Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Dicari Empati Dan Simpati

Dicari Empati Dan Simpati

empati

foto: The YUNiversity

Terkejut saya membaca berita tentang beberapa buruh yang meninggal karena tertimpa pohon keropos di Kebun Raya Bogor. Pohon berdiameter sekitar satu meter dan tinggi dua puluh meter, ditengahnya setinggi 4 meter sudah keropos dimakan rayap. Pohonnya sendiri berusia 5o tahun. Yang ada di benak saya adalah sedih dan kecewa. Dapat Anda bayangkan? Anda duduk santai bersama rekan-rekan Anda di sebuah kebun yang asri dengan niatan mendengar ceramah. Tiba-tiba saja maut datang menjemput dan Braaaaak!! Anda mati karena tertimpa pohon ketika sedang bersantai di kebun? Korbannya tidak sedikit, lima orang tewas, yang lain terluka. Pengawasan pohon menurut yang saya baca ada di tangan LIPI. Lalu kenapa pohon tidak dicek kesehatannya? Saya teringat kasus Singa ‘Melani’ di Surabaya yang kurus kering dan kurang dikasih makan tempo hari. Hmmm,.. semoga jangan ada praktek menggampangkan perawatan hewan dan tumbuhan, sedangkan nyawa manusia saja terkadang masih dianggap murah (lihat segala perkembangan berita yang terjadi akhir-akhir ini).

Masih larut saya dalam keterkejutan maut yang sedemikian gampang menjemput. Tiba-tiba saja ada berita lain. Serombongan penduduk desa Jayapura, sejumlah 40 orang yang hendak mencuci di sungai naik truk bak terbuka. Saya lihat penampakannya truk hijau seperti truk yang biasa untuk mengangkut sampah di perumahan saya. Dalam hati terbersit, “Ya ampun kok nggak naik bis saja sih?” Lalu ada jawaban lain yang mengejek, “Lalu pendududuk desa Jayapura yang mau nyuci disungai harus sewa bus Lorena? Atau bus Safari Dharma? Please deh,… !” Yang mengenaskan rem blong lalu supir banting stir ke arah sungai dan langsung terguling. Sebagai hasilnya sembilan orang tewas! Saya melihat sendiri di televisi, beberapa ember cucian masih tergeletak di tepi jalan. Ngenes dan luar biasa sedih. Ada pemandangan sebuah keluarga menangisi jenasah yang tertutup kain putih dan diletakkan di lantai! Kami di rumah mencuci menggunakan mesin. Tinggal dimasukkan dan pencet tombol. Itupun menyetrikanya masih sering malas. Kadang ditumpuk hingga beberapa hari. Ini ada serombongan orang yang jika hendak mencuci harus bepergian jauh dari rumahnya, mengantar nyawa pula! Hanya untuk mencuci. Tragis.

Lalu saya unggah berita-berita tersebut dengan maksud menyorot betapa layanan terhadap masyarakat masih sangat minim dan asal-asalan. Prihatin dalam bentuk ada ketertarikan mengapa hal-hal semacam ini masih saja terjadi di seputar kita. Kematian memang sesuatu yang tak diketahui dan kapan tibanya maut menjemput. Tetapi kematian akibat kecerobohan hendaknya dapat dihindari jika ada orang-orang yang serius dan bertanggung jawab dalam melakukan tugasnya. Khususnya dibidang pemerintahan dan pembangunan infrastruktur untuk rakyat. Ketika kecelakaan pesawat terjadi seorang teman mengunggah status. Intinya mencemaskan keselamatannya sendiri yang sudah kadung membeli tiket dari maskapai yang sama untuk plesir di waktu mendatang. Tapi tak lama kemudian memang ia sibuk mengunggah aneka berita yang memberikan situasi terkini tentang rescue pesawat tersebut. Paling tidak ia menunjukkan simpati dengan memposting berita terkini tentang kecelakaan.

Berikutnya ketika saya memposting berita tentang kecelakaan karena tertimpa pohon. Saya hanya ingin menyampaikan kepadanya bahwa maut tak pernah terduga. Jadi ia tak usah terlalu khawatir tentang tiket yang sudah ada ditangannya. Lalu saya kisahkan pula tentang kecelakaan yang terjadi hanya karena orang-orang hendak pergi mencuci bersama di sungai. Seorang teman lain dengan enteng menjawab, “Iya penduduk datang dan pergi setiap saat.” Maksudnya kelahiran dan kematian memang ada setiap saat. Tapi kematian yang bukan karena natural cause (sebab yang wajar) seperti sakit atau usia tua tentunya akan sangat menyakitkan bagi yang ditinggalkan. Sedangkan kematian karena natural cause saja orang bersedih. Hey, we won’t see them again! Kita tidak akan pernah berjumpa lagi dengan orang yang sudah mati! Bisakah Anda berkata pada seseorang, yang orang terdekatnya meninggal karena kecelakaan tragis, “Iya,.. ada yang lahir, ada yang mati juga.” Itu namanya kurang berempati. Jaman sekarang orang mencari empati dan simpati kebanyakan dengan alasan yang indah-indah, foto liburan ke Singapore, foto hidangan Jepang yang mewah, foto gaun baru yang paling trendy, foto pemandangan dari puncak Aspen yang bersalju. Tetapi ketika ada berita kecelakaan yang merenggut nyawa orang-orang sederhana di kampung mereka akan berkata, “Iya,… penduduk datang dan pergi.” Okay, saatnya makjlebs!

motivation-and-inspiration

foto: spanishdict

Facebook Comments
Telah dibaca 98 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Belakangan ini sejak kecelakaan Airasia, ada kesaksian2 di tempat ibadah yang menyatakan kasih Tuhan atas keselamatan yan mereka alami, tidak ada yang salah sih tetapi dalam keadaan yang sedang berduka ini, bagaimana keluarga korban bila mendengarnya? Apakah saudara2nya yang kecelakaan itu tidak disayang Tuhan?

    • Hmmm,…semua orang pada akhirnya mati. Hanya saja cara kematian yg berbeda-beda…itu yang jadi misteri. Dan sekalipun kematian itu tragis kita nggak tahu kenapa Tuhan memberi takdir seperti itu. Setidaknya yang masih hidup diberi kesempatan untuk memperbaiki diri,… berkaca dari tragedi. Saya rasa maksudnya itu. Kalau masalah disayang Tuhan, semua mahluk pun disayang, bahkan semut dan pohon jengkol?? Kan semua ada maksudnya diciptakan ke dunia,… Mungkin salah kotbah atau yg mendengar salah tangkap…http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif