Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Mata Jendela Jiwa

Mata Jendela Jiwa

Saat ini saya sedang membaca buku CANDIDE karangan Voltaire. Belum selesai sih! Tapi ceritanya lumayan seru untuk sebuah naskah kuno yang ditulis tahun 1700-an. Orang ini, yang bernama CANDIDE, bisa jadi namanya disamakan dengan judul acara CANDID Camera di jaman sekarang. Artinya kurang lebih ekspresi JUJUR atau tidak dibuat-buat. Lucu ceritanya. Saking jujurnya si Candide dan engga dibuat-buat sikapnya, nasibnya itu ‘apes’ terus. Karena ‘dikerjain’ oleh manusia lain. Yang di fitnah, ditipu, disalahkan, dihukum cambuk, dijadikan tentara, dicuri hartanya. Wah, pokoknya komplet si Candide ini ada aja langganan apes. Tapi herannya lolos terus! Nggak mati-mati juga sebagai tokoh sentral cerita. Di hidup kita kan sama juga toch?

Sayangnya saya belum selesai membaca buku ini. Baru sampai di Bab 22 dari keseluruhan hingga Bab 30. Saya suka tulisan Voltaire karena mengandung filsafat yang sangat mendalam. Tentu saja Voltaire sendiri adalah penulis yang sangat ternama hingga saat ini. Hidup di ratusan tahun yang silam dan berasal dari Perancis. Tapi saya tidak ingin membahas tentang Voltaire. Saya ingin membahas tentang kejujuran. Betapa kejujuran sudah jarang ditemukan pada jaman sekarang. Karena itu tadi, seperti dalam novel Candide, orang yang jujur seringkali ditipu dan dimanfaatkan oleh orang yang berniat jahat/mengambil keuntungan serta berlaku curang.

Sebenarnya orang jujur mudah dilihat. Pertama dari raut wajahnya dan kedua dari sinar bola matanya. Makanya sering film-film cinta yang lebay membuat adegan “Tatap mataku dan katakan bahwa kau tak lagi mencintaiku,..” Oke deh kakak! Tapi beneran. Saya terkadang suka ‘geram’ teringat berkali-kali tertipu orang/kawan yang awalnya saya pikir omongannya jujur atau benar. Sementara saya tidak ada ‘beban’ karena saya berusaha ‘candide’. Tapi ya begitu, sudah terjadi, lupakanlah.  Yang penting tahu, oh si A ini tidak bisa dipercaya. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya. Sekali saja kepercayaan itu dikecewakan, maka selamanya orang akan curiga atau waspada. Tentu yang orangnya rada pinter lah ya! Jadi orang jangan tidak fokus pada pikirannya sendiri. Hari ini ditipu besok udah lupa. Ada sih yang kayak gitu juga. Saking banyaknya urusan dunia akherat, sampai nggak ingat apapun. Apalagi ingat dosa? Boro-boro.

Saya ingat ketika hebohnya acara pilpres yang lalu, beberapa politisi masih punya sikap candide. Berlaku jujur. Ketika dipojokkan dengan statement kebenaran mereka senyam-senyum. Tidak bisa berkelit. Ini berbeda sekali dengan seorang politisi yang nyerocos terus kayak kesurupan ketika bicara, omongannya tidak berdasar kuat, tetapi ngotot. Saya perhatikan matanya nggak fokus. Jadi omongannya sudah ditata, diatur, dilatih (mungkin latihan di depan cermin berulang kali). Statement yang dikeluarkan dibuat seolah fakta yang sangat real. Dengan tekanan suara, ekspresi muka dan tangkisan-tangkisan cepat atas fakta lain yang diungkap oleh politisi lawan. Tetapi satu hal yang saya perhatikan, matanya tidak fokus! jelalatan. Sambil bicara dengan suara gagah dan gaya meyakinkan, matanya nyalang kesana-kemari. Kenapa? Karena dia bohong! Hanya aktor (pemain watak) dan orang yang kesurupan iblis, yang mampu bohong habis-habisan. Menatap mata audience dengan tajam dan tanpa rasa takut! Paling ngeri menurut saya orang yang memiliki iblis di hatinya. Mereka tatapannya akan selalu tajam walaupun berkata dusta. Yakin banget kalo itu adalah kebenaran.

Seringkah? Ya sering laaaaah,…. Ngomong sedang kerja lembur. Nggak taunya ke rumah istri muda. Ngomong punya uang hasil dari bisnis. Nggak taunya hasil money laundry. Banyak kejadian seperti itu. Yang baru belajar bohong, akan seperti politisi yang saya ceritakan diatas. Matanya masih nggak berani menatap audience. Mengatakan kebohongan sejujur mengatakan kebenaran itu tidak mudah. Itu membalik fakta. Berlaku seperti itu dibutuhkan NYALI yang kuat. Tapi kebohongan yang dilatih terus-menerus juga lama-lama akan terasakan sebagai kebenaran. Dan berbohong menjadi enteng, gampang saja dilakukan.

eyes

foto: weheartit.com

Saya suka belajar psikologis manusia. Saya merasakan “Mata” itu adalah jendela jiwa seseorang. Jika seseorang punya sifat ‘candide’, maka matanya tidak akan tajam dan tegang, nyalang kemana-mana. Mata akan bersinar menunjukkan keberanian, tetapi jernih, lembut, santai dalam menatap manusia lain. Tidak ada hal yang disembunyikan. Selain mata, ekspresi muka juga akan menunjukkan apakah seseorang bisa dipercaya atau tidak. Karena mata yang terlalu tajam, nyalang akan membawa wajah ikutan serius dan terkadang jadi terkesan bengis. Yang ada di kepalanya adalah strategi untuk ‘menaklukan’ orang lain. Dalam salah satu adegan buku Candide bertanya pada Martin kawannya, “Menurutmu apakah seseorang selalu punya kecenderungan untuk menipu/ mengerjai orang lain yang bisa ditipu dan diambil keuntungan darinya?” Dan kawannya yang bernama Martin menjawab, “Menurut kamu, burung elang jika melihat merpati selalu ingin memangsa atau tidak?” Dan Candide menjawab, “Ya juga sih! Kan burung elang memang burung yang akan selalu memangsa merpati?” Lalu Martin menjawab, “Ya itulah kecenderungan manusia menipu manusia lain.” Candide membantah, “Tapi manusia kan bukan burung elang?..Kok disamakan?” — Jyaaahhh,…saya belum selesai baca bukunya ya!

Tapi benar. Ngeri melihat kecenderungan orang menipu orang lain. Baik disengaja maupun tidak disengaja. Berhati-hatilah melihat orang-orang disekeliling Anda. Perhatikan raut dan sinar matanya ketika bicara. Dengarkan suara hati Anda, apakah perkataannya terdengar jujur atau basa-basi? Kejujuran dan ketidak-jujuran berimbas kemana-mana. Yang paling mudah hanya masalah persahabatan. Bisa antara dua abege. Paling serem tentu saja melibatkan koalisi pemerintahan atau kongsi perdagangan, dimana terjadi niat-niat untuk saling menjegal atau mempermainkan. Haduuh! Serem dan cape deeeeh.... Ketika berusia lebih muda saya berusaha membuat orang lain terkesan dengan kinerja dan sikap saya. Setelah saya berusia lebih dewasa keadaan saya balikkan. Saya berusaha melihat orang-orang yang ada di sekitar saya. Apakah saya terkesan dengan mereka atau tidak? Apakah saya perlu berteman lama dengan mereka atau tidak? Seperti Martin mengatakan banyak ‘manusia elang’ diluar sana yang siap menyambar Anda. Be wise,… be careful,…..

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Setuju, mata adalah jendela jiwa, melihat mata seseorang bisa melihat ke dalam jiwa, seperti yang Ci Jo tulis, dalam film lcinta lebay ada tatapan2 mata, pertanyaannya, pintu jiwa itu ada di mana?http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif