Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Kebanggaan Atas Dosa

Kebanggaan Atas Dosa

Beberapa kali saya melihat acara yang menampilkan orang-orang yang mengemukakan ‘dosa’ mereka dan menuntut orang lain untuk turut bertanggung-jawab. Jaman dahulu berbuat zinah menjadi aib yang memalukan dan sedapat mungkin disembunyikan agar tidak ketahuan. Jaman sekarang justru diumbar dan meminta perhatian publik. Kadang otak saya tidak dapat mencerna dengan baik pada peristiwa-peristiwa semacam ini. Ketika perbuatan suka sama suka lalu ‘tidak dibayar’ — yang satu mulai merasa ‘tidak suka’ dan menuntut ‘upah.’

Cinta sudah tidak ada, kalaupun ada dijual seribu tiga? Mengerikan sekali ketika romantisme, kasih-sayang dan kedekatan sebuah hubungan hanya ‘cari enaknya’ saja. Ketika menjadi tidak enak lalu marah-marah saling umpat, saling tuntut dan saling menyalahkan. Mengenaskan ketika anak-anak atau buah dari hasil suatu hubungan terlarang menjadi ‘kwitansi’ untuk menuntut ini dan itu. Jaman sudah berubah, bergeser menjauh dari norma-norma tata susila yang saya kenal semasa kanak-kanak dulu. Ibu saya dulu kadang mencibir dan mengomentari beberapa wanita yang dikenalnya sebagai ‘perempuan tidak tahu malu.’ But that was a long long time ago, ketika malu masih jaya dan punya kedaulatan di nurani serta mata publik. Jaman sekarang? Semua diumbar! Semakin bejad semakin seru diperbincangkan dan dikupas-tuntas. Padahal secara gamblang terlihat saja, bahwa yang dituntut hanyalah materi. Mau dibahas hingga jungkir balik, yang bersangkutan tidak masalah dan masa bodoh. Yang penting lu bayar, gue mingkem. Rasa malu sudah pindah ke bulan.

WOMEN-Quote-strong-women

foto: womenonthefence

Beberapa wanita mengakui dirinya adalah selingkuhan lelaki yang populer. Yang lain mengaku ditipu habis-habisan setelah dipermainkan oleh seorang lelaki lalu menuntut peresmian hubungan. Apa bisa meresmikan hubungan dengan orang yang merasa muak dan tidak lagi menyukai kita? Kok seperti menjaring angin. Apa bagusnya? Yang ada hidup bakalan terasa bagai dalam neraka. Yang dituntut sebenarnya apa? Refund atas segala kesenangan yang dinikmati bersama-sama? Getok deh kepala saya! Saking nggak ngertinya atas semua kejadian yang merajalela di dunia ini. Atau ini hanya ulah media pemberitaan yang semua serbanya dibuat berita? Tusuk gigi jatuh saja kalau memungkinkan dijadikan headline berita?

Dunia ini memang semakin tua dan banyak yang tersesat di dalamnya. Uang lagi-lagi uang mendominasi semua harapan. Termasuk saya dan Anda. Mungkin yang membedakan hanya bagaimana kita memandang uang itu apakah lebih penting dari diri saya dan Anda? Atau tidak? Ketika uang menjadi lebih penting, artinya sebagai manusia nyawa kita pun siap kapan saja dijual demi uang. Ya, mengerikan,…lagi-lagi mengerikan. Saya tidak bisa menyarankan atau menyadarkan orang-orang yang sudah tersesat jauh dan memandang hidup ini hanya melulu enak atau tidak enak. Bayar atau gratis. Suka atau benci. Tapi saya pikir sangat penting untuk mendidik anak-anak yang ada sekarang untuk mengerti kebijaksanaan itu seperti apa. Bersabar dalam yang tidak enak. Ikhlas jika digratisin Tuhan sendiri yang akan membayarnya. Dan tidak memelihara kebencian dalam hati karena akan menimbulkan penyakit. Yang paling penting adalah menyadari bahwa dosa bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan dan menuntut ‘upah’ atas dosa. Haduh! Yup, saya rindu hari-hari menyumpah, dasar p*rek!

Facebook Comments
Telah dibaca 76 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Ci Jo , dulu orang2 hanya bisa membanggakannya ke teman2 sekarang bisa lewat media ya? Dulu teman saya hanya bisa membanggakan ke beberapa orang kalau dia jagoan soal wanita, katanya di setiap daerah yang ia singgahi pasti ada wanita yang ia kawini, kalau dijumlah2 sudah lebih dari seratus ..bangga nya dia….walau semua wanita itu ditinggalkan begitu saja kemudianhttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif