Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Generasi Pengguna Kartu

Generasi Pengguna Kartu

richardsSaya sempat ingin beli dompet khusus untuk menempatkan kartu. Bingung terkadang, karena semua layanan jasa di masa kini menawarkan aneka kartu. Okay, untuk kartu kredit atau kartu debit bisa kita abaikan. Itu suka-suka loe pastinya! Karena itu adalah keputusan yang mutlak harus merefleksikan kejujuran kondisi keuangan pribadi. Dana cuma segitu-gitunya punya kartu kredit sampai lima? Punya kartu debit tapi nggak bisa digesek lagi karena saldonya nyaris kandas ke dasar laut? Ya, Anda harus segera ke dokter! Bukan dokter cinta, tapi dokter finansial.

Nah, kalau kartu membership bagaimana? Ini yang membuat saya heran dan bingung. Banyak bener kartu yang ditawarkan? Beli colokan Hape, mau punya kartu member nggak Bu? Beli material bahan bangunan, punya member kartu kita nggak Bu, ada diskonnya? Beli handbody lotion, apakah sudah punya kartu member, Bu? Beli produk yang ini dapat bonus lho. Beli kaos, sudah punya member deparment store kami? Bisa ngumpulin point lho, nanti ditukar hadiah. Beli kopi, kalau ada kartu membernya buy one get one. Bahkan menonton bioskop pun ditanya punya kartu member nggak? Bisa gratis nonton kalau pointnya sudah cukup. Kadang malas bikin kartu, tapi tak lama kemudian kami terpaksa harus belanja lagi di tempat yang sama. Sayang juga jika tidak mengumpulkan point atau tidak mencari keuntungan diantara pengeluaran yang dilakukan. Akhirnya bikin deh itu kartu! Walhasil kartunya bisa berjubal-jubal banyaknya. Dari kartu identitas di rumah sakit hingga kartu member produk kecantikan.

Yang mengenaskan banyak pembuat kartu ini ‘tidak membina member’ alias dianggurin saja. Miris juga bahwa ‘point’ atau bonus yang dimaksud sebenarnya hanyalah tipuan halus untuk belanja lagi, lagi dan lagi. Lebih banyak, banyak, banyak dan mahal. Lalu dapat hadiah basa-basi seperti dompet, tas kecil atau apa kek? Pastinya untuk produk yang seharga sama dengan benda yang dibeli saja jarang. Tidak ada hadiah semacam itu bagi member, kecuali produsen menyelenggarakan undian besar-besaran yang berhadiah mobil atau rumah dan pesertanya membludaks. Alias kemungkinan memenangkan hadiah utama sangat kecil dan hasilnya cuma gigit jari bermimpi.

Apakah saya suka memiliki banyak kartu? Sejujurnya saya kurang suka memiliki kartu sebanyak itu, bikin dompet gembung tapi isinya bukan duit. Namun ini adalah prasyarat dari produsen bagi konsumen untuk mendapat ‘remah-remah’ hadiah yang ditawarkan dan diterbangkan diawang-awang. Apakah semua penyelenggara kartu-kartu member ini buruk layanannya? Tidak! Saya tahu ada beberapa brand dari luar negeri yang sungguh membina pelanggan dengan mengirim email secara berkala, mengucapkan selamat ulang tahun dan memberitahukan program yang sedang mereka selenggarakan. Bisa discout atau hadiah. Hadiahnya juga setara dengan dana yang dibelanjakan. Sebagai contoh perbandingan, belanja dua set roti tawar tabur kismis dapat bonus donat mini mesis, bukan cuma dapat bonus kripik singkong satu cuilan! Brand ini biasanya berasal dari luar negeri. Brand dalam negeri, saya belum menemukan yang memperlakukan ‘pelanggan adalah raja’ terkecuali Anda belanja ratusan juta atau milyaran. Yang belanja recehan walaupun bolak-balik seribu kali tetap dianggap rakyat jelata. He-he-he,…

forum

forum grass city

Masalah kartu-kartu membership sedikit meresahkan saya. Karena data pribadi pelanggan diminta semua secara detail. Hal ini juga hanya menjadikan customer sebagai target untuk ‘dirampok’ diam-diam dengan penawaran aneka promo dan hadiah, yang sebenarnya imbalannya juga jauh dari kenyataan. Kadang tidak ada, tidak berhasil atau hanya dapat kripik singkong sebungkus. Ibaratnya begitu. Tetapi prinsip ekonomi juga membuat pelanggan mau tak mau membuat kartu member sebab ada kemungkinan dapat diskon, dapat bonus, dapat hadiah, dapat mobil, dapat rumah. Namanya pelanggan setia kan harapannya juga setinggi langit. Namun seperti pungguk merindukan bulan, demikian pula posisi konsumen di tanah air. Ini hanya pendapat saya berdasarkan pengalaman pribadi yang ikut-ikutan member ini dan itu namun tidak pernah dapat hadiah apapun yang “jreng.” However bisa dibuat study kasus di tanah air, apa sebenarnya benefit dari membuat kartu mambership produk/brands? Bisa dikaji datanya? Berapa persen dari sejumlah konsumennya mendapat apa? Selain point yang biasanya setahun hangus dan tidak bisa diakumulasi itu? Yakin kartu membership milik Anda bermanfaat? Dan bukannya hanya menguntungkan perusahaan pembuat produk secara sepihak?

Tips mengenai membership card suatu brands/produk:

  • Apakah Anda sering berbelanja ke tempat itu? Secara regular Anda butuh produk-produknya? Jika ya, maka jadilah member dari brands yang bersangkutan!
  • Apakah membership yang ditawarkan gratis? Jika ya, ambil saja. Jika membayar, lihat pertanyaan pertama, yakin Anda butuh kartunya? Basically saya tidak suka kartu membership yang mengharuskan konsumennya membayar lagi untuk si kartu plastik. Teganya, oh teganya?…
  • Apakah mereka memiliki sopan santun sebagai brand yang memberikan promo melalui email? Atau mengirim SMS beruntun seperti teroris ke ponsel Anda?
  • Apakah penawaran mereka kreatif dengan mendorong pembelian/belanja sesuai kebutuhan atau mendorong pembelian sesuai nafsu belanja alias kalap saja? Ini juga harus dicermati.
  • Bagaimana pula dengan customer servicenya? Apakah baik? Atau tidak jelas?After sales service memuaskan?
  • Terakhir jika Anda melihat produk dan layanannya makin buruk tak ada salahnya Anda gunting dan lupakan kartu membership tersebut. Tentu saja tidak usah belanja lagi di gerai yang bersangkutan.

Rakyat jelata juga berhak memilih yang terbaik!

Telah dibaca 47 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif