Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Melawan Kemarahan Ahok

Melawan Kemarahan Ahok

alfido

foto: alfido

Saya heran, banyak sekali yang berkomentar Ahok kasar dan suka marah-marah. Menurut saya kalau memang Ahok ada salahnya ya balas saja didamprat dan dimarah-marahi. Gitu saja kok repot? Saya pikir pasti ada alasannya seorang petinggi negara berani marah-marah dan gebrag meja. Mengomentari Ahok Cina? Do’oh udah bosen banget! Saya sendiri setengah Cina dan agak bosen juga dikait-kaitkan tentang hal ini melulu. Soalnya saya juga nggak tahu apa-apa tentang tradisi Cina. Tapi saya mengerti tipikal lelaki Cina pemarah seperti Ahok punya alasan khusus. Biasanya untuk menempa anggota keluarganya, orang-orang yang dicintainya. Orang yang marah seperti itu karena memiliki perhatian. Sebaliknya justru berhati-hati dengan orang yang selalu bersikap manis. Bisa jadi ada niat memerosokkan kita pada jurang yang dalam. Mengapa? Karena kita tersihir oleh kemanisan sikapnya, tak sadar ketika diajak ke tepi jurang dan didorong hingga terjatuh.

Saya setuju juga bahwa Ahok memang kasar dan mungkin tidak bisa berkomunikasi gaya priyayi atau gaya keluarga kerajaan Inggris atau mau disebut gaya elegan apapun. Pada intinya Ahok kasar. Pertanyaan saya kenapa nggak boleh? Dia mungkin marah dan kasar untuk alasan yang benar. Jadi kenapa musti tersinggung atau memojokkan Ahok dengan sebutan kasar? Kenapa semua orang harus bergaya sama? Bergaya mlintat-mlintut, ngomong muter-muter dari muka ke buntut? Kenapa nggak boleh berbeda? Langsung gebrag meja? Kalau memang marahnya Ahok karena penyakit darah tinggi. Nggak ada salahnya disarankan periksa ke dokter oleh orang-orang terdekatnya. Namun jika marahnya Ahok karena serombongan orang jelas-jelas korupsi didepan mata, lha apa salahnya ya? Bukankah memang sudah sewajarnya dia mencak-mencak jengkel? Mau kerja. Mau bersih. Mau transparan. Namun serombongan orang menghalanginya dan mengatakan, “Ahok nggak cocok jadi gubenur DKI. Terlalu temperamental. Mudah emosi, tidak punya etika dan sebagainya.” Ya sudah yang merasa sanggup menggantikan Ahok siapa? Apakah ada? Kalaupun ada apakah langsung disetujui oleh rakyat? Emang ini negara nenek loe…?

ahok01Jyahh, saya rasa bangsa ini bener-bener buang-buang waktu dalam menata negeri sendiri. Yang namanya carut-marut terus saja dipelihara. Yang dirugikan ya kepentingan seluruh rakyat. Seharusnya bisa maju dan berkembang pesat, yang ada setiap hari kita bertengkar satu sama lain. Yang senang adalah bangsa lain, mereka sibuk bekerja. Fokus meraih target dan siap mengakuisisi kita, khususnya saat kita lemah. Saya memang tidak suka marah-marah. Tapi jika seseorang marah-marah kepada saya, pasti akan saya tanyakan apa alasannya? Jangan berani-beraninya marah-marah tanpa alasan. Pasti akan saya lawan. Makanya lawan saja si Ahok kalau Anda memang punya alasan yang baik untuk melawannya. Namun sungguh lucu ketika Ahok punya alasan bahwa ada yang berniat mencuri uang rakyat milyaran rupiah lalu yang lain berkomentar, “Ahok ini kasar dan suka seenaknya.” Hmmm, mungkin memang sudah saatnya ya para maling digebrag meja! Hla maling ayam saja dihakimi massa, kalau maling-maling uang rakyat milyaran rupiah, yang membiarkan gedung sekolah ambruk ketika ada siswa sedang belajar di dalamnya, mosok nggak boleh digebrag meja?? Duh, masih bagus cuma digebrag meja saja. Harusnya kan langsung dilempar meja! Ups, kok ikut-ikutan kasar kaya Ahok?… He-he. Tuhan, tolonglah agar bangsa kami segera mentas dari segala carut-marut kisruh yang tak perlu. Oya Tuhan, bisa tidak orang-orang jahat bin maling munafik langsung disambar petir saja?? Terima kasih.

Note : menurut saya keren ketika seorang gubenur tereak ‘bajingan loe..’ — seruuu… ada unsur dramanya! luv it! (maap –> otak penulis, hehe… )

Facebook Comments
Telah dibaca 168 x , hari ini 1 x

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    hahha seram juga ya kalau bisa kesamber petir, ci Johttp://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
http://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif