Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Akh,…Hanya Teori!

Akh,…Hanya Teori!

Tadi saya mengikuti seminar keagamaan. Saya berharap mendapat ‘pencerahan spiritual’ dengan mengikuti seminar tersebut. Yang ada malah mengalami ‘kebuntuan’. Jadi gini, seminarnya membahas salah satu tokoh yang ada di kitab suci dengan segala gelar kebesarannya. Dijelaskan mengapa gelar tersebut diberikan untuk sang tokoh, asal muasal pemberian gelar dan seterusnya. Sang pembicara menjelaskan dengan tepat mengapa si tokoh melakukan A, melakukan B dan menjadi inspirasi C. Caranya berkisah seolah ia pernah hidup berabad silam bersama para tokoh-tokoh yang ada di kitab suci. Seolah usianya seribu tujuh ratus tahun. Padahal usianya baru sekitar lima puluh tahun. Secara total ia hanya menjelaskan teori tanpa menyentuh ‘humanity’ atau kemanusiaan itu sendiri. Ini kaya kasih kursus renang tapi dari pinggir kolam, tanpa pernah nyemplung. Saya agak bingung jika religi hanya menjadi teori dan tanpa jiwa spiritualitas yang dituangkan pada sanubari manusia.

teology

foto : meetville.com

Gini lho,… Kita menceritakan semua kisah di kitab suci dengan baik dan benar. Ibarat kata kalau ada cerdas cermat kitab, nilai sang pembicara pasti seratus. Atau mungkin SERIBU? Tapi itu kan HAFALAN? Lalu untuk apa diHAFALkan? Kalau ilmu sejarah, okay lah dihafalkan, supaya tahu kejadian masa lalu, rentetan peristiwa. Ilmu pasti, dihafalkan rumusnya lalu dijadikan mesin pengelola faktor-faktor lain. Tetapi AGAMA hanya menjadi sekedar teori/HAFALAN? Untuk apa? Saya tidak berminat belajar keilmuan asal-usul kitab. Tidak ada niatan hidup jadi pemuka agama yang solehah, atau pembicara yang berkotek kemana-mana berbasiskan halaman sekian ayat sekian. Saya butuh kekuatan agama untuk memperkaya bathin dan  menjadi versi diri saya yang terbaik. Jujur saya bingung kalau dicekokin teori. Saya teringat kiasan mengenai ‘orang fasik.’ Bahkan ada seorang peserta seminar yang senada dengan saya dan bertanya, “Pak, ini judul seminarnya anu. Tetapi kenapa Bapak ceritanya ngalor ngidul dan terkesan tidak nyambung dengan judulnya?” Wheladhalah, dalam hati saya juga mau menanyakan hal yang sama. Cuma saya masih ingat sopan – santun untuk tidak secara frontal mempermalukan seorang pembicara di depan audience-nya sendiri.

Saya pikir judul seminar boleh sehebat apapun juga, tetapi isi MATERI-nya harus menyentuh humanity/ kemanusiaan. Tenggelam dalam lautan kehidupan dan belajar mengarunginya. Misalkan saya mengadakan seminar “CARA MENUJU SURGA”. Pembahasan melulu teori. Pertama memilih jalan. Kalau bisa jalanan yang diaspal. Jangan yang batu-batuan ditanam di tanah lumpur. Nanti licin, bisa kepleset. Lebih baik menumpang kendaraan. Jika punya kendaraan pribadi lebih baik. Tetapi kalau terpaksa naik kendaraan umum, ngeteng juga bisa. Jangan lupa mata yang awas, melihat segala petunjuk jalan yang ada. ITUKAH CARA MENUJU SURGA SECARA TEORI? Bagaimana jika langsung diberi kasus: “Anda naik motor. Hanya punya uang tersisa seratus ribu rupiah di dompet, niat mau ngapelin pacar. Lalu di lampu merah, seorang anak kecil pengemis menangis diperempatan jalan dan mengatakan belum makan selama dua hari. Lalu berapa uang yang akan Anda berikan pada anak itu? Alasannya? Ataukah Anda tidak akan memberikan uang sama sekali? Padahal Anda sudah sudah janji lho,…mau nonton ke twenty one plus makan brondong dan minum coca-cola sama pacar. Itu duit udah pas-pasan….. banget!” Jawaban akan pertanyaan ini, menurut saya dengan sendirinya sudah ‘menyentuh kemanusiaan’ – dan membuka JALAN MENUJU SURGA. Tinggal bagaimana Anda menjawabnya saja,…beda – beda tokh? Nggak usah saling menilai… Minimal berbisik dalam hati sendiri saja.

Ada yang akan menjawab, “Saya nggak akan kasih sepeser pun. Anak kecil gitu suka nepu di tepi jalan!” Ada yang berkata, “Kasih dua rebu cukup lah,… nanti yang lain juga akan nambahin saweran, lumayan!” Ada lagi yang menjawab, “Kasih dua puluh rebu saja, soalnya delapan puluh rebu masih mending bisa dimanfaatkan. Saya sama pacar saya bisa makan sate, lesehan ke pantai umum yang murah meriah. Gapapa lah ga jadi ke bioskop yang pake AC.” Ada lagi yang menjawab, “Ya, saya bagi dua aja. Kasih ke si pengemis cilik limapuluh ribu. Separuhnya saya bawa ke rumah pacar saya. Beri pengertian kalo duit di kantong cuma lima puluh rebu. Lalu kami duduk-duduk saja dan jajan nasi goreng yang liwat didepan rumahnya. Lumayan kaaaaan,…. sisanya masih bisa beli dua teh botol dan sebungkus ongol-ongol. Bonus rokok, sebatang – dua batang.” Ada juga yang akan menjawab, “Saya berikan semua seratus ribunya ke anak itu. Kasian nangisnya sampe kayak gitu dan mukanya memelas banget. Kayaknya nggak mungkin bohong, deh!…” LALU yang mana JALAN MENUJU SURGA? Nurani Anda yang akan membisikkannya. Bukan kata-kata dari seminar, atau saya yang memberitahukan jawabannya. Anda sendiri yang akan menemukan jawaban Anda,… Walaupun sama-sama teori, setidaknya kasus yang diberikan akan ‘menggelitik’ iman Anda sebagai penganut agama. Dari pada sekedar,… Akh,..teoriii….! 

Hidup ini bukan sebuah buku.

Hidup ini tidak logis, tidak masuk akan dan tidak pula teratur berurutan.

Hidup ini kebanyakan hanyalah berisi kekacauan.

Dan ilmu agama harus hidup tengah segala kekacauan tersebut.

Facebook Comments

About Josephine Winda

8 comments

  1. mungkin perlu dibuktikan agar menjadi kenyataan ;)

  2. f-i-agungprasetyo

    Suka banget dengan tulisannya yang ini. Setuju… :beer: bersulang! http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  3. katedrarajawen

    Semalam iseng2 setelah lama gak nonton mahabrata saya nonton lagi, habis itu ada kisah mahadewa, nah ada sepasang suami istri yang memuja sang mahadewa, demi untuk menguji ketulusan mereka, sang dewa menyamar menjadi petapa yang hendak menumpang tidur, pertama si suami agak keberatan karena rumah mereka hanya cukup berdua, tetapi sang istri mengingatkan dan akhirnya sang petapa disuruh tidur di dalam dan mereka tidur di luar rumah.

    Saya rasa hal yang sering juga saya atau kita alami, ketika kita hendak berbuat baik atas janji surga betapa indah teorinya, tetapi ketika dihadapkan kenyataan, ketika kesempatan berbuat baik datang begitu banyak pertimbangkan atau bahkan mengabaikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif