Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Bercermin Pada Anak

Bercermin Pada Anak

Melihat putri saya, seringkali saya teringat diri saya sendiri ketika seusianya. Ketika remaja dan jadi lebih mudah meraba-raba apa yang dirasakannya. Melihat putri, saya teringat oma dan ibu. Bagaimana pada setiap generasi diturunkan model yang diharapkan akan lebih baik dari yang sebelumnya, varietas unggul. Emangnya padi? Ini seperti processor komputer setiap saat selalu di upgrade dan makin canggih. Bukankah demikian harapan para orang-tua bagi anak, cucu dan cicitnya? Seharusnya ada generasi yang lebih baik lagi yang menanti di masa depan. Berdasarkan pengalaman itu. Saya kerap melihat ke depan lalu kebelakang. Seperti orang yang mengemudikan kendaraan harus berhati-hati melihat ke kaca depan namun juga melirik ke spion untuk melihat kendaraan yang ada dibelakang.

Saya sering berpikir bagaimana dulu ibu memperlakukan saya. Hal-hal yang kurang saya sukai akan saya usahakan tidak saya lakukan pada putri saya sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama pada generasi berikutnya. Demikian pula kesalahan yang saya lakukan pada ibu sering saya ingatkan pada putri saya bahwa sebaiknya ia jangan berlaku sama. Seperti apa yang saya lakukan pada ibu dan nenek. Ketika putri saya masih sangat kecil berusia satu hingga tiga tahun, ia sangat manis dan penurut. Saat usianya tiga tahun pernah saya pura-pura pingsan untuk mengetahui reaksinya, yang ada ia langsung membungkuk menangis dan berteriak, “mami……….!” Sekarang ketika usianya telah ABEGE apapun keluhan yang saya sampaikan jawabannya, “mama,… u lebay…” Ha-ha! Nyebelin abis.

misbehavingHowever punya anak yang tadinya menurut saya akan menakutkan, ternyata sangat menyenangkan. Melihat seonggok bayi yang tadinya sangat kecil, hanya setengah dari lengan saya. Kini tumbuh besar, bahkan lebih jangkung daripada saya. Dan putri saya sudah sangat jengkel ketika masih saya ‘kudang-kudang’ itu bahasa jawa untuk anak yang selalu diperlakukan seperti anak kecil. Misalnya dicolek pipinya, dielus rambutnya dan disayang-sayang. Yang ada merasa sangat terganggu dan jengkel, “mamiiiiiih! jangan aneh!” It was a right decision to have a baby when you really have a picture in your mind, what he or she gonna be. Kalau ingin punya anak sebaiknya beneran diatur dan direncana dalam benak. Kalau anak saya tumbuh dan besar, kira-kira seperti apa karakter atau profesinya kelak. Sehingga kita sudah membuat ancang-ancang atau patokan ke arah mana bocah ini akan diarahkan atau ditunjukkan jalan. Jangan punya anak dengan pedoman, “Yah tergantung se-dikasihnya sama Tuhan. Besok jadi apa ya nunggu Tuhan kasih rejekinya gimana. Ngasih makannya gimana,… ya entar liat lah.” Mmmm,… not so wise. Kurang elok lah itu, kurang bijak. Ini mau melahirkan anak manusia atau bukan?

Sulit bagi saya untuk membiasakan diri dan bercermin bahwa putri saya sudah kian dewasa. Bagi para orang tua, seorang anak yang sudah punya anak seperti saya pun masih dianggap anak-anak! Jengkel lah ya. Maka saya perlahan selalu berusaha menggeser perlakuan dari anak-anak kepada memperlakukan dewasa muda atau remaja. Bawaan orang tua kan serbanya ngamuk, gahar, kasih keputusan sepihak (pokoknya dari mami keputusannya gitu! harus nurut!!). Jamannya udah berubah coy! Yang ada darah tinggi selalu membayangi. Perlahan menggeser perlakuan ini termasuk lebih banyak mendengarkan cerita dan ocehannya. Walau kadang bingung dan kurang tertarik, soalnya yang diceritakan acara bersepeda lalu acara main kejar-kejaran dan mainan yang lain. Saya lalu berusaha menampar diri saya sendiri, “Hey, …sekarang dia masih mau bercerita dengarkanlah. Suatu hari kamu menua dan dia tidak mau mendengar ceritamu… Kamu akan merasakan sakit dan kecewanya, ketika ingin bercerita tidak ada yang mau mendengar, u know!”

Inilah siklus kehidupan. Putar-putar-putar. Berulang kali saya ingatkan pada putri saya, “La, kalau mami sudah tua ingatkan mami supaya nggak rewel. Supaya menurut maunya Lola. Karena kalau mami sudah tua gantian mami yang melemah dan nggak tahu apa-apa. Lola yang harus didepan dan ambil keputusan,…” Dan biasanya dia akan menjawab,..”Ih mami ngomong apa siiiihhhh?…” Tapi saya melihat pandangan matanya, bahwa ia mengerti masalah siklus kehidupan dan perputaran. Bagi Anda yang sudah punya anak, ambil waktu sejenak, amati mereka dan pikirkan tentang siklusnya. Suatu hari Anda akan lemah, pikun, bingung, mungkin sakit-sakitan dan Anak Anda yang akan mengambil semua keputusan untuk Anda,… Ajarkan anak Anda hanya untuk mengenal kerja keras, kebaikan hati dan kasih sayang. Jika Anda ajarkan keserakahan dunia, who knows,…mereka juga akan serakah terhadap Anda,…. ketika Anda tua, lemah dan tak bisa apa-apa.

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Anak memang bisa menjadi cermin kita yang baik ya Ci Jo, jangan melakukan pada anak apa yang sebenarnya kita tidak suka diperlakukan…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif