Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Harga Seorang Manusia

Harga Seorang Manusia

Keluhan saya rasanya selalu sama, “sibuk”. Padahal CEO bukan, disebut konglomerat juga jauh! Menurut saya ‘waktu’ itu pencuri yang paling cerdik. Dengan kecerdikannya waktu akan selalu mengelabui kita. Seolah hari esok masih akan selalu ada. Iya, ada tetapi tenaga kita sebagai manusia masih adakah? Bertambah usia, bertambah masalah, bertambah beban? Lalu esok hari masih dirasakan akan jadi hari bahagia? Syukur deh, artinya optimisme Anda masih sangat baik kadarnya! Sama seperti saya! Paling tidak saya masih selalu bersemangat untuk menulis dan berbagi aneka kisah. Abis yang dapat dibagikan hanya itu? He-he-he,…

human_dignity_is_more_oregon

foto: tahirfarooq

Minggu lalu keponakan suami datang dari Manado. Suami memiliki satu batalyon keponakan. Dan karena orang Menado, rata-rata bertampang cukup menarik dan beberapa keponakannya juga memiliki tinggi dan proporsi tubuh yang diatas rata-rata. Sayangnya tidak ada yang menjadi model/peragawan. Semuanya hanya ‘manusia biasa’ yang harus bekerja keras untuk mencari nafkah, tidak ada yang menjual ‘modal tampang’ saja. Si keponakan ini ‘brondong’ usianya 24 tahun dan baru pertama kali ke Jakarta. Walhasil, Oomnya lumayan bersemangat mengajak keliling Jakarta. Sebagai ‘Tante’ yang baik saya menemani. Agak terganggu dengan panggilan ‘Tante’ tetapi ini memang keponakan sendiri, masakan dia harus memanggil saya “nyonya” atau “madame”. Hmmm,… ribet deh! Pokoknya weekend sibuk acara keluarga, pergi ke sudut kota nun jauh di Bekasi.

Sepulang dari Bekasi. Kami berniat mampir ke Kelapa Gading Mall, mengantar orang yang baru pertama kali merambah Jakarta. Ada rasa ingin tahu dari si keponakan dan ada rasa sok tahu dari tuan rumah untuk memperlihatkan “sisi-sisi Jakarta.” Karena putri saya minta untuk ditemani dan duduk di jok belakang bersama saya, maka keponakan dan suami saya duduk di jok depan. Jok belakang juga gelap gulita. Dari jauh di mobil kesannya duduk dua orang pria di jok depan, malam minggu, jalan-jalan ngelencer berdua nge-gaul. Padahal ini ada Oom, Tante, keponakan dan anak. Nggak mungkin jugalah di jendela depan mobil ditulis : ‘Mobil keluarga baik-baik dan waras.’ Itu namanya HIPERBOLA. Nah, karena di depan mobil terlihat dua cowok gaul, dilampu merah mendadak ada yang mencegat!

Seumur-umur saya berkendara dengan suami, selalu duduk di jok depan berdua, menemani dirinya. Muncul sebagai pasutri, pasangan suami istri. Putri saya duduk di belakang dan kadang tiduran. Baru kali ini dikarenakan adanya keponakan yang datang, maka di jok depan seolah terpajang ‘dua cowok’. Kebetulan suami perawakan hampir sama dengan keponakannya hanya saja lebih pendek. Yang mencegat adalah waria lampu merah. Perasaan sudah tidak enak, karena biasanya tidak pernah ada orang yang aneh-aneh muncul di depan mobil. Lalu mendadak saja, si waria tersebut membuka pakaian dalamnya dan berdiri dengan ‘aksi seksi’nya didepan kaca mobil dalam jarak dua meter didepan. Memamerkan sesuatu yang sangat tidak sepantasnya dipamerkan! Suami dan keponakan luar biasa terkejut. Saya dan putri saya juga kaget namun dapat bersembunyi di punggung para pria.

ASTAGANAGA! Tidak ada kata yang dapat mengungkapkan keterkejutan kami sekeluarga. Suami dan keponakan merasa mual, apalagi setelah memamerkan ‘sesuatu’ tersebut, waria yang bersangkutan berdiri disamping jendela suami dan berharap diajak bercakap-cakap. Percakapannya apa? Ya, tebak sendiri lah! Beraneka komentar muncul dari mulut suami dan keponakannya. Suami merasa sial karena menjadi penonton dadakan ‘atraksi’ yang sama sekali tak diharapkannya. Keponakan merasa mual karena tidak menyangka bahwa di lampu merah seseorang dapat menjajakan dirinya seagresif itu. Saya merasa malu pada putri dan keponakan saya, yang dua-duanya sudah menginjak remaja. Keponakan kami bahkan sudah termasuk ‘dewasa muda’. Lalu apa kata duniaaa??? Waduh!

Pada akhirnya kami merasa ngeri dan enggan, setelah menjumpai adegan yang luar biasa agresif di perempatan kelapa gading. Dan juga malas untuk berputar balik dikarenakan macetnya nggak ketulungan di wilayah situ, kami lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saja dan batal menuju ke mall kelapa gading. Sepanjang jalan kami masih memperbincangkan ‘aksi’ yang terbilang ‘gila.’ Entahlah bagi orang lain mungkin hal tersebut biasa saja. Bagi kami cukup luar biasa. Berbagai komentar kami lontarkan seputar ‘penampakan’ sang waria. Ada rasa sebal juga, ngeri, kaget dan tentunya kasihan. Kadang kita terlalu naif memandang dunia dengan hanya berusaha melihat yang baik-baik saja. WHY? karena kita ingin yang serba baik. Tetapi kita kemudian menutup mata atau tidak sadar bahwa banyak orang yang kurang beruntung dan terpaksa melakukan hal yang tidak baik. Kadang bukan karena SUKA tetapi karena TERPAKSA. Dan itupun masih ditambah dengan hujatan dan hinaan banyak orang. TETAPI saya lalu bertanya pada diri sendiri. Sebenarnya berapa harga seorang manusia? Apakah harus dibanting serendah itu? Seribu tiga?

Kok, kayak dagangan kaki lima saja,….

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Ada benarnya adakalanya seseorang melakukan keburukan karena terpaksa dan dengan hati menangis demi menyambung hidup. Kalau soal harga, mungkin bisa kalah dengan harga seekor ayam. Tidak pernah? Ayam mati dagingnya di pasar masih bisa laku, manusia mati di jalanan dagingnya ada yang mau beli?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif