Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Bermimpi Dalam Kehidupan

Bermimpi Dalam Kehidupan

Ada dua pilihan dihidup ini. Biarkan Anda menguasai pikiran Anda atau Pikiran Anda yang menguasai Anda. Hakikat ini kurang lebih sama seperti tulisan yang saya garap beberapa waktu lalu. Tentang pikiran kera. Rata-rata orang membiarkan pikirannya menguasai dirinya sendiri. Lalu sulit dibantah. Ketika kejadian buruk menimpa orang lain yang tak menuruti perkataannya akan terbit penyesalan. “Udah gue kasih tahu. Udah gue nasihati. Nggak mau menurut juga! Ini akibatnya!”

Achieve-dreamsLebih sering muncul tendensi untuk menyalahkan orang yang sudah mencoba lalu gagal daripada menumbuhkan semangat untuk bangkit dan mencoba lagi dari kegagalan tersebut. Coba saja cari diantara teman dan rekanan Anda. Berapa banyak yang ‘tidak menyalahkan’ jika Anda mencoba sesuatu lalu diperingati ‘nanti gagal lho,..’ Dan ternyata memang gagal. Kebanyakan pasti akan ‘nyukurin’. Dikasih tahu ngeyel sih!

Memang tidak mudah menyortir antara percobaan bodoh dan percobaan yang bisa jadi antiklimaks. Dalam artian ada kesuksesan besar dari percobaan tersebut atau ada kegagalan selamanya? Tadi saya membaca kisah tentang Jim Caviezel. Aktor ganteng ini termasuk aktor papan atas sekelas Hugh Jackman, Johny Depp, Craig Daniels dst. Jim bercerita awal mula kesuksesannya. Bahwa tadinya ia aktor yang sangat tidak dikenal. Ia hanya memerankan tokoh prajurit yang membela kawannya sampai mati di film The Red Thin Line. Lalu Mel Gibson tertarik dan mengajaknya main film yang mengangkat nama Jim Caviezel. Perannya tidak tanggung-tanggung, dalam film ia berperan sebagai Yesus atau Isa. Ia sudah ditakut-takuti oleh Mel Gibson sebagai produser film, “Kamu kalau main film jadi tokoh agama sering nggak laku main film lainnya loh! Orang pesimis, anggap kamu udah super alim dan baik. Jadi nggak laku buat main film lainnya!”

Tapi Jim berpikir bahwa ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup. Jadi ia memutuskan akan mengambilnya. Walaupun resiko, setelah memerankan Yesus atau Isa dia tidak akan dapat peran di film-film lain karena dianggap nggak pantas. Ya iyalah…. Kita aktor yang berperan sebagai tokoh teladan. Lalu besok dapat naskah peran sebagai pria playboy, apakah kita masih akan masuk casting? Bagaimana tanggapan penonton? Pastinya mencemooh! Bagaimana sih kemarinnya berperan sebagai nabi, kok sekarang malah berperan dalam adegan ranjang? Penonton akan muak dan tidak mau menonton film dengan pemeran yang sama. Jadi bisa di mengerti kalau Mel Gibson sudah memberikan peringatan. Tapi Jim tetap mengambil peran itu. Dan akhirnya? Ia sukses sebagai aktor Hollywood yang diperhitungkan dan mampu menguasai perannya dengan sangat baik. Penawaran main film justru kian banyak dan ia bahkan berkesempatan memilih peran serta film yang disukainya.

Kesempatan sekali dalam seumur hidup juga muncul dalam film One Chance. Film ini berdasarkan kisah nyata dari Paul Potts pemenang British Got Talents, semacam American Idol. Paul ini gendut dan chubby, semasa kecil sering dibully oleh anak-anak lelaki lainnya. Karena ia sangat menyukai opera dan pandai menyanyikan lagu-lagu opera. Opera adalah seni peran dari Italy dengan kisah-kisah klasik. Biasanya pemain opera akan menyanyikan teks adegannya. Jadi panjang dan membosankan. Hanya orang yang bisa memahami opera akan menyukai seni peran ini. Apalagi gaya menyanyinya adalah seriosa, jika bosan bisa jadi terkantuk-kantuk. Wajar jika lelaki yang menggemari lagu seriosa atau misalkan seni ballet, jika tidak dipahami akan menjadi bulan-bulanan atau korban bullying karena dianggap tidak macho. Dengan segala cobaan hidup, Paul Potts nekad mendaftar pada British Got Talent. Padahal dia merasa dirinya gendut, tidak ganteng dan tidak menarik. Tapi ia pikir ia harus mencoba satu percobaan besar dalam hidupnya dan sesuai dengan talentanya sebagai penyanyi seriosa. Penampilan Paul memukau dan dia mendapat standing ovation atau tepuk tangan sambil berdiri dari 2000 penonton. Sekarang? Paul Potts menjadi selebriti penyanyi kelas dunia! Yup si pemuda gendut yang chubby dan lucu.

Kemarin saya mengobrol dengan teman. Ia sering mengeluh tidak betah di pekerjaannya. Maksud saya seperti siaran radio yang membosankan. Jika mengeluhkan hal yang sama selama bertahun-tahun, tapi tidak mengambil tindakan apapun juga yang ‘cukup berani’ untuk melepaskan diri dari keluhan tersebut. Ketika saya berbicara tentang keajaiban yang terjadi dalam hidup orang-orang. Ia terkesan mengundurkan diri terburu-buru dengan alasan ada yang harus dikerjakan. Ya itulah! Dia adalah sejenis orang yang mengatakan, “Kamu bermimpi!” Lalu ketika gagal mereka senang karena omongan mereka tentang ‘kamu bermimpi’ menjadi kenyataan. Sementara saya adalah sejenis orang yang akan mengatakan, “Mumpung masih bisa bermimpi, kapan lagi? Kalau saya sudah mati, mimpi pun takkan ada!”  Honestly, saya bosan mendengar orang mengeluhkan hal yang sama. Lalu ketika saya berikan alternatif, langsung pesimis. “Kamu bermimpi,….” 

Memang tidak mudah memilih MIMPI yang akan jadi NYATA dan MIMPI yang akan menjadi BURUK. Tetapi hati akan selalu memberitahukan mana mimpi yang paling tepat bagi Anda. Mencoba atau tidak? Saya pastikan, saya akan mencoba. Karena segala sesuatu yang terjadi di hidup ini semuanya seijin Tuhan. Kegagalan atau keberhasilan, kebahagiaan atau malapetaka, semuanya seijin Tuhan. Yang terjadi, terjadilah. Saya ikut lomba menulis bolak-balik gagal. Saya kirim naskah bolak-balik ditolak. Dan saya berkata dalam hati, “Suatu hari kamu yang akan meminta naskah dari saya dan saya berkata tidak ada naskah untukmu.” hehehe... Masa bodohlah, bermimpi itu enak kok!

Facebook Comments
Telah dibaca 52 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif