Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Stamina Seorang Pekerja

Stamina Seorang Pekerja

pradaBolak-balik saya menonton “The Devil wears Prada” yang diperankan dengan super ciamik oleh Meryl Streep dan Anne Hathaway. Ya, lagi-lagi naskah chicklits! Yaitu naskah yang dongengnya tentang ‘dunia cewek’ dan yang namanya cowok (yang pada lingkup kehidupan saya saat ini rata-rata sudah berubah menjadi bapa-bapa perut buncit yang membosankan) tidak akan pernah mengerti. “Ini film bagusnya apa sihhhh?…” Isinya banyak cewek pake baju heboh, dandan glamour, cipika-cipiki dan berusaha menyelami kehidupan jetset yang bombastis. Ini cerita dalam mimpi, mumbo jumbo atau gimana?

Langsung pada sinopsis singkat ceritanya deh ya! Biar nggak bingung. Ada seorang gadis bernama Andrea yang ingin menjadi penulis dan melamar pekerjaan ke aneka media massa. Sayangnya yang ‘nyangkut’ adalah perkerjaan PA (personal assistant) dari seorang pemimpin redaksi yang sinis, keji, sesukanya, arogan, sengak, licik dan pokoknya komplet. Majalah yang dipimpin oleh Miranda Priestley (Meryl Streep) adalah majalah Fashion, sehingga suasana kerja sangat kompetitif dan busana yang dikenakan semua serba chic, trendy and fashionista. Si pemimpin redaksi ini orang yang ‘antik.’ Ketika Andrea gagal memenuhi tugas pertamanya dikomentari sebagai berikut, “Gue kecewa, … biasanya gue angkat sekertaris yang kurus, langsing, cantik tapi rata-rata bego. Sekarang gue mikir, … oke deh gue ambil sekretaris yang gendut, bajunya amburadul asal dia pinter. Eh, ternyata…elo begok juga! Bahkan lebih bego dari sekretaris yang dulu, yang cantik-cantik itu!!” Pada masa awal bekerja Andrea sempat disemprot semacam itu. Tentu saja shock, wajahnya bengong!

Kisah mengalir manis. Si gadis ‘biasa-biasa’ saja seperti Andrea, akhirnya bisa menguasai bu boss Miranda Priestley. Kuncinya apa? Saya yang lima belas tahun…ya boleh dikata lima belas tahun bekerja sebagai sekretaris/personal assistant/junior accounting dan sebagainya, mengerti bahwa kunci satu-satunya untuk bekerja dengan hati tenang dan damai adalah ‘menguasai boss’. Bagaimana caranya? Perhatikan kebiasaan boss! Yang tidak disukai oleh mereka, jangan Anda lakukan dan memicu kejengkelan. Sebaliknya apa yang disukai oleh mereka, Anda munculkan disitu diri Anda sebagai dewi penyelamat! Ta daaaaaaa!…

Andrea tak butuh waktu lama untuk ‘menguasai pekerjaannya’ yang sebenarnya lebih tepat ‘menguasai boss-nya.’ Ia cepat belajar, mengerti dan beradaptasi. Yang tadinya ia hanya sekretaris junior bahkan mampu mengalahkan seniornya, diajak oleh sang Boss untuk menemani pada pagelaran fashion di Paris. Disini konflik muncul, “Boss, saya nggak bisa ke paris. Kan Emily yang adalah sekretaris senior kamu udah lama termimpi-mimpi pengen berangkat ke Paris?? Ini namanya saya nusuk dari belakang kalo saya yang berangkat!” Bu boss Miranda menyahut kalem, “Ini kesempatan karir yang bagus buatmu. Kalo kamu nggak ambil saya anggap kamu nggak serius tentang masa depan kamu di dunia kerja. … Oya, jangan lupa. Yang ngasih tahu ke Emily kamu saja ya! Sekarang juga keputusannya!” Keji dan berdarah dingin, itulah si Boss. Maka ia dijuluki ‘The Devil wears Prada” — karena ia menggunakan sepatu mahal merk Prada. Maklum boss majalah fashion gitu loch? Mosok pake sendal japit swallow...kan ya enggak banget!

Pekerjaan yang diminta oleh Miranda, aneh-aneh semua. Mendadak minta steak untuk makan siang. Lalu ketika steak sudah dibeli dan ada dimeja kerjanya dia bingung, “… Ngapain kok ada steak di meja saya? Saya baru pulang makan siang dengan si anu.” Di lain hari dia minta tolong, “Andrea kamu carikan buku Harry Potter buat anak saya ya!” Andrea mengangguk manis, “Oke Bu, saya beli di toko buku sekarang juga.” Lalu Miranda jawab, “Kamu baru kejedot? Kepalamu kebentur tembok? Kok jadi bego gitu?” Andrea bingung, “Hah,…emang kenapa boss?” Miranda menjawab judes, “Siapa juga yang mau beli buku Harry Potter di toko buku? Anak-anak saya pengen tahu sambungan kisah Harry Potter yang terbaru yang belum terbit! Jadi kamu harus mendapatkan copy dari naskah yang belum jadi buku, gih…cari sonoh!!!” Kebayang nggak sih?

Akhirnya Andrea dapat kenalan penulis terkenal yang temannya membuat design cover Harry Potter dan punya naskah dalam bentuk manuskrip alias ketikan biasa yang belum jadi buku. Naskah itu dicopy dan dijilid lalu diberikan pada Miranda Priestley. Masih dijawab sengak sama Bu Boss Miranda, “Ini copyan Harry Potter? Kok cuma satu? Anak gue kan kembar dua orang. Gimana mau baca? Harus gantian gituh??…” Andrea menjawab dengan senyum manis. “Saya bikin copy-an dua, udah dijilid rapi, udah dikasi ke si kembar, sekarang lagi dibaca di kereta api dalam perjalanan menuju kerumah nenek mereka. Ini satu copy-an hanya sisa, saya berikan langsung pada ibu. Siapa tahu ibu juga ingin membaca.” Wouwowowo!…. Miranda tersenyum dan menatap kagum pada asissten kesayangannya, Andrea. Moral cerita : Yup, kalo kerja jangan bego. Kalo boss nyuruh kerjakan nomor 1 sampai 3. Anda kerjakan nomor 1-5 dan Anda pelajari kemungkinan no 6 hingga 10 yang akan ditugaskan kemudian. Jreeeng! Emang jadi pekerja/karyawan itu berat. Buat saya pribadi bukan masalah pekerjaannya kadang yang melelahkan adalah drama-dramanya. Dimana saya harus pandai menjalin komunikasi dan kerja sama dengan atasan maupun rekan satu team, ataupun office girls/ office boys. Iya toch? Kalau Anda menyebalkan, siapa yang sudi bekerja sama dengan Anda? Kecuali Anda big boss seperti Bu Miranda Priestley.

jobSingkat cerita, Andrea terhanyut dalam pekerjaannya. Namanya juga karir bagus, kerja di majalah glamour, pake baju mewah dari desaigner ternama tinggal minjem, pergaulan di pesta-pesta jet set. Lama-lama dia juga berubah. Bajunya super trendy. Setiap saat menggenggam telepon dan menuruti semua permintaan Miranda sebagai asisten/tangan kanan yang handal. Andrea nggak punya waktu lagi buat menghadiri acara kumpul-kumpul bareng teman-teman dekat, bahkan ulang tahun cowoknya ia terlambat datang karena harus mendampingi boss di pesta jetset. Alasan Andrea pada orang-orang disekitarnya, “Kalian musti ngerti kerjaan saya ini penting. Susah dapat kerjaan seperti ini! Aku terpaksa,….namanya juga kerja,…nggak ada pilihan lain,…” Akhirnya semua orang yang mencintai Andrea dengan tulus pergi menjauh. Good-bye! Sementara Andrea makin larut dalam dunia Fashionista. Sampai putus pula dari cowoknya.

Pada bagian ending, Andrea menyadari betapa Miranda sang boss adalah ‘dragon lady.’ Wanita yang cerdas, licik dan keji. Tanpa ragu dan sungkan ia menusuk asisten utamanya, menusuk partner utamanya dan menyingkirkan pesaingnya. Pokoknya dalam kehidupan Miranda tidak ada sahabat, tidak ada kepercayaan, tidak ada cinta. Yang ada Miranda harus selalu waspada dan berada di puncak sebagai pimpinan redaksi papan atas majalah Fashion kelas dunia. Andrea akhirnya menyadari bahwa bekerja dengan Miranda perlahan-lahan juga membuatnya menjadi orang yang licik, acuh dan keji lalu meniadakan faktor-faktor lain di kehidupan selain dari ambisi. Film ini bagi saya bentuk lain dari “be careful with what you wish for,…” Hati-hati dengan apa yang Anda inginkan. Bisa jadi Anda mendapat pekerjaan yang sangat baik dan berada di puncak dunia, tapi Anda adalah orang yang dibenci oleh khalayak. Bersediakah? Melihat nasib Andrea saya kerap berkata pada diri, “Ih,…gueee banget…”  Sama seperti Andrea, saya pada akhirnya memutuskan meninggalkan Bu Boss Miranda. Bukan semata karena saya marah, bukan semata karena saya benci dan tidak sependapat dalam banyak hal. Tetapi karena Miranda adalah boss yang tidak pantas mendapat karyawan sehebat saya dan Andrea! Sweet!

Facebook Comments
Telah dibaca 59 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif