Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Otak Panas di Kepala

Otak Panas di Kepala

Tadi saya pergi mengantar teman yang hendak melihat-lihat perlengkapan perabot untuk tempat-tinggalnya. Kami membuat janji temu di pusat perlengkapan perabot yang baru saja buka di sebuah sudut kota. Awalnya saya agak cemas karena tempatnya sangat ramai. Saya cemas kawan saya tidak mendapat tempat parkir dan saya cemas karena untuk membeli makanan saja orang harus mengantre. Tidak tanggung-tanggung, mengantrenya selama sekitar enam puluh menit! Udah harus membayar cukup mahal, serasa ngantre pembagian jatah beras jaman penjajahan Jepang pula! Awalnya saya pikir ini janji temu yang salah, ditempat yang salah dan pada waktu yang salah. Karena saya kurang suka keramaian, membuat pusing kepala dan harus berjubal-jubal.

brainBelajar mengelola emosi sendiri, akhirnya saya mencoba menikmati. Ketika kawan saya datang, kami mengantre makanan sejam sambil mengobrol didepan antrean counter makanan yang panjangnya kayak ular naga. Padahal ketika berdiri didepan counter, saya ingat adegan napi yang ngantri makanan penjara di film-film Amerika. Yang menyajikan makanan cepat saji dengan cara menyendokkan hidangan sambil dihentakkan ke piring kaleng si napi. He-he,.. Tapi tujuannya kan bertemu sahabat lama dan mengantarnya belanja perkakas rumah. Saya mencoba ikut happy saja dan mensyukuri, sahabat saya sudah mencapai satu titik kesuksesan yang baik. Bagi saya menjadi kehormatan diminta mengantarnya belanja/ melihat-lihat sekalipun saya tak berminat membeli apapun juga. Kecuali mencari makanan saja.

Saya heran dengan gaya hidup orang kita. Yang katanya masih banyak orang susah, tetapi orang-orang yang bergaya hidup mewah juga tidak sedikit. Jadi agak membingungkan sebenarnya di Indonesia banyakan orang susah atau pura-pura susah? Atau banyakan orang kaya atau pura-pura kaya? Iya sih, itu sebenarnya bukan urusan saya. Tetapi sebagai manusia yang suka iseng dan pembosan, kadang-kadang ‘otak panas’ di kepala saya berputar dengan sendirinya. Melihat penampilan orang apalagi yang baru sekali melihat, saya sering ‘meramal’. Orang-orang mengatakan kesan pertama tentang saya adalah ‘pendiam.’ Saya pikir rata-rata penulis kebanyakan memang melankolis sehingga pendiam. Kebanyakan penulis ‘menyerap’ apa yang ada dihadapannya, berpikir serta menjalin sebuah cerita dalam benak.

Ketika mengantri makanan, di depan saya ada pasutri dengan baby usia 8 bulan. Keduanya sangat ‘heboh’ dan bangga dengan putranya yang baru lahir ke dunia. Bolak-balik disenyumi, dicium dan digendong. Mendorong-dorong kereta bayi yang mahal. Yang pasti bukan menggendong bayi menggunakan seledang batik print merah motif pesisiran yang murah meriah ala wong kampung. Pemandangan ini membuat saya berpikir, “Wouw rumah tangga muda. Lagi hepi-hepinya punya anak pertama.” Dan saya berpikir pula, ini suami istri kerja apa ya? Gajinya kayaknya gede, kereta bayinya mahal. Jam tangannya mahal. Keduanya juga kelihatan sedang enjoy jadi mama-papa. Si mama sedikit bertambah berat badannya dan si papa bajunya kotor kena remah-remah roti makanan si bayi. “Keluarga muda yang menyenangkan dan menyongsong masa depan indah,” pikiran saya demikian.

Nggak lama kemudian muncul pasangan lain. Seorang lelaki gagah yang setelannya celana pendek tanggung dan tak bercela. Kelihatan rajin keluar masuk gym dengan tubuh yang ‘in shape’. Pasangannya nggak kalah, wanita cantik terawat, yang modelan langsing klinik anu. Rambutnya disanggul tinggi membingkai raut wajahnya yang klasik cantik laksana model Okky Asokawati jaman majalah Femina tahun 80-an dulu. Si ‘papa’ rupanya berteman dengan lelaki gagah dari gym. Keduanya saling jabat sporty dan bercakap akrab. Si lelaki gym memperkenalkan kekasihnya yang cantik dengan menyebutkannya sebagai kakak si anu dan bisik-bisik pada si ‘papa’ yang repot menggendong bayi. Bayangan saya, mungkin adik wanita itu seorang artis. Lha wong, si pria gym kayaknya bangga kekasihnya mirip dengan seseorang. Pokoknya pertemuan dua keluarga yang menyenangkan. Yang satu baru punya baby, penampilan ‘mama-papa’ sejati. Yang lain baru ‘merenda kasih’ penampilan sejoli cantik dan ganteng.

‘Otak panas’ saya biasa bergulir cepat sambil memikirkan betapa belasan tahun yang silam, saya pernah pada posisi itu. Menikmati lifestyle yang penuh ambisi. Ketika putri saya akan lahir, memilih kereta bayi dan tempat tidurnya saja serasa Ujian Nasional. Saking pentingnya kereta bayi yang bagus, kuat, indah, nyaman. Plus kalau bisa juga murah. Betapa setiap minggu kami berkunjung ke berbagai mall dan pusat perbelanjaan membawa putri semata wayang kami yang sedang lucu-lucunya dan memamerkan pada dunia, bahagianya jadi ‘mama-papa.’ He-he,… Sahabat saya rupanya tahu ‘otak panas’ saya sedang berputar cepat. “Wah nih, .. yang penulis. Setiap kejadian pasti akan kamu tuangkan ke dalam tulisanmu!” Ujarnya sembari menuduh saya yang asyik melamunkan dua pasangan muda itu. Memberi kilas balik betapa saya juga pernah (lebih) muda dan pernah punya bayi usia delapan bulan. Sekarang bayi saya sudah bisa ‘jumpalitan kayang’ dan berteriak ‘mami nyebeeeelin,… tau nggak sih!’ Cepatnya waktu berlalu. Saya malu karena tuduhan teman saya yang mendapati saya melamun ada benarnya. Menjadi sebuah tulisan! He-he,...

foto: thethingswesay

Saya pikir-pikir, saya malas ketemu orang dan melihat banyak orang laksana cendol karena alasan itu. Karena ‘otak panas’ yang ada di kepala saya seperti bola kristal. Melihat masa lalu. Melihat masa depan. Melihat ke dalam diri orang-orang. Kadang-kadang saya berpikir beberapa orang yang saya jumpai di masa sekarang, sangat mirip dengan beberapa orang yang saya kenal di masa lalu. Baik wajah, raut, ekspresi, tingkah dan pemikiran. Lalu ‘otak panas’ saya banyak berpikir tentang kejadian-kejadian, tentang ramalan-ramalan. Saya pernah pada posisi ‘mama-papa muda’. Saya pernah pada posisi ‘pasangan yang tengah merenda kasih.’ Dan saya pernah kenal teman-teman yang heboh dengan kereta bayi mahal serta indah. Namun dalam hitungan tahun semuanya rontok satu persatu. Ada yang berpisah dengan anak-anaknya. Ada yang berpisah dengan suaminya. Lalu memiliki pasangan lagi untuk ketiga kali. Iya, bukan kedua. Tetapi ketiga. Lalu ada orang-orang lain dengan keluhan yang sama tetapi tidak kemana-mana. Alias jalan di tempat. Mungkin saya termasuk yang terakhir. Entahlah!

Makanya saya malas bertemu dengan orang-orang baru karena somehow mengingatkan saya pada orang-orang lama dan pada masa lalu saya sendiri. Kehidupan jaman sekarang begitu diumbar. Kadang-kadang saya berpikir orang-orang jaman sekarang tidak punya malu, yang penting eksis. Semakin terlihat ‘luar biasa’ seperti itulah bagi mereka kehidupan yang layak dijalani. Padahal tidak ada yang luar biasa dalam kehidupan ini yang merupakan kreasi manusia. Yang dibutuhkan hanya kesadaran untuk menjadi diri sendiri, menerima kenyataan dan selalu waspada. Saya sering sedih mengenang anak-anak teman saya yang sekarang entah bagaimana nasibnya. Saya sedih teringat suami pertama teman saya, tampaknya dia lelaki yang sabar tapi entah mengapa tersingkirkan. Ya, saya tidak tahu masalah orang lain! Yang saya tahu, tidak tega kalau harus menyakiti hati orang-orang yang menyayangi saya dan itu termasuk mendiang ibu, suami dan putri kesayangan saya.

‘Otak panas’ saya kadang menggelundung kesana-kemari dengan sendirinya dan bertanya pada Tuhan. Okay, saya sudah lewati fase merenda kasih. Saya sudah lewati  fase ‘proud of being mama-papa’Now what, God? Apalagi nih yang ada di depan mata, wahai Tuhanku? Mungkin senada dengan kata-kata istighfar, saya coba berbisik pada diri sendiri. Selalu bersyukur, berterima kasih untuk kesehatan, keharmonisan dan orang-orang yang menyayangi. Priceless. Di satu sisi kasih sayang akan selalu ada, di sisi lain tidak bisa dibeli mendadak ketika dibutuhkan. Mau ke pusat perbelanjaan mana juga nggak akan ada,… ‘Otak panas’ hush,...berhentilah berpikir. Kamu bukan peramal,…Kamu hanya menduga-duga sampai dimana jalannya kehidupan?

Facebook Comments
Telah dibaca 158 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Kalau saya daripada bikin otak panas, mendingan pilih yang adem, saya juga heran dan lucu lihat orang rela ngantre cuma untuk beli makanan, kalau saya sih gak lah mending pilih tempat yang sepi hehhe…mengamati kehidupan disekitar menurut saya lebih enak jadi sebagai pembelajaran daripada bikin oak panas, Ci Jo hheheehttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

    • maksud saya maunya ‘otak santai’ tapi otak saya tiap liat segala perilaku dan aksi manusia kok terus ‘panas’ jadi mikir segala macam…ini siapa? dari mana? apa kerjanya? ngapain disini? kenapa gayanya gitu? hehehe…bukan ‘panas’ marah atau emosi…tetapi PANAS karena otaknya bekerja dan mikir… padahal niatnya santai….

      Mungkin supaya bener-bener otak saya ‘dingin’ dan relaks saya harus ke gunung sendiri dan hanya melihat hutan cemara,… atau ke pantai sendiri dan hanya melihat pasir serta air laut hihihi..http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif