Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Warisan Turun Temurun

Warisan Turun Temurun

Sebenarnya apa sih hal yang paling berharga yang diwariskan oleh orang tua kita? Saya pikir adalah diri kita sendiri, keseluruhannya ‘who I am to the world’ — siapa kita pada dunia. Apakah kita kontribusi yang baik bagi dunia ini? Ataukah kita kontribusi yang buruk? Dengan nalar sehat pastinya kita ingin menjadi kontribusi yang baik bagi dunia. Ingin menjadi penemu barang aneh! Ingin menjadi artis populer! Ingin menjadi pemuka agama tersohor! Ingin menjadi konglomerat! Ingin menjadi penulis terkenal! Tetapi kalau semua itu rasanya ‘ketinggian’ pada level apa kita menurunkan keinginan kita? Ya sudah, ….pada level apa adanya diri kita sajah!

parentAkhir-akhir ini saya sering bertengkar dengan putri semata-wayang saya. Padahal dulu jarang bahkan tidak pernah. Usianya memang beranjak dari anak-anak, menjadi remaja. Seperti de ja vue. Saya melihat diri saya ada pada diri putri saya. Bantahan dan segala argumen saya pada ibu, seperti cermin melihat gaya bantahan putri saya kepada diri saya. It was a nightmare! Itu seperti mimpi buruk ketika dulu kita membantah orang tua dan kesal karena terlalu dibatasi. Sekarang kejadian yang sama berlaku pula, anak sendiri gemar membantah dan keberatan jika dibatasi. Di keluarga saya dan suami, tidak dibiasakan anak-anak membantah atau diacuhkan perilakunya oleh orang-tua. Cukup menyita energi karena saya tidak terlalu hobby marah-marah. Akhir-akhir ini saya terbiasa acuh dan masa bodoh. Bahkan menasehati suami sendiri juga kadang enggan. Capek! Satu-satunya kemarahan yang masih saya implementasikan dalam hidup ini hanyalah kepada putri saya.

Sering saya menjerit. Heran. Bagaimana orang lain bisa punya anak yang penurut? Lalu hati kecil saya juga membantah. Terlalu penurut juga tidak baik. Too mainsteram or too phony... terlalu umum atau bahkan terlalu munafik. Somehow pemberontakan memang menghasilkan kreativitas. Tetapi pemberontakan usia 15-25-35-45 dan seterusnya pasti berbeda. Tidak bisa disamakan. Semakin bertambah usia, pemberontakan yang dilakukan akan lebih hati-hati dan banyak pertimbangan. Semakin muda usia, pemberontakan yang dilakukan terkadang ngawur, liar dan emosi semata. Itulah mengapa di keluarga tidak dibiasakan adanya anak-anak atau orang muda yang berani atau kurang ajar pada orang yang lebih tua. Dan sekalipun hal ini menguras energi terpaksa dilakukan. Benturan-benturan akan terus terjadi hingga terbentuk sebuah pola komunikasi yang lebih baik dan lebih sempurna. Beberapa teman sesama ibu-ibu mengatakan, harap maklum memang umurnya sedang tahap memberontak. Hati saya sendiri berkata mungkin masalah hormonal juga? Ada kaitan dengan munculnya banyak jerawat? Whatever, ...punya anak melelahkan untuk masalah tanggung-jawab pembentukan karakternya.

Berikut ini beberapa hal yang sering saya ulang-ulang dan tekankan pada putri saya.

  • The Attitude of Gratitude

Artinya sikap yang selalu menunjukkan rasa berterima-kasih dan bersyukur. Dulu ibu juga mengajarkan hal ini kepada saya melalui pertengkaran dan perselisihan yang berulang. Melalui teriakan dan hardikan. Kalau diberi apapun oleh siapapun, tunjukkan sikap yang bersyukur dan berterima-kasih. Karena yang memberi pastinya akan merasa senang dan dihargai ketika si penerima menunjukkan sikap bersyukur. Hal itu membuat si pemberi tidak kapok dan akan selalu ingat untuk memberi lebih banyak lagi. Sehingga yang mampir dalam kehidupan kita adalah keberuntungan terus-menerus. Pemberian yang terus menerus. Bukan sekedar barang, bisa saja perhatian, ingatan, nasihat. Apapun itu. Berterima-kasihlah bahwa ada orang yang selalu mendampingi dan memperhatikan kita.

  • Manners Matters

Sopan santun adalah hal yang mutlak. Orang yang kasar, serabutan, mendesak, garang, tidak akan terlalu mendapat banyak simpati. Sekalipun mendapat simpati, ia harus membayar untuk itu. Bisa jadi ia adalah boss atau pucuk pimpinan sehingga orang ‘terpaksa’ menghormatinya. Semakin santun seseorang semakin sulit dijangkau oleh musuh-musuhnya yang emosional. Seperti permata yang diasah hingga berkilau, demikian pula sikap seseorang yang sangat mengerti adat dan kesopanan. Mengerti cara menempatkan dan membawa diri dalam pergaulan. Apakah suku atau ras menentukan perangai kesopanan seseorang? Berdasarkan pengalaman pribadi ternyata tidak! Beberapa teman dekat yang berasal dari suku Batak yang dikenal keras ternyata justru orang-orang yang paling penuh sopan santun. Sementara beberapa teman yang berasal dari suku di pulau Jawa justru saya rasakan agak kasar. Tetapi ini hanya pendapat subyektif. Pengalaman pribadi. Saya pikir didikan orang tua berpengaruh besar.

  • Respect Your Parents

Ini hal yang paling krusial. Ketika seorang penjahat kriminal yang paling sadis pun masih memiliki rasa takut pada ibu atau ayahnya, maka masih ada harapan jiwanya diselamatkan. Ada seseorang yang akan ia dengar nasihatnya. Tetapi ketika pada orang tua saja sudah tidak mau mendengar atau justru melawan/ bertindak kasar. It was a long-long way to heaven, perjalanan yang sangat jauh menuju surga. Tidak ada harapan! Siapa yang akan didengar nasihatnya? Boro-boro inget Tuhan, ibu sendiri saja dibacok, ayah kandung ditusuk. Itu tajuk berita yang sering saya baca di media-media. Maka sangat penting sejak dini menanamkan rasa takut dan hormat dari anak-anak untuk orang-tuanya. Memang tidak mudah. Tapi harus diusahakan semampunya. Apalagi perubahan jaman membuat pergaulan anak muda masa kini berkembang pesat dan diluar kendali. Pertemanan makin banyak dan makin luas. Pengaruh-pengaruh yang muncul pada anak/remaja makin beragam.

Pada titik ini, saya cuma bisa menghela nafas. Bagaimana cara seseorang yang memiliki banyak anak mengatur waktunya? Mengawasi, menasihati, memberi teladan, menegur, adu argumen dan bahkan bertengkar dengan anak-anaknya? Bagaimana jika anaknya lima? Bagaimana jika anaknya tujuh? Sepuluh? Dulu saya pernah membaca tajuk berita tentang seorang ibu yang membesarkan sepuluh anak dan kesemuanya menyandang gelar sarjana. Wouw! Fantastic! Saya,… menyerah kalah jika demikian Bu!

Facebook Comments
Telah dibaca 76 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Wow, saya jadi merasa beruntung, seumur hidup bisa dikatakan belum pernah mendengar Ibu marah2 sambil berteriak atau Bapak saya, kalau sudah dinasehati tidak menurut juga, Bapak paling bilang : Beruntung saya masih mau marah, kalau sudah waktunya tidak mau marah lagi kamu baru tahu….dalam kata2 itu minimal sedikit menimbullkan kesadaran bahwa kemarahan orangtua tersebut adalah bentuk dari perhatian dan kasih sayangnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif