Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Amputasi Hal Buruk Dalam Diri

Amputasi Hal Buruk Dalam Diri

byeSering kan, Anda menonton film? Misalkan ada adegan dimana beberapa pemanjat tebing jatuh tergantung-gantung di dinding jurang. Lalu seseorang yang paling bawah dengan kesungguhan hati memotong talinya, membiarkan dirinya jatuh dan mati ke dalam jurang, agar tidak membebani orang-orang yang berada diatasnya. Atau dalam kejadian lain di rumah sakit, seseorang yang terluka kakinya terpaksa harus diamputasi/dipotong agar tidak merusak jaringan tubuh lain yang masih sehat. Banyak peristiwa dalam hidup ini meminta kita memotong atau mengamputasi hal-hal yang tidak baik dan membebani.

Dimasa lalu saya sering terbawa romantisme bahwa orang-orang bisa diajak berbuat baik, atau orang-orang bisa disadarkan, atau orang-orang bisa diajak menjadi insyaf. Ternyata ini hanya romantisme buta. Jangankan untuk menolong orang lain, menjaga diri sendiri agar tidak tergerak melakukan hal-hal yang buruk saja tidak mudah! Lalu apakah menjadi ‘pahlawan kesiangan’ dengan upaya menyadarkan orang lain dari kelakukan buruknya menjadi lebih mudah? Tentunya lebih sulit bukan?

Saya sadari ada sikap yang masih saya bawa-bawa dalam romantisme buta ini. Yaitu sikap yang mengharapkan keadilan dijalankan dengan sepenuhnya. Kalau saya berbuat baik, saya berharap orang lain akan balas melakukan kebaikan yang sama. Kalau saya menolong, saya berharap ditolong dengan hal yang sama. Kalau saya memberi, saya berharap diberi pula. Ternyata romantisme buta ini sangat keliru! Karena orang-orang akan tertawa kalau mendengar gagasan bahwa kebaikan akan langsung berbalas dengan kebaikan yang sama. Hal seperti ini tidak akan terjadi. Kalau kita menjadi baik, selayaknya itu karena kita berkeinginan berbuat demikian. Bukan karena berharap ada balasan.

Lalu timbul pula pertanyaan dalam diri saya. Kalau begitu ‘hanya orang tolol’ yang tetap mau berlaku baik tanpa mengharapkan balasan atau imbalan. Bisa jadi! Tinggal dicari saja berapa banyak ‘orang tolol’ ini yang tersisa disekitar kita? Jika jumlahnya kian sedikit maka waspadalah, karena pada akhirnya manusia akan menjadi ‘barbarian’, saling memangsa satu dengan yang lainnya. Ini benar! Sudah terjadi dan sangat sering. Bawahan menyalahkan atasannya dalam kasus korupsi, atasan menyalahkan sistem yang bobrok, jaksa menyalahkan hakim yang memberi keputusan ringan. Semua orang saling memangsa dan mencari kesempatan untuk menjatuhkan. Perhatikan saja di partai politik, di organisasi pemerintahan, di organisasi perusahaan, di jenjang jabatan perkantoran. Semua orang tusuk-menusuk. Semua orang saling tersenyum namun dibelakang punggung menyimpan belati yang siap terhunus. Well, hati-hati saja. Gagasan yang disampaikan pun kadang dibajak oleh orang lain. Bisa juga tulisan ini diplagiat! Kebaikan yang dilakukan, esok lusa sudah terlupakan. Jika tak beragama dan tak punya Tuhan, bagaimana sesungguhnya manusia akan bertahan???

Beberapa hari yang lalu saya marah besar kepada salah satu anggota keluarga yang bukan keluarga inti. Artinya saya marah besar kepada salah satu kerabat yang bukan suami dan putri saya. Ada sikap keras yang masih saya pertahankan dan saya tidak terima atas suatu perlakuan yang dihadapkan kepada saya. Saya marah dan protes keras. Saya merasa dizholimi dan diperlakukan tidak adil. Tetapi sepertinya saya marah kepada orang yang salah. Atau saya marah kepada kesia-siaan. Karena orang tersebut hanyalah mediator, orang yang menjadi penghubung antara saya dengan manusia yang saya anggap bermasalah. Sudah berulang kali saya peringatkan bahwa saya tidak suka perlakuan yang tidak adil dan saya dirugikan hingga bertahun lamanya, hingga berjuta jumlahnya. Kikir dan mungkin sedikit kelekatan pada materi membuat saya sangat jengkel. Karena saya merasa tabungan saya dicuri, hak saya ditahan, kerja keras saya sia-sia. Lalu ada yang terjadi!

Dalam dua hari berturutan, suami mobilnya ditabrak oleh pemotor. Dalam dua hari berturutan! Tanpa jeda. Sampai saya terheran-heran. Suami saya menyebutnya ‘apes’– saya melarang dirinya mengucapkan hal semacam itu. Usahakan jangan menyebut kata ‘apes’– sedikit traumatis saya dengan kata ini. Seolah mantera yang akan melekatkan ketidakberuntungan. Saya tidak suka! Menurut saya ini bukan ‘apes’ tetapi petunjuk Tuhan bahwa kami akan segera mengganti mobil tua kami dengan mobil yang baru. Amin! Putri saya pun berpendapat sama, saatnya ganti mobil baru (entah dengan cara apa?). Sementara suami terlalu lelah untuk berargumentasi dengan kami.

Kejadian yang pertama kemarin ia mengerem mendadak karena mobil didepannya tiba-tiba saja masuk ke jalurnya. Motor yang dibelakang tidak sempat mengerem. Bemper belakang langsung penyok. Tapi tidak parah. Ya sudah kami biarkan saja. Hari ini ketika suami menyebrang, mendadak ditabrak oleh seorang remaja yang tengah asyik berlatih ‘balap liar’ di jalan raya dekat rumah kami. Tanpa helm. Tanpa lampu sorot depan. Bisa jadi motornya juga pinjaman? Ngebut seperti orang gila dan langsung nyungsep di depan bemper mobil. Si pengendara pingsan! Hingga harus digotong. Tak jelas juga apakah kakinya patah atau tidak. Hikmahnya, para saksi sekitar menyalahkan remaja badung itu yang memang tergabung dalam gank motor balap liar dan membiarkan suami pulang ke rumah tanpa berurusan dengan polisi. Haduh,.. balapan kok di jalan raya umum. Masih jam sepuluh kurang? Apa dikira jalanan milik nenek moyangnya? Polisi? Sudah capek membubarkan balap liar ini hingga kehabisan akal.

Saya memandang kejadian ini tetap sebagai ‘peruntungan’, mengapa? Ada pelajaran kepada remaja yang tidak mau mendengar nasihat orang-tuanya. Balap liar dan berjudi. Ada pelajaran kepada suami untuk extra hati-hati lagi. Di Jakarta ini nyupir mobil sering aneh, kita ‘benar’ kadang ‘disalahkan’ asal korbannya kendaraan bermotor. Mobil acapkali disalahkan. Namun kali ini jelas-jelas motor yang melaju super kencang dan menabrak dahsyat mobil yang sedang perlahan menyebrang jalan. Suami sering saya ingatkan, sekalipun kita menyupir dengan benar, dijalur yang benar dan tidak melakukan kesalahan fatal, tetap harus sabar dan mengalah pada yang lain. Point plus yang harus dilaksanakan adalah selalu waspada, karena ‘banyak orang gila dibalik kemudi’. Jadi tidak bisa dipatenkan, melakukan hal benar pasti selamat dan dibalas dengan kebaikan. Itu seperti idealisme yang takkan pernah ada. C’est la vie,..

Kepada diri sendiri, saya memandangnya berbeda. Saya berpikir karena beberapa hari lalu saya ‘murka’ dan marah-marah kepada seseorang maka berdampak buruk. Somehow energi negatif dan kemarahan saya ini seperti gelombang yang jalan kelaut lalu kembali dan terhempas di daratan, menjadi musibah yang dialami oleh suami. Sudah lama sekali saya tidak membenci orang dengan cara seperti yang saya ledakkan dalam kemarahan beberapa hari sebelumnya. Saya lalu berpikir kesalahan saya adalah TIDAK SEGERA MENGAMPUTASI HAL BURUK dalam diri saya sendiri. Serakah? Buang! Rugi? Lupakan! Benci? Putuskan hubungan! Hingga kini saya masih belum mengerti cara mengampuni dan memaafkan orang yang bolak-balik, berulang kali seperti setrikaan atau ingus melakukan kesalahan yang sama. Saya merasa membuang waktu dengan memaafkan dan mencoba menjalin hubungan lagi dengan orang-orang semacam itu. Masih banyak orang-orang lain yang harus saya perhatikan dan saya cintai. Masih banyak tulisan dan naskah-naskah lain yang harus saya tuangkan. Maaf, orang-orang dan kejadian-kejadian buruk harus segera saya AMPUTASI, sebelum menginfeksi seluruh kesadaran bathin tentang kebenaran.

“Jika Anda berani untuk mengucapkan selamat tinggal, kehidupan akan menghadiahi Anda dengan hal baru yang akan segera tiba.”

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. sip bener… mobil baru untuk pengganti mobil lama… sedangkan saya, mobil lama aja belon punya :D wkwkwkw

  2. katedrarajawen

    Intinya kan sederhana sebenarnya ya, ketika energi buruk gak ada maka akan terisi energi positif, atau ketika sifat buruk tiada, maka akan terisi dengan sifat baik…sebenarnya ada pilihan ketika ada yang membuat kita tidak menyenangkan selain harus marah2, yaitu memaklumi, tapi itu susah. kenapa susah ya karena belum menjadi terbiasa sebagai sifat kita, sederhana kan, Ci Jo?

    • yang ngga marah-marah cuma Mahatma Gandhi sama Ibu Theresa kaliiii…heheheh…Anda dan saya Ko-kat…di lempar piring juga langsung bales lempar martil hahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif