Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Balada Elang Jawa

Balada Elang Jawa

Ini masih tentang tetangga saya Bu Sus. Kadang-kadang saya dolan ke rumahnya. Rumahnya asri, adem dengan beberapa pepohonan teduh didepannya. Jika sore-sore duduk di beranda depan, suara burung masih terdengar mencicit manis. Memiliki rumah yang beraura menyenangkan seperti ini adalah tipikal kehidupan pensiunan yang didamba oleh sebagian besar orang. Benar tidak? Didepan rumah rumah  Bu Sus ada sebuah kandang besi yang besarnya kira-kira 120 x 120 meter. Besinya pun kokoh. Didalamnya ada seekor burung yang sangat mempesona. Saya sering menyapa burung itu dengan kata-kata ‘helloo..’ tetapi ia diam saja. Hanya angkuh dan balas memandang saya dengan sinar matanya yang tajam. Tentu saja ia tak dapat menjawab karena ia bukan burung beo, dia adalah burung ELANG JAWA.

57-Success-Quotes-to-Inspire-25

foto : dougleschan

Saya terkagum-kagum melihat burung ini. Mengingatkan saya pada lambang negara, si Burung Garuda. Burungnya memang gagah dan kesannya sombong, acuh, merasa yang paling perkasa. Burung aja bisa nyombong yaa,… cuman ada fakta yang mengejutkan mengenai Elang Jawa milik Bu Sus ini. Menurut Bu Sus burung ini dibawa pulang ketika usianya masih kecil. Diperoleh mendiang suami Bu Sus ketika melakukan acara berburu di sebuah hutan. Jadi burung ini kemudian selalu dipelihara olehnya di dalam sangkar. Di habitat alamnya, Elang adalah burung perkasa. Jika darat dikuasai oleh Singa, boleh dikata Elang adalah penguasa langit. Tetapi elang kehilangan keperkasaannya. Sejak diambil dan dijadikan hewan peliharaan oleh manusia. Elang milik Bu Sus sudah delapan tahun dipelihara, ia terbiasa disediakan makanan daging setiap harinya. Ia tidak pernah meninggalkan sangkar dan rasanya tidak pernah terbang tinggi lalu menukik tajam di langit lepas. Elang yang perkasa ini menjadi tak beda dengan marmut atau tikus putih yang hanya diam dan bermain – main sendiri di dalam sangkarnya. Menurut Bu Sus justru jika dilepas ke alam bisa jadi elang ini akan mati. Ia tidak bisa berburu! Ia tidak terbiasa di alam liar!

Bulu kuduk saya merinding membayangkan hewan yang perkasa, tetapi tidak tahu dan tidak mengeksplor kemampuannya. Karena ia terbiasa dimanjakan dan disuapi sejak kecil. Ia tidak dilatih untuk menguasai langit sesuai dengan kodratnya sebagai Elang. Sebaliknya ia bertengger manis bak kelinci dibalik sangkarnya selama bertahun-tahun. Sedih rasanya. Bayangkan kemampuan yang sangat dahsyat terlupakan begitu saja dan bisa jadi akan lenyap seiring waktu. Segala atribut, perlengkapan yang disediakan Tuhan, mata yang tajam, cakar yang kuat mencengkram dan sayap yang aerodinamis mampu membelah langit, tidak pernah di manfaatkan oleh Elang peliharaan Bu Sus. Tetapi elang ini hanyalah hewan.Mungkin ketika ia kecil dan ditemukan oleh pemburu, yang tak lain dan tak bukan adalah suami Bu Sus baginya tak ada pilihan selain menjadi hewan rumahan, hewan peliharaaan.

Tetapi bayangkan jika kasus ini menimpa manusia atau seseorang, yang barangkali memiliki kemampuan lebih untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi ia tidak pernah mengeksplor kemampuannya itu. Ia hanya berhenti pada sangkar-sangkar yang membatasinya. Tidak mau membuka pintu sangkarnya sendiri. Ia hanya duduk diam disitu, menanti pagi dan petang, ketika daging-daging dihantarkan sebagai hidangan. Orang-orang yang dimanja keadaan seringkali tak sadar, bahwa dirinya adalah elang sang penguasa langit. Mereka bersikap seperti marmut atau kelinci yang manis dibalik sangkar yang dibuatnya sendiri. Balada Elang Jawa-nya Bu Sus mengingatkan saya bahwa manusia harus rajin untuk mengeksplor kemampuannya sendiri, mengasah kecerdasannya dan meneliti medan yang ada dihadapannya. Jangan berhenti pada sangkar-sangkar, yang sesungguhnya tak pernah terkunci. Contoh saja Jokowi, bisa saja ia berhenti pada pekerjaan eksportir mebel. Hidup manis di Solo dengan anak-anak dan mungkin cucu-cucunya kelak. Tidak perlu difitnah sebagai Herbertus atau fotonya dilecehkan sembarangan. Tetapi tidak! Dia mengeksplor segenap kemampuannya, lalu terbang membelah langit. Dialah si Elang Jawa yang sesungguhnya. Dan kini menjadi presiden RI yang ke-7.

Ket gambar.

Kebanyakan burung-burung berteduh ketika hujan turun,

tetapi ELANG adalah satu-satunya burung yang TERBANG diatas AWAN untuk menghindari hujan.

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. katedrarajawen

    Mantaf ya Ci Jo, kalau setiap makhluk hidup tidak sesai kodratnya akan sayang sekali dengan potensi yang ia miliki, atau sayang sekali bila justru kita sendiri yang maunya hidup dalam sangkar, sehingga takut melepaskan dirihttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  2. Anita Godjali

    Ketika “Elang Jawa” ini mengangkasa memang banyak “predator” yang ingin memangsanya. Para “predator” ini takut sangkar impiannya tak lagi dapat dinikmati. http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif