Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Menjadi Diri Sendiri

Menjadi Diri Sendiri

Disadari atau tidak. Menjadi diri sendiri bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Karena kita terbiasa menonton pertunjukan kehidupan. Kita terbiasa menonton film, menonton teman sekolah yang populer, menonton rekan kerja yang mendapat penghargaan, bahkan menonton tetangga yang membangun rumah tiga lantai lengkap dengan parkiran bawah tanah. Diberi tontonan semacam itu, hati kita akan berkata. “Wah, saya kepengen seperti itu! Saya pengen keren kayak bintang film, saya pengen populer di sekolah kayak si anu, saya pengen dapat penghargaan juga dan pengen membangun rumah lima lantai. Kalau bisa sekalian dengan kolam renang.”

Kita banyak maunya karena kita disuguhi kepercayaan bahwa orang lain lebih baik, lebih berhasil dan lebih sukses. Kamu tertinggal bagaikan desa yang telat mentas kemiskinan. Lalu kita panik dan beramai-ramai ingin menjadi seperti orang lain. Dulu saya suka sekali menonton serial film FRIENDS dan saya sangat mengagumi Jennifer Anniston. Pertama melihatnya saya langsung suka. Menurut saja Jennifer itu tidak sekedar cantik tetapi lucu, cerdas, pemarah, pemaaf, pejuang, semuanya berputar dalam karakter Rachel yang diperankannya. So, I like it! Saya pikir saya akan meniru Jennifer Anniston. No, sayangnya saya tidak berakhir menikah dengan seseorang yang mirip Brad Pitt. Jauh! Lagipula Jennifer tokh akhirnya bercerai dengan Brad Pitt. Saya mungkin menikah dengan Joko Sembung but so far, yeaaah…so good! Diusahakan tidak ada drama-drama aneh dalam kehidupan rumah tangga kami. Hey, disatu titik ternyata saya better than Jennifer Anniston! He-he,…

Tadi seorang teman mengomentari teman lain yang saat ini sepertinya sukses dan hidupnya serba glamour. Tidak ada yang salah sih dengan meneliti kehidupan orang lain, karena terkadang orang-orang tersebut juga suka pamer. Cuma yang kurang saya sukai adalah membicarakan tentang ‘betapa wah’nya kehidupan orang tersebut. Seolah-olah disitu ada ‘misteri.’ Apakah metode piara tuyul atau metode jejadian babi ngepet. I don’t know. Karena menurut saya itu bukan urusan saya. Saya hanya berkomentar singkat bahwa orang-orang memang ada yang bernasib baik dan sangat baik. Itu peruntungan mereka yang sebab-musababnya tidak ada yang tahu. Mungkin keberuntungannya memang jatuh dari langit. Mungkin dia memang bekerja keras untuk menggapai apa yang diharapkannya. Mungkin juga Tuhan sudah menggariskan sejak dia dalam kandungan ibunya. Intinya Don’t know and don’t care.

YourselfSaya hanya berfokus pada diri saya sendiri. Dan sadar bahwa metode piara tuyul dan klenik lainnya bukan style saya. Apalagi metode gibat sana-gibat sini. Segala cara korupsi-kolusi dan nepotisme dicoba hingga tuntas-tas-tas. Liat saja apa yang sedang terjadi di pemerintahan saat ini. Itu akibat banyak yang ‘bermain drama.’ Intinya menjadi diri sendiri memang tidak mudah. Karena kita terpengaruh oleh gambaran-gambaran lain. Saya tidak mungkin menjadi Jennifer Anniston. Walau operasi plastik sampai habis jutaan dollar, walau saya meniru segala tingkahnya. Tidak akan mungkin saya seperti dia. Karena Jennifer adalah Jennifer dan saya adalah saya. Ini yang kadang tidak dipahami oleh orang. Ingin mengikuti jejak orang lain tanpa menggali ‘siapa saya’?

Tadi saya ingin menulis disebuah media lain. Menuliskan resensi film. Karena kebetulan saya sedang rajin menonton film. Komunitasnya tampak cukup bergengsi membahas aneka perfilman. Namun setelah saya amati gaya bahasa penulisannya ‘berat’. Gaya yang menunjukkan ‘kemaha-tahuan’, sementara saya selalu berusaha menulis hanya melulu tentang bintang dan kupu-kupu. Sesuatu yang ringan dan yang lucu. Saya tidak paham istilah-istilah aneh yang njlimet walau ada bonus saya akan terlihat pandai dan cerdik cendikia. Tapi memang saya nggak ngerti, itu dapat kata-kata yang maknanya sulit dan berat darimana? Jadi saya batalkan niat untuk menulis di media tersebut dan kembali menulis disini dengan riang ria. Rumput mungkin bisa tumbuh di celah-celah kerikil, tapi bunga mawar sulit berkembang dibatu cadas. Mana bisa ditanam disitu?

Apakah saya tidak pede? Tidak juga. Saya hanya melihat dan mengukur kemampuan diri. Kalau suatu hari saya sudah mengerti segala kosa kata hebat yang serba mencengangkan publik, mungkin saya akan mencoba menulis di media tersebut. Dari dulu saya adalah sejenis orang yang tidak suka memaksakan diri. Saya sangat mencintai diri saya melebihi apapun di dunia ini. Baru kemudian saya mencintai keluarga. Mengapa demikian? Karena jika saya bahagia maka akan lebih mudah untuk membahagiakan orang-orang lain yang ada disekitar saya. Jika saya tidak bahagia, maka yang saya lakukan untuk orang lain terasa bagai keterpaksaan. Bukannya menjadi baik, saya akan memendam amarah dan kebencian. Dalam kejadian darurat di pesawat terbang. Orang tua diharuskan mengenakan masker udara bagi diri sendiri sebelum menolong anak-anaknya. Itu dikarenakan orang tua tidak boleh pingsan. Jika kehilangan kesadaran bagaimana ia akan menolong anak-anaknya?

Menjadi diri sendiri memang tidak mudah karena dalam kehidupan ini kita kerap dipaksa menjadi orang lain. Kita dipacu dengan waktu. Kita berkompetisi dengan saudara dan teman – teman kita sendiri. Ketika kemarin pertama kali menerbitkan buku saya menulis bahwa saya menghabiskan masa awal kehidupan guna memenuhi pakem kehidupan. Itu benar. Dan saya merasa kelelahan. Karena dipaksa sekolah dari TK hingga lulus kuliah. Lalu saya harus menikah, bekerja dan memiliki anak. Lalu membesarkan dan memberi teladan yang baik bagi anak. Apakah terpaksa? Saya pikir itu karena saya melihat semua orang melakukan hal yang sama. Lalu saya hanya meng-copy paste pakem kehidupan sewajarnya. Tetapi memiliki anak bagi saya maknanya berbeda. Saya boleh salah untuk hal-hal lain, tapi tidak boleh salah dalam mendidik anak saya. Kerugiannya akan sangat besar. Lalu sekarang apakah saya sudah menjadi diri sendiri? Almost! Karena saya baru menerbitkan satu buku. Saya ingin menerbitkan sepuluh, kalau bisa seratus buku! Thats me, a writer wannabe. He-he,… Happy to be me!

Telah dibaca 75 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

3 comments

  1. katedrarajawen

    Yups, menulis dengan penuh suka cita dengan apa adanya lebih memuaskan daripada harus bergaya2 dan pakai bahasa menjlimet agar kelihatan intelek, hanya dapat kepuasan palsu..godaan untuk tidak menjadi diri sendiri itu yang berat, ya Ci Johttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  2. Sependapat atau enggak sependapat, fakta ataupun petunjuk yang amat menarik.
    Terimakasih admin dah nulis petunjuk & Info nya, dengan cara mampir kemari.
    Jika pengen beoanja kaos balita silakan mampir di toko
    web saya yah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.