Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Pendekatan Elegan vs Tabrak Lari

Pendekatan Elegan vs Tabrak Lari

Dalam beberapa hari berturutan ini ada teman-teman yang menghubungi via sosial media. Yang lalu pernah saya tuliskan mengenai perihal sikap baik ada maunya. Karena seringkali terjadi seseorang yang lama tak muncul dalam kehidupan kita, muncul mendadak hanya karena butuh atau ada maunya. Paling sering : jualan/dagang. Hal yang kedua adalah berhutang/pinjam uang. Yang ketiga mengajak usaha/kerja sama/ penjajagan bisnis. Hal yang pertama dan kedua biasanya langsung tidak menimbulkan simpati. Hal ketiga masih menjadi pertimbangan karena kerjasama usaha erat kaitannya dengan keuntungan pada kedua belah pihak. Bukan hanya satu pihak saja yang diuntungkan dan yang lain dibuntungkan.

begLalu apakah menawarkan dagangan dan berhutang pada teman lama adalah sesuatu yang tabu? Dan harus dihindari? Tidak juga! Hidup ini jangan dipikir semua orang sangat egois atau butuhnya sendiri saja. Ada kok orang-orang yang punya rasa kepedulian tinggi, orang yang mudah berbelas-kasihan dan orang yang ingat untuk membalas budi. Pada saat-saat kritikal dalam hidup kita, tidak ada salahnya juga menghubungi teman lama untuk kebutuhan tersebut. Namun tahu dirilah dan jangan memaksa. Maka orang diharuskan membuat networking dan me-maintain suatu relasi karena kebutuhan ini. Jangan terlalu tinggi hati juga, terkadang Tuhan memberikan bantuan melalui ‘tangan’ orang lain. Tetapi pendekatannya harus secara elegan jangan model tabrak lari. Lama tidak bercakap-cakap, sekalinya SMS atau mengajak chat berbunyi, “Win apa kabar?? Eh….beli dagangan gue dong! Gue jualan ABC.” 

Kesal juga saya. Emangnya saya kasir? Tiap kali situ jualan saya yang harus keluar uang dan membeli? Sudah berapa kali saya beli dagangan teman-teman yang sesungguhnya tidak terlalu saya butuhkan tetapi karena ‘kasihan’ maka saya beli juga. Kadang belinya ‘terpaksa.’ Ada yang menodong sungguhan, ada yang bolak-balik posting di wall mengingatkan, “Gue jualan ini lhooooooooooo….beliii dong!” Beneran saya sering belanja dan akibatnya juga sering dimarahi suami karena dianggap saya boros beli barang-barang yang tidak dibutuhkan atau beli barang dengan harga kemahalan akibat niat saya membeli hanya ‘ingin menolong’ teman. Lama-lama keadaan ini tidak nyaman juga bagi saya dan pemikiran saya tentang seorang teman sepertinya menjadikan saya hanya sekedar ‘obyek usaha.’

biyuSebagai contoh proses pendekatan ‘tabrak lari’ dilakukan oleh seorang kawan yang benar-benar tidak pernah menyapa secara personal. Bahkan ketika saya beri komentar atau ucapan selamat ulang tahun di wall-nya tidak mengucap terima kasih atau nge-like. Mendadak beliau mengirim pesan inbox, “Win apa kabar? Ada nomer BBM atau chatting online? Aku dikasih dong!” Dulu ada yang kayak gitu, teman lelaki yang pada akhirnya saya malas menanggapi. Kali ini yang mengirim wanita, ibu yang kelihatannya kelelahan mengasuh anak-anaknya. Okay, saya sedikit bersimpati dan saya berikan nomor pribadi. Nggak lama saya balas dan saya tanya sudah di add belum? Dijawab sudah dan kirim pesan singkat. Eh, langsung disambung, …“Win sebenarnya aku mau menawarkan ini. Plak-plak-plak….” lalu ia mengirim enam foto dagangan sekaligus. Hayyah! Dalam hati saya sebal, “Gilee nggak pake basa-basi. Nanya kek apakah saya udah ke bulan apa belum? Saya udah nyoba bungee jumping belum?… wkwkwkwk…” Untuk sopan-santun saya tanya kembali, “Berapa itu harga barang dagangannya?” Dibalas langsung olehnya, “Semuanya sekian ratus ribu, asli buatan tangan, handmade.” Mau jawab kasar, “Baju kayak ginian dikasih aja nggak akan saya pakai. Kamu suruh saya beli? Handmade emang yang bikin siapa? Martha Stewart?” Wouw! Bisa jadi sakitnya tuhh disinih! Jadi saya jawab sopan, “Okay, thanks yah!” Dalam hati, “Anda adalah ‘a no-no-no friend”-– teman yang tidak bisa dianggap teman, tidak bisa diharapkan sebagai relasi apapun di masa mendatang.

Teman kedua mengirim pesan. Dia teman lama dari perkumpulan ibu-ibu di sekolah, sering berjumpa beberapa kali dan kami cukup akrab. Ia mengajak saya berjumpa di sebuah warung kopi ternama, membelikan secangkir kopi susu dan mengungkapkan keinginannya untuk membuat website online. Saya langsung mendukung dan akan coba bantu membuatnya kapan saja dia inginkan. Sama sekali tidak ada pemaksaan, tidak ada aura BU (butuh uang) yang menggebu dan menjadikan teman-temannya obyek jualan. Dengan kemampuan intelektualitas tinggi, mengerti cara bersosialisasi, ia mampu berstrategi melakukan pendekatan secara elegan. Tidak membabi-buta. Mau usaha juga punya modal, bukan modal dengkul dan sekedar omongan. Yang dijual barang berkualitas baik pula, dengan harga pantas. Bukan barang rombeng dijual mahal demi mendapat keuntungan maksimal. Owgh ya, … sebenarnya ada penawaran ketiga. Teman baru, seorang gadis muda yang menawarkan saya untuk membeli sabun bermerk. Harganya relatif murah, penawaran ini ingin saya sambut. Pertama kasihan. Kedua sabun kan kepake buat mandi, biar nggak bau! Tapi…suami sudah mendengus kesal. Sssst,...jangan bilang-bilang dia, saya tetap ingin beli!

Facebook Comments
Telah dibaca 62 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

4 comments

  1. katedrarajawen

    Pengalaman pertemanan yang menarik ya Ci Jo, memang menyebalkan kalau teman datang karena ada maunya, memang tidak harus selalu antipati, cuma itu kalau maunya cuma jualan, habis itu lari yaaaaa…

  2. yah, kadang saya juga lama banget ndak kelihatan di media sosial tertentu… sibuk berbenah dan berberes ini-itu di belakang layar, tau-tau muncul jualan juga (tulisan, buku, desain, dll)… masalahnya, kan ndak selalu membuntuti status teman kemanapun dia pergi karena prioritas… seperti ndak selalu nulis disini pula… ada referensi:
    http://bisnis.liputan6.com/read/477379/5-cara-menjual-tanpa-terlihat-seperti-menjual

    susah memang kalo sudah kepepet duit http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

    • jualan sih sah-sah aja tapi ke konsumen yang membutuhkan barang tersebut…bukan asal nodong ke teman atau saudara yg tidak butuh ‘dibikin merasa nggak enak kalau nggak beli’– thats my point…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif