Karena saya merasa pekerjaan itu adalah pekerjaan sunyi peminat, pekerjaan yang menantang nurani hati. Pekerjaan yang tugasnya berat, penghargaannya minim dan terlupakan oleh mereka yang dilayaninya. Brrr,…. trauma saya kadang masih terbayang. Bekerja sebagai ‘janitor’ dalam persepektif kantor. Bagi saya moral utama pengalaman tersebut adalah, kian menghargai pekerjaan orang lain. Apapun itu dan walau tampak sekecil apapun kontribusinya. We never know, if someday we’ll be on the same situation,...

Facebook Comments

About Josephine Winda

3 comments

  1. katedrarajawen

    Intinya jangan meremehkan pekerjaan sekecil apapun, andai tidak ada yang mau jadi janitor, mungkin wc2 di mall pada berkerak kotoran semua hehhe..tapi di tempat ibadah saya Ci Jo, malah ada boss2 yang memilih jadi janitor kalau ada kegiatan hehhe..dan mereka melakukannya dengan suka cita

  2. hal kecil ini memang perlu diperhatikan ;)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif