Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Gusdur,… Anda Benar!

Gusdur,… Anda Benar!

Hampir sebagian besar teman-teman saya yang mengikuti proses jalannya sidang pemilihan ketua DPR semalam, berkomentar sama. “Kelakuan anggota DPR sama semuanya kayak anak TK!” Komentar ini sama dengan apa yang diucapkan oleh almarhum Gusdur. Saat beliau masih aktif menjabat di pemerintahan. Apa yang kita saksikan di layar kaca sungguh merupakan drama politik yang tak habis-habisnya. PDIP dan koalisi Indonesia Hebat didesak habis-habisan oleh koalisi besar yang sudah memendam hasrat untuk menang. Memicu mereka berlaku agresif dan membela haknya sebagai anggota. Segala daya upaya untuk berteriak dan bersuara tidak dapat dilakukan. Aneh, semua microphone di tempat rapat sidang dimatikan! Hanya beberapa microphone saja yang menyala. Sisanya sebanyak ratusan microphone itu diam bagaikan pajangan. Tidak ada yang menyala dan bersuara.

Koalisi Merah Putih bergerak cepat, membiarkan sidang dipimpin sementara oleh dua anggota kubunya. Yang diharapkan netral. Nyatanya tidak, dalam waktu singkat scenario seolah sudah di plot. Semuanya berjalan lurus mengenakan kacamata kuda dan pimpinan dewan dipaket hanya satu team. Apakah tidak aneh? Limaratus lebih orang bersama-sama dalam sebuah sidang dan langsung menyetujui lima orang saja yang mungkin tidak terlalu dikenal oleh semuanya, diangkat dan disahkan menjadi pimpinan hanya dalam waktu yang boleh dikata sangat singkat. 1×24 jam setelah mereka semua secara bersama-sama dilantik sebagai ‘para anggota dewan yang terhormat.’ Tidak ada team lain, tidak ada tandingan untuk maju sebagai kompetitor. Jadi ingat permainan monopoly?

Tidak ada kata ‘rakyat’ dalam kamus mereka. Siapa sih sebenarnya ‘rakyat’ yang selalu disebut-sebut dan digadang-gadangkan sebagai kesayangan semua ‘anggota dewan’ yang terhormat? Tidak ada yang pernah melihat wujud rakyat. Tetapi semuanya mengaku apa yang dilakukan adalah mulia. Demi rakyat, untuk rakyat dan hanya rakyat yang ada dalam hati dan jiwa. Sementara sebagian besar rakyat akan mencibir, “Mbelgedhes!” Sudahlah. Sulit menceritakan bagaimana proses ‘menjegal’ dan ‘mengebiri’ dalam sidang yang diisi ratusan orang dari seluruh penjuru tanah air, diam saja dan duduk manis. Tidak semuanya tergerak untuk mendengar suara hati, suara rakyat yang sesungguhnya. Tetapi di bibir mereka selalu berucap, “Oh iya, segalanya kami perjuangkan untuk aspirasi masyarakat luas. Seluruh rakyat Indonesia.” Hanya dapat mengelus dada melihat drama politik. Bahkan dengan tehnik ‘lypsinc’ pun mereka akan dapat sukses bernyanyi, tampil sebagai pembela rakyat! Bagaimana tidak? Basa-basi ucapan ‘kami perjuangkan hak rakyat’ – diucap oleh ribuan orang yang pernah duduk diparlemen, tinggal mencontek! Sejatinya apa yang dilakukan? Wallahualam! 

gusdur

foto: minnlawyer

Tetapi kata-kata ini adalah benar. “RAKYAT DAPAT MENILAI SENDIRI!” Rakyat tidak bodoh, rakyat melihat, mendengar, mengetahui dan menganalisa. Mana yang benar berkata setulus hati ‘demi rakyat’ dan mana yang menggunakan trik lypsinc mengatakan ‘demi rakyat’ namun dalam hatinya nyengir gembira, ‘demi nepotisme dan korupsi’. Pemenang pemilu menangis pilu karena kemenangan mereka adalah kemenangan tanpa mahkota seperti yang dikatakan politisi Rieke Dyah Pitaloka. Semua hak-hak mereka sebagai pemenang pemilu dikebiri habis-habisan oleh permainan strategi sejumlah elit politik dan sekitar tigaratus orang yang kesemuanya adalah ‘boneka partai’. Tetapi tidak usah berlama-lama menangis pilu, karena azab Tuhan pasti akan menimpa mereka yang menyiksa sesamanya. Regulasi dibuat bukan hanya untuk mempermudah kehidupan, namun memang kadangkala untuk mempermainkan kehidupan. (Coba deh, rajin nonton serial law & order, kali-kali bisa makin pintar menyiasati segala regulasi) Ada kalanya hidup di hutan sebagai kera dan langsung menggetok kepala musuh dengan sebutir kelapa menjadi ide yang menyenangkan. Daripada duduk beramai-ramai bercantik ria dengan setelan jas serta dasi, namun tidak mampu berbuat apa-apa. Setidaknya kera masih dapat menimpuk kalau jengkel!

Sungguh ngeri ketika menyaksikan ambisi, dendam dan hasrat akan kekuasaan menguasai seluruh pembuluh nadi. Hingga hampir-hampir tak bersisa lagi tempat untuk mawas diri, welas asih dan bijak menyikapi amanah. Sungguh mengerikan melihat segelintir orang terus menerus bermain memelintir undang-undang, tata-tertib dan aneka ayat, guna memenjarakan saudara-saudaranya sendiri. Dan bahkan guna mengadali (apakah ada kata dasar ‘kadal’ dalam KBBI yang berubah menjadi mengadali, boleh diciptakan deh!) rakyat yang selalu diumbarkannya kemana-mana sebagai sesuatu yang sangat dicintainya. Hati rakyat sudah tercabik luka dan menangis sedih. Ibu-ibu yang ke pasar. Lelaki yang bersepeda motor pagi sore dengan jaket butut. Anak-anak yang bermain di ujung gang. Perempuan penjaja gorengan keliling. Lelaki yang bekerja sebagai montir. Perempuan perawat. Dan mungkin perempuan ketus yang gemar menulis sarkasme tajam dan biasa hidup aman-nyaman, penuh cinta dan dilimpahi kasih sayang, seperti sa… Eh! Nggak usah buka rahasia. Pokoknya banyak hati rakyat yang terluka oleh ulah mereka. CATAT PEMILU 2019! CATAT SIAPA MEREKA dan jangan lagi ada kesempatan selanjutnya. Entah kedua, ketiga dll. Untuk sementara bersabar dulu dan well,… mengawal demokrasi seperti biasa. 

Facebook Comments

About Josephine Winda

6 comments

  1. katedrarajawen

    Melihat kondisi dan kelakuan para anggota dewan hanya satu kata ‘MUAK’, semakin muak bila ada yang satu kubu tapi tidak sesuai nuraninya hanya bisa diam tanpa berani melawan

  2. gitu aja kok repot :|

  3. f-i-agungprasetyo

    Dalam permainan monopoly, seseorang bahkan bisa aktif transaksi jual-beli rumah dan lain-lain padahal statusnya ditahan di penjara. Aneh pula ketika kita menjumpai praktik tersebut ternyata bisa dilakukan oleh banyak orang penting dan pejabat negara… seakan penjara hanya tempat “kost” saja… :(

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif