Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Hingga Tiba Saatnya

Hingga Tiba Saatnya

Beberapa hari lalu saya berdiskusi dengan penulis sinetron muda, sahabat saya sejak beberapa tahun ini. Lalu saya mengeluhkan beberapa media penerbit yang lama merespon atau bahkan tidak merespon sama sekali terhadap tawaran naskah atau pendekatan yang saya lakukan. Sahabat saya menjawab, “Lho, sabar tho Mbak,....Kan media itu menerima ratusan dan ribuan naskah. Sulit untuk membalas satu persatu.” Ia menyiratkan, bahwa seolah saya yang terburu-buru, segala sesuatu ingin segera nampak hasilnya. Lalu saya menyanggah, “Ada media yang sama besarnya dan berasal dari induk perusahaan yang sama. Tetapi mereka membalas email saya. Setidaknya masih menganggap saya ini eksis dan ada.” Lalu saya katakan bahwa itu bagi saya adalah indikasi tidak menghargai naskah yang telah dikirim atau seharusnya mereka menyewa lebih banyak orang untuk membalas/merespon email. Bahkan penolakan lebih baik daripada tidak ada respon sama sekali. Yang saya anggap tidak sopan.

excelTeman saya masih menampakkan ketidak-setujuan. Tiba-tiba ia mengirim voicemail kepada saya, “Mbak… ini lagu apa? Apakah kamu ingat lagu ini? Saya ingin memasukkan lagu ini sebagai latar tulisan naskah novel saya.” Bukannya nyombong, tapi ingatan saya cukup tajam dan saya mengenali lagu itu sebagai lagu “Bimbang” yang dipopulerkan oleh mendiang Andi Meriam Mattalatta, si mutiara dari selatan. Saya heran karena teman saya pernah mendengar lagu ini, padahal usianya kira-kira sepuluh tahun dibawah usia saya. Saya lalu mengatakan padanya, “Saya merasa sedih mendengar lagu ini. Lagu ini populer ketika saya masih SMP. Mungkin kamu masih balita. Saya juga sedih mengenang penyanyinya. Yang sangat anggun, cantik dan suaranya merdu mendayu. Eh,… nggak nyangka sudah berpulang lima tahun yang silam.” Teman saya lalu terdiam. Saya mengambil kesempatan ini untuk menjelaskan alasan saya ingin bekerja dengan cepat dan efisien, “Kamu lihat kan? Saya tahu lagu yang super jadul itu. Ini artinya usia saya jauh diatas usia kamu. Dan waktu saya sangat sempit untuk melakukan pekerjaan yang saya idamkan. Yaitu menjadi penulis. Kamu dan temanmu Joni masih sangat muda-muda. Dunia kalian masih panjang dan bertayang hingga beberapa seri lagi. Bagaimana dengan saya? Teman-teman dan kolega seangkatan saya, yang masih stuck/nyangkut/mandeg pada posisi-posisi yang kurang menguntungkan?” Ia terdiam dan mulai memahami alasan saya yang putus asa dengan orang-orang yang terlalu lamban, hanya sekedar untuk merespon email.

Masih ketika saya mengenang lagu “Bimbang” yang sedih itu, mendadak muncul pula berita-berita tentang meninggalnya Djujuk Djuariah. Wanita cantik pentolan group lawak Srimulat yang dulu sangat populer. Saya turut bersedih. Seperti yang pernah saya ceritakan di masa lalu ketika televisi hanyalah TVRI, penampilan group Srimulat atau group lawak jadoel lainnya sangatlah menghibur. Djujuk biasanya berperan sebagai wanita cantik yang ditaksir oleh pangeran atau pemuda idaman. Terkadang juga Djujuk berperan menjadi putri, jaman dulu Nunung yang menjadi mbok mban atau dayang-dayang dari Djujuk. Namun sekarang Nunung melesat, jauh lebih populer ketimbang Djujuk. Saya baca Nunung masih terhitung keponakan/kerabat Djujuk. Itu adalah salah satu indikasi perputaran nasib dan misteri kehidupan. Saya masih sedih kenapa Djujuk harus meninggal? Lalu tak lama kemudian ada berita meninggalnya Rinto Harahap yang juga adalah penulis lagu populer di tahun 80-an. Dia pula yang menciptakan lagu “Gelas-gelas kaca” yang melambungkan nama Nia Daniaty.

eternityWaktu adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang. Tidak dapat diulang/rewind, dikembalikan dan diperbaiki. Waktu melarutkan segalanya, kenangan, masa muda, masa lalu, popularitas, kejayaan, hari-hari bahagia. Pada akhirnya waktu adalah hal yang pantas diburu dan dimanfaatkan maksimal. Dalam kasus saya. Waktu juga merupakan hal yang esensial. Maka menurut saya membuang-buang waktu untuk saat ini adalah hal yang sangat keji. Berbeda ketika berpuluh tahun silam, saya justru membuang-buang waktu untuk segera maju ke masa depan yang saya impikan. Nyatanya masa depan itu hingga kini seperti jebakan pada ujung tongkat yang diacung-acungkan saja, hanya untuk membuat manusia bergegas meraihnya. Tapi sulit! Ambisi! Karena umpan itu sampai kapanpun tidak akan diberikan terkecuali Tuhan sendiri yang menganugrahkannya. Bagaimanapun juga, kita harus berusaha. Pada usia sekarang membuang waktu adalah hal yang tidak termaafkan. Karena saatnya bisa kapan saja,…. We never know,…

BIMBANG
Andi Meriam Mattalatta

Seribu pesona yang kau taburkan
Sejuta mesra yang pernah kurasakan
Bagai embun pagi
Berlalu kala mentari tiba
Ingin kusingkapkan tirai dihatimu
Penghalang pandang tatap mata hatiku
Adakah disana
Bintang harapan dambaan kalbu
Masihkah kini masihkah kini
Nada nada cinta berlagu dihatimu
Dihatimu… dihatiku
Adakah kini adakah kini
Kata kata mesra berbisik dihatimu
Dihatimu… dihatiku..
Telah dibaca 54 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif