Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Bertepuk Tanpa Saweran

Bertepuk Tanpa Saweran

Sebuah fenomena yang pilu dan menyayat hati sesungguhnya. Ketika menyadari para orang-tua kita satu-persatu ‘pulang’ ke tujuan akhir. Lama – kelamaan kitapun akan tiba pada skenario yang kurang lebih sama. Well, be ready! Pengalaman saya menunggui ibu setahun yang lalu, tiga bulan dirawat dirumah sakit, masih membekas seolah baru terjadi kemarin. Seorang teman kuliah memasang status di jejaring sosial, “Selamat jalan mama, selamat berjumpa lagi dengan papa di surga.” Teman yang lain mengirim pesan pendek, “Mamaku terkena tumor ganas dan besok hendak dioperasi. Mohon doa restunya para sahabat!” Miris, seolah kita semua menghadapi pergantian musim semi kepada musim gugur di kehidupan. Lalu bagaimana kira-kira musim dingin? Bulu kuduk meremang.

judge

foto: quotesaying.net

Yang terbaru adalah kejadian dari seorang teman sekolah. Ibunya baru saja terkena serangan stroke yang kedua atau entah yang ketiga. Kemudian terjatuh di kamar mandi. Sempat beberapa saat memejam mata hingga dibawa ke rumah sakit ibukota propinsi. Setelah seminggu dirawat, keadaannya sama persis dengan yang dialami ibu saya. Tergeletak pasrah dan tak dapat bicara. Hanya satu – dua patah kata yang nyaris berbisik yang mampu diucapkannya. Ibu saya stroke ringan, gangguan paru/pneumonia (batuk berdahak) dan bahkan terkena bakteri MRSA. Bagi yang tidak tahu bakteri MRSA, hampir setara dengan HIV. Bedanya HIV menyerang kekebalan tubuh dan biasa timbul dari penggunaan jarum, seks bebas dan transfusi darah. Bakteri MRSA bekerja melawan antibiotik. Jadi obat yang paling kuatpun akan sangat sulit menembus/ melawan si bakteri MRSA. Hanya antibiotik tertentu yang masih diusahakan mampu melawan MRSA. Saya curiga bakteri ini sudah mulai memakan paru-paru ibu, karena dahaknya luar biasa kental dan banyak. Dahak yang timbul seperti lem tidak seperti layaknya dahak biasa. Bakteri MRSA ditularkan melalui rumah sakit. Dia adalah bakteri yang setia nongkrong di berbagai rumah sakit dan menambah parah si sakit. It was a nightmare, melihat ibu dilanda sakit demikian. Sungguh tidak tega.

Teman yang ini kemudian memutuskan untuk membawa ibunya pulang setelah dirawat seminggu dirumah sakit besar. Ia akan mengupayakan perawatan rumah dengan mempersiapkan sebuah kamar khusus untuk ibunya. Lengkap dengan ranjang, peralatan oksigen dan sebagainya. Bahkan menyewa perawat khusus. Jika dipertimbangkan memang jauh lebih murah melakukan perawatan dirumah, ketimbang menetap lama dirumah sakit seperti ibu saya. Namun kondisi masing-masing orang berbeda. Ada yang diijinkan dokter untuk dirawat rumah, ada yang masih harus di rumah sakit. Kira-kira dua atau tiga minggu setelah ibunya dirawat di rumah, tak lama kemudian beliau berpulang. Sungguh menyedihkan. Tetapi menilik keadaannya yang memang hanya tergeletak pasrah, rasanya sungguh tak tega.

Teman saya kemudian sedikit menyampaikan uneg-uneg, bahwa dalam banyak kasus sakit keras yang menimpa. Pihak keluarga besar paling mudah mengomentari, menjadi supporter dan mencela. Teman saya mengibaratkan, “Keplok ora tombok.” Berasal dari kata-kata bahasa Jawa yang jika diterjemahkan kira-kira adalah bertepuk-tangan tanpa membayar sesen pun. Ini artinya acapkali sok tahu, memberi saran, memberi aneka komentar, mempertanyakan, tak jarang pula menyalahkan. Seolah malaikat maut seharusnya dapat diusir dengan biaya termahal atau tindakan-tindakan tertentu. Padahal tidak ada kepastian sama sekali! Apakah dirawat dengan biaya mahal pasti akan sembuh? Atau dirawat dengan biaya murah pasti akan mati? Biaya layanan kesehatan dan rumah sakit di negeri ini luar biasa kejam mendera rakyat. Ini saja saya berbicara dari sisi pengalaman orang-orang yang menempatkan orang-tuanya di rumah sakit swasta yang elok dan kelas VIP. Begitupun biaya yang keluar terasa sangat mencekik leher. Rasanya tak dapat membayangkan bagaimana orang dengan kesulitan finansial akan mampu bertahan melawan penyakit. The best thing to do is stay at home and waiting for the death itself? Apalah jalan terbaik hanyalah tinggal dirumah dan menunggu saja ajal menjemput?

Setahun sebelum ibu saya meninggal, paman, adik ibu satu-satunya juga meninggal. Ketika sedang duduk makan tiba-tiba saja terkena serangan jantung. Jatuh merosot ke tanah dan tak lama kemudian wafat, tubuhnya mendingin. Sempat dalam hati mempersalahkan para sepupu saya, mengapa kurang memperhatikan ayahnya? Saya bahkan berpikir seandainya saya disana, saya akan mencoba-coba memompa jantungnya seperti yang saya lihat di film. As if, hal itu mudah kelihatannya? Setelah saya sendiri menemani dan merawat ibu sakit bahkan hingga tiga bulan dirumah sakit, saya baru tahu rasanya. Tidak semudah itu menghalau malaikat kematian. Apapun menjadi taruhannya. Upaya terkeras dan termahal tetap tidak menjamin nafas diperpanjang. Semalam saya membaca pernyataan ilmuwan terkenal Stephen Hawkings yang menyatakan bahwa dirinya Atheis dan tidak percaya Tuhan. Ia bahkan mengatakan surga hanyalah khayalan orang-orang yang takut pada kegelapan. Saya tidak dapat membayangkan, tanpa adanya kepercayaan kita kepada Tuhan lalu kemana kita akan meletakkan harapan? Apakah hanya pada diri sendiri? Tapi mengapa kita juga akhirnya mati? Ngapain berharap pada manusia yang jelas akan mati? Lalu bukankah kegelapan memang menakutkan? Kenapa manusia tidak boleh takut pada kegelapan? Maka Tuhanlah yang menjadi pegangan manusia untuk mati dengan tenang. Karena kita percaya pada Tuhan.

Keplok ora tombok. Bertepuk-tangan tanpa saweran, itu adalah keadaan ketika kita melihat orang lain menderita sakit parah lalu meninggal. Kemudian kita mencemooh orang-orang yang merawatnya. Merasa bahwa mereka kurang berbuat banyak. Merasa bahwa mereka kurang banyak membuang uang untuk pengobatan. Merasa bahwa mereka kurang meluangkan waktu untuk si sakit. Merasa bahwa mereka hanya berfokus pada kehidupan pribadinya, si sakit memang sudah waktunya kembali. Saya pribadi rasanya ingin menghabiskan semua harta yang ada dimuka bumi untuk kesembuhan ibu, tetapi itu tidak mungkin dilaksanakan. Ada kebutuhan lain. Ada anggota keluarga yang lain. Maka saya diingatkan dengan kata-kata itu, jangan mudah menilai orang lain. Mereka yang berusaha merawat si sakit, apakah kurang ini ataukah kurang itu. Semua tanggung-jawab akan kembali pada diri pribadi dan nuraninya. Tokh, kita hanya pandai menilai dan berkomentar. Apakah kita akan menjadi penyandang dananya? Apakah kita akan turut menanggung semua biayanya? Prihatin dengan keadaan para orang-tua yang sakit, dan dukungan pada mereka yang merawatnya cukup dengan doa. Tidak perlu bertele-tele apalagi sok tahu, saling menyalahkan. Saya juga masih belajar, berhenti menyalahkan diri sendiri.

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. katedrarajawen

    Sekali lagi menjadi penonton paling enak, bahkan orang yang tidak bisa main bola sekalipun bisa dengan pintar menyalahkan pemain kelas dunia yang sedang bermain di lapangan hehhe..goblok amat nendangnya begitu, coba begini pasti masuk ha ha ha

  2. f-i-agungprasetyo

    Well… kadang sebagai orang jawa agaknya ngerasa malu pula ada etnis lain yang lebih “Njawani”… hehe. Tulisan yang menarik ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif