Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Beban Seorang Anak

Beban Seorang Anak

GODLY-PARENTS

foto: epicparent

Tadi mengantar putri saya mengikuti kursus. Sudah lama saya tak mengantar putri saya kemana-mana. Maklum sudah gede, kalau diantar justru malu karena sudah nenek-nenek masih diantarkan seperti anak TK. Tapi kursus ini pulangnya malam dan menyebrang jalan raya ramai. Karena khawatir akhirnya saya ikut untuk mengantar dan nanti pulangnya bersama. Ketika tiba di tempat les ada seorang ibu yang sibuk mengurus seorang bocah yang sedang tiduran di karpet tempat les. Saya su’udzon, “Duh ini nih, tipe orang tua yang manjain anaknya kok keterlaluan bingits! Anak dibiarin tidur di lantai karpet, minum diambilkan dan di sayang-sayang terus kayak bayi. Gini ini yang bikin anak jadi kayak memperbudak orang-tua. Seringkali terbawa hingga dewasa, manja nggak ketulungan.” Anak itu berusia sekitar tujuh atau delapan tahun. Nggak kecil-kecil amatlah!

Turns out to be,…ternyata anak itu bukan anaknya! Jreeeeng! Dari tadi saya nonton dan nggak mudheng. Ternyata ibu itu sedang menunggui anaknya yang kursus. Saya seperti biasa su’udzon soalnya ibu ini cantik, seksi dan agak ceriwis ramah. Jadi saya perhatikan dulu. Ngapain sih ini orang? Bajunya gaun you can see berenda, dan penampilannya kayak artis hongkong thn 90-an Chang Man Yee or Zhang Min model-model gitulah! Rupanya, anak itu datang untuk kursus bahasa. Di kelas, dia muntah dua kali dan badannya demam tinggi! Terpaksa dikeluarkan dari kelas dan ditidurkan di karpet ruang tunggu. Nah ibu ini, karena kasihan dia mengurus anak itu dengan suka rela, mengambilkan minum, memijat dan lain-lain. Jadi saya udah berlaku jahat. Pertama, sirik karena si Chang Man Yee, emak-emak jemput les aja kok busananya ‘Hailai style’ banget? Sumpah, dua bapak-bapak yang jemput anak jadi ikutan ramah pada beliau! Hihi,.. Kedua, ternyata dia punya sifat keibuan dan mengasihi anak-anak, gak perduli bukan anaknya juga, ada anak sakit tergeletak gitu didampingi dan disayangi dengan sepenuh hati. Sementara saya nonton doang dan menuduh dia terlalu memanjakan anak!

pinte

pinterest

Nah, nggak lama ‘anak kandung’ ibu itu keluar kelas dan terlihat jelas kemiripannya. Ibu Chang Man Yee itu terus berpesan pada ‘anak asuh’nya agar hati-hati dan jaga kesehatan. Lalu ia pulang dengan anaknya. Nggak lama si ‘Mbak’ alias pembantu yang mengantar si anak yang sakit itu muncul. Masih muda Mbaknya, abege! Langsung diomelin sama resepsionis tempat kursus, “Mbak, anak asuhanmu sakit parah, sampai muntah dua kali di kelas kursus! Demam tinggi! Kamu malah pergi naik motor entah kemana! Dan kamu sengaja kasih nomor telepon yang salah sehingga tidak bisa dihubungi! Bagaimana sih?!” Mbaknya yang abege dan dicasting jadi nanny itu diam saja cengar-cengir sambil elus-elus anak asuhnya. Semua bingung apakah anak itu akan diantar pulang pakai taksi?Atau siapa yang akan mengantar? Akhirnya ia tetap pulang membonceng motor sama Mbak-nya yang masih abege itu. Karena Zhang Min sudah pulang, saya satu-satunya ibu yang tersisa disitu. Dengan mom-power yang sangat minim saya coba menasihati si anak, “Kamu jaketnya dipakai, tutup rapat jangan kena angin! Kemudian saat bonceng Mbak, kamu pegang erat si Mbak, jangan sampai terjatuh dari motor! Sampai rumah kamu tiduran, makan bubur dan minum obat.” Anak itu manggut-manggut lesu dan mbaknya cengar-cengir abege yang berusaha tanggung jawab. Dalam hati saya mengelus dada, “Astaga, punya anak cuma dititip ke abege gak jelas gini,…”

Setelah si anak pulang, resepsionis tempat kursus buka kartu, “Bu itu anak tadi sudah nggak ke sekolah. Nggak tahu kok sore malah dipaksakan les!” Saya manggut-manggut sok menganalisa kejadian. Tadi juga saya dengar si anak ketika dikasih tahu sama resepsionis kursus, “Kamu kalau sakit dan tidak masuk sekolah, kenapa masih memaksakan diri berangkat kursus?” Kemudian sang anak menjawab lemah, “Mami suka kesal kalau aku keseringan bolos kursus,…karena sudah bayar mahal.” Wadoh, saya jadi trenyuh haru. Saya juga sering memaksa anak saya ikut semua kegiatan yang sudah ‘membayar’, jangan sampai tidak hadir. Soalnya rugi! Sudah bayar kok malah bolos? Jadi seperti inilah anak-anak yang dicekoki ‘jangan sampai rugi’. Sampe sakit juga bela-belain kursus dan membuat heboh seluruh institusi kursus. Disamping saya ada wanita paruh baya turut prihatin. Setelah semua pergi barulah saya menyapa si wanita paruh baya, “Nungguin siapa Bu?” Tanya saya ramah. Soalnya sejak datang saya sibuk sendiri mainan gadget secara tidak sopan. Si wanita menjawab lembut, “Saya nungguin momongan saya, Bu. Saya ini kerja.” Lalu saya mengerutkan kening, wah another babysitter/nanny? Lalu saya tanya, “Emang anaknya umur berapa?” Si suster menjawab, “Anak saya umur 11 tahun dan saya mengasuh sejak usia 7 bulan.” Saya ternganga terheran-heran. Beruntungnya anak yang ini!

Anak-anak banyak yang dititipkan pada nanny/ baby sitter/ pembantu rumah tangga, sementara orang-tua ‘konsentrasi’ bekerja. ‘Kalau papi-mami nggak kerja kamu makan apa? Gimana bayar sekolah kamu?’ Ya pokoknya alasan yang seragam semacam itu. Saya dan suamipun sering menggunakan alasan itu untuk meneror anak saya, “Semua diperbuat untuk kamu. Tangan jadi kaki, kaki jadi tangan. Tunjukkan kamu bersyukur! Balas dengan cara kamu berprestasi di sekolah/ tempat kursus! Apa-apa dikasih, kok malah enak-enakan saja! Kalau nggak ada kamu, mami-papi pulang ke desa. Papi nyangkul disawah dan mami nanam tomat! (okay, yang terakhir ini hiperbola banget!).”  Apapun istilahnya. Saya makjlebs! Ternyata beban seorang anak nggak beda dengan beban orang dewasa ya? Jangan dianggap mereka tidak berusaha! Kasihan, yang harusnya relax dan bahagia, sejak kecil banyak anak-anak dicekoki aneka tanggung jawab dalam posisinya sebagai anak.

Mengenai dititip pada pembantu/babby sitter, saya sudah mencoba beberapa kali dan rasanya ‘patah hati.’ Saya tidak bisa menitipkan anak saya pada siapapun! Saya menitipkan anak saya pada dirinya sendiri. Setiap kali ada pembantu/nanny saya bawaannya ‘gahar’ merasa mereka kurang mencintai anak saya. Asal-asalan. Ya, bagaimana? Cinta yang dibayar mahal-murah dan cinta yang gratis-tulus ya rasanya beda! Kasihan anak-anak. Ada yang beruntung dan dapat pengasuh yang mampu mencintai sepenuh hati, ada pula yang buntung punya pengasuh asal-asalan atau justru berlaku keji pada mereka. Kasusnya? Brows saja, ada banyak! Tak sedikit anak yang ‘mengantar nyawa’ kala diasuh. Jangankan oleh orang lain, kadang ayah dan ibu lalai saja, anak sendiri jadi korban. Punya anak nggak mudah! Really! Pikir-pikir dululah kalau hendak punya anak dan pastikan kalau selusin, Anda punya pohon duit! Ciao,…

Telah dibaca 59 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif